Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Danau di Veneto, Italia
Danau di Veneto, Italia (pexels.com/Duc Tinh Ngo)

Intinya sih...

  • Air mengaktifkan sistem saraf parasimpatik, menurunkan stres dan kewaspadaan berlebih.

  • Ritme gerakan air mudah diterima otak, tidak menuntut perhatian intens dan membuat kita rileks secara mental.

  • Suara air memiliki efek white noise alami, membantu menutupi suara lain yang mengganggu dan menurunkan tingkat stres.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah merasa pikiran mendadak lebih tenang saat memandangi laut, danau, atau sungai? Bahkan sekadar melihat air mengalir di video pendek sering kali cukup untuk membuat napas terasa lebih ringan. Sensasi ini bukan sekadar perasaan subjektif. Dalam sains, ada penjelasan mengapa air memiliki efek menenangkan bagi manusia, dan salah satu konsep yang paling sering dibahas adalah Blue Mind Theory.

Istilah Blue Mind merujuk pada kondisi mental yang lebih tenang, damai, dan fokus ringan ketika seseorang berada di dekat air. Ternyata, kondisi ini bukan metafora puitis, melainkan respons neurologis yang dapat diukur. Ketika manusia berinteraksi dengan air, otak cenderung bergeser dari mode stres ke mode relaksasi. Lantas, mengapa pemandangan air membuat seseorang merasa rileks? Berikut alasannya.

1. Air mengaktifkan sistem saraf parasimpatik

ilustrasi relaksasi di dalam air (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Secara biologis, air memengaruhi sistem saraf kita. Dijelaskan Blue Cross Blue Shield of Michigan, lingkungan air membantu menurunkan aktivitas sistem saraf simpatik yang berkaitan dengan stres dan kewaspadaan berlebih. Sebaliknya, tubuh lebih mudah mengaktifkan sistem saraf parasimpatik, yaitu sistem yang bertugas menenangkan tubuh. Efeknya bisa berupa detak jantung yang lebih stabil, otot yang lebih rileks, dan pikiran yang tidak terlalu tegang.

2. Ritme gerakan air mudah diterima otak

ilustrasi gelombang laut di pantai (pexels.com/Yudha Dwiyoko Putra)

Salah satu faktor penting dari air adalah pola geraknya. Gelombang laut, aliran sungai, atau riak danau bergerak dengan ritme yang berulang dan relatif mudah diprediksi. Otak manusia menyukai pola semacam ini karena tidak menuntut perhatian intens. Air menarik perhatian kita dengan cara yang lembut, bukan memaksa. Inilah yang membuat kita bisa memandang air cukup lama tanpa merasa lelah secara mental.

3. Suara air punya efek white noise

Pemandangan air terjun (pexels.com/Gerhard Lipold)

Tak hanya visual, suara air juga memainkan peran besar. Dilansir Institute for Energy Research and Education (IERE), suara air memiliki efek mirip white noise alami. Bunyi yang konsisten dan tidak tajam ini membantu menutupi suara lain yang mengganggu, sehingga otak tidak perlu terus-menerus memilah rangsangan. Dalam kondisi ini, tubuh lebih mudah masuk ke keadaan rileks dan tingkat stres pun menurun.

4. Berada di sekitar air mengurangi beban kognitif

Sungai di Kota Potes, Spanyol (pexels.com/Paulino Acosta Santana)

Menariknya, efek menenangkan air tidak berhenti di tingkat fisiologis. Ada dampak psikologis yang sama kuatnya. Berada di dekat air dapat mengurangi beban kognitif dan membantu pemulihan perhatian. Lingkungan air sering kali terasa lebih terbuka dan lapang, memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat dari tuntutan fokus yang terus-menerus kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

5. Insting manusia yang selalu membutuhkan air

ilustrasi wanita duduk di tepi danau (pexels.com/Veronika Bykovich)

Air juga kerap diasosiasikan dengan rasa aman dan kenyamanan. Artikel World Economic Forum menjelaskan bahwa sepanjang sejarah manusia, air selalu menjadi elemen penting bagi kehidupan, yaitu sebagai sumber minum, pangan, dan tempat menetap. Meski kita hidup di era modern, otak masih membawa respons dasar tersebut. Kehadiran air secara tidak sadar dibaca sebagai sinyal lingkungan yang mendukung kelangsungan hidup, sehingga memicu rasa tenang.

Di tengah ritme hidup yang serba cepat dan penuh distraksi digital, pemandangan air menawarkan jeda yang jarang kita dapatkan. Entah itu berjalan di tepi pantai, duduk di pinggir danau, atau sekadar mendengarkan suara hujan, momen-momen ini membantu otak keluar sejenak dari mode siaga. Bukan tanpa alasan jika pemandangan air membuat seseorang merasa rileks, ini dikarenakan secara sains, tubuh dan pikiran sedang diajak untuk benar-benar beristirahat. Apakah kamu pernah merasakan pengalaman ini juga?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team