Pada tahun 1915, negara pulau Haiti berada dalam kekacauan sosial, politik, dan ekonomi. Kekuatan Eropa memasuki Perang Dunia Pertama, dan Amerika Serikat ingin menopang kekuatan mereka di sekitar Karibia. Menurut Kantor Sejarawan Departemen Luar Negeri AS, antara 1911 dan 1915, tujuh presiden Haiti dibunuh atau digulingkan, yang membuat Presiden Woodrow Wilson mengirim Marinir AS ke Haiti pada Desember 1914. Pada 1915, presiden lainnya membawa AS untuk memulai pendudukan selama 19 tahun di Haiti.
Pendudukan Haiti mengakhiri pemerintahan dan kemerdekaan mereka selama lebih dari satu abad dan menjadi negara yang diperbudak. Pada tanggal 1 Januari 1804, setelah 13 tahun revolusi melawan kolonial mereka di Prancis, Haiti menyatakan kemerdekaan, menjadi negara kulit hitam merdeka pertama di Belahan Barat.
Menurut Brown University, Prancis dan kekuatan kolonial lainnya saat itu, termasuk Amerika Serikat, berusaha mengisolasi Haiti agar tidak terjadi pemberontakan budak lebih lanjut di negara tersebut. Akibatnya, Haiti harus ganti rugi sekitar 100 juta franc ke Prancis, kolonial yang membuat negara muda itu mengalami kemiskinan.
Dikutip laman The New Yorker, pendudukan AS penuh dengan kekerasan, terutama terhadap penduduk asli Haiti. Selama hampir dua dekade pendudukan, 15.000 orang Haiti tewas. Upaya konstruksi di negara itu dilakukan melalui kerja paksa. Amerika Serikat menarik pasukan mereka pada tahun 1934, AS juga mengendalikan keuangan negara tersebut hingga tahun 1947.