porselain era Dinasti Qing di Museum Hunan (wikimedia.org/Huangdan2060)
Sebagaimana era-era pemerintahan sebelumnya di Kekaisaran Tiongkok, Dinasti Qing juga masih meneruskan misi ekspansi wilayah ke arah barat. Pertempuran dengan bangsa Rusia dan Mongol pun menjadi bagian tak terhindarkan dari misi tersebut. Hasil dari pertempuran selama puluhan tahun tersebut adalah keberhasilan Dinasti Qing dalam menguasai Tibet, Turkistan, Mongolia Luar, juga Nepal.
Menurut