Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Sejarah Antakya, Kota Penting dalam Penyebaran Agama Kristen
suasana kota antakya (commons.wikimedia.org/Chanilim714)

  • Antakya berawal dari pemukiman bangsa Yunani, dipindahkan oleh Seleucus I Nicator untuk mendapat tambahan pasukan dari bangsa Yunani.

  • Di bawah Kekaisaran Romawi, Antakya mencapai puncak kejayaannya sebagai kota penting dan menjadi kota Romawi termaju setelah Roma dan Alexandria.

  • Antakya beberapa kali diguncang gempa di era Romawi, terletak di persimpangan tiga lempeng tektonik sehingga rentan terjadi gempa bumi besar.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Turki merupakan salah satu negara yang terletak di persimpangan dua benua besar yaitu Asia dan Eropa. Karena letak geografisnya, Turki memiliki sejarah panjang dengan pertemuan berbagai bangsa seperti Yunani, Romawi, juga Arab. Selain Istanbul sebagai ibukota Romawi Timur, ada kota bersejarah lainnya di Turki yang juga tak kalah menarik yaitu Antakya.

Terletak di Turki bagian selatan dan dekat dengan perbatasan Suriah, Antakya berstatus sebagai ibukota Provinsi Hatay. Antakya, yang dulu dikenal sebagai Antioch, adalah salah satu tujuan wisata populer karena kekayaan budaya, sejarah, juga keindahan pantai serta pemandangan pegunungan.

Artikel ini akan mengulas beberapa fakta sejarah Antakya sebagai sebuah kota yang sudah berusia lebih dari 2000 tahun. Mari kita lihat selengkapnya di uraian berikut ini!

1. Antakya berawal dari pemukiman bangsa Yunani

Sungai Orontes di Antakya (picryl.com/Library of Congress)

Ketika Alexander the Great meninggal pada 323 SM, dirinya belum sempat menunjuk sosok yang akan menjadi penerus tahta Kerajaan Makedonia. Karena itu, para jenderal dan kerabat di sekitarnya saling memperebutkan wilayah yang dikuasai Alexander the Great. Salah satu jenderal yang berada dalam lingkaran perebutan kekuasaan ini adalah Seleucus I Nicator.

Setelah serangkaian konflik dan peperangan, Seleucus I Nicator mendapatkan seluruh kawasan Babylonia dan mendirikan Kerajaan Seleukia pada 306 SM. Semula, Seleucus I menjadikan Seleukia di tepian Sungai Tigris sebagai ibukota kerajaannya. Akan tetapi, pada 300 SM, Seleucus I memindahkan ibukota Kerajaan Seleukia menuju Antakya, sebuah daerah di tepian Sungai Orontes.

Penamaan Antakya atau Antioch diambil dari nama ayah dari Seleucus I yaitu Antiochus. Pemindahan ibukota dari Seleukia menuju Antakya merupakan strategi Seleucus I untuk mendapat tambahan pasukan dari bangsa yunani. Lokasi Antakya, yang berhadapan langsung dengan Laut Mediterania, terasa lebih dekat bagi bangsa asli yunani jika dibandingkan dengan kawasan Seleukia di Babylonia.

2. Di bawah Kekaisaran Romawi, Antakya mencapai puncak kejayaannya

Akuaduk Hadrian di Antakya (wikimedia.org/Carole Raddato)

Selama lebih dari dua abad, Antakya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Seleukia. Antakya menjadi titik terakhir jalur perdagangan barang dari seluruh wilayah Asia sebelum menyeberangi Laut Mediterania. Karena lokasinya yang strategis, Republik Romawi mengambil alih Antakya dari Kerajaan Seleukia pada 64 SM.

Di bawah kepemimpinan Pompey the Great, Antakya berstatus ibukota dari Provinsi Syria-Romawi. Meskipun Republik Romawi runtuh lalu digantikan oleh Kekaisaran Romawi, Antakya tetap menjadi kota penting dan bahkan menjadi kota romawi termaju setelah Roma dan Alexandria. Kemajuan Antakya di bawah pemerintahan Kekaisaran Romawi dapat terlihat dari pembangunan aneka kuil megah, kolam pemandian, bendungan, juga amfiteater.

3. Antakya beberapa kali diguncang gempa di era Romawi

reruntuhan kuil di Antakya (wikimedia.org/Carole Raddato)

Walaupun sempat menjadi salah satu kota romawi termaju di masanya, Antakya tetap tidak bisa menandingi kemajuan Roma dan Alexandria. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis Antakya yang rentan diguncang gempa bumi berskala besar. Antakya terletak di persimpangan tiga lempeng tektonik sekaligus yaitu lempeng tektonik Arab, Afrika dan Anatolia.

Sejarah mencatat gempa bumi pertama di Antakya terjadi pada 115 M, tepatnya di masa pemerintahan Kaisar Trajan. Pada 526 M, Antakya kembali diguncang gempa bumi besar yang menghancurkan pelabuhan dan berbagai bangunan publik. Menurut World History Encyclopedia, beberapa kejadian gempa bumi pernah terjadi di masa pemerintahan Kaisar Tiberius, Caligula, Hadrian dan Diocletian.

4. Istilah "Christian" pertama kali muncul di Antakya

patung Santo Petrus (wikimedia.org/Yorkshiremany)

Antakya merupakan salah satu tempat penting dalam sejarah awal agama Kristen. Konon, kota ini menjadi tujuan eksodus para pengikut Yesus dari Yerusalem. Sejarah kerap menyebut Santo Petrus sebagai tokoh penting dalam penyebaran awal agama Kristen di Antakya.

Meski tidak ada tahun pasti terkait kedatangan Santo Petrus di Antakya, agama Kristen diperkirakan sudah ada di kota tersebut antara tahun 29-40 M. Santo Petrus melihat potensi Antakya yang saat itu menjadi salah satu kota romawi termaju dan menjadi ujung barat dari Jalur Sutra. Di kota ini pulalah, istilah "Christian" untuk menyebut pengikut Yesus Kristus pertama kali muncul.

Penyebutan "Christian" menunjukkan percampuran budaya dari bangsa yunani dan romawi yang sudah menghuni Antakya dalam waktu lama. "Christos" adalah sebutan bangsa yunani untuk gelar messiah atau juru selamat milik Yesus, sedangkan akhiran "-ian" berasal dari "-ianus" yang dalam bahasa Latin dan Yunani bermakna pengikut. Sejak saat itu, kata "Christian" digunakan untuk menyebut kaum pengikut Yesus dan membedakannya dari kaum pagan maupun yahudi yang ada di Antakya.

5. Saint Peter Church menjadi saksi perjuangan penyebaran awal agama Kristen di Antakya

Saint Peter Church (wikimedia.org/Volkan Hatem)

Walaupun dipilih sebagai tujuan awal penyebaran agama Kristen, bukan berarti perjuangan Santo Petrus di Antakya berjalan dengan mulus. Antakya sudah terlebih dahulu didominasi oleh kaum pagan dari bangsa yunani dan romawi. Kristen, yang berstatus agama monoteistik, saat itu tidak mudah diterima oleh sebagian besar penduduk Antakya.

Karena kerap mendapat ancaman, Santo Petrus beserta para pengikutnya harus bertemu dan beribadah secara sembunyi-sembunyi. Santo Petrus menjadikan sebuah gua di Antakya sebagai tempat perkumpulan rahasia bagi para pengikutnya. Meski tidak diketahui tanggal pasti pendiriannya, Saint Peter Church di Antakya dikenal sebagai salah satu gereja tua dalam sejarah Kekristenan.

Ketika Constantine the Great memegang kepemimpinan Romawi Timur, Kristen mulai diakui sebagai salah satu agama resmi. Meski tidak berstatus ibukota negara, di bawah kepemimpinan Constantine the Great, Antakya menjadi kota penting dalam kemajuan Kekristenan. Salah satu contohnya adalah School of Antiochia yang menjadi institusi teologi Kristen terkemuka pada abad 4-6 M.

Sejarah gempa bumi besar kembali terulang di Antakya pada tahun 2023. Gempa berkekuatan 7,8 SR tersebut meluluhlantakkan banyak bangunan di Antakya, tak terkecuali situs-situs bersejarah. Menurut data dari Middle East Eye, lebih dari 200 ribu penduduk Antakya masih tinggal di rumah kontainer bersama dengan proses pembangunan kota pasca gempa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team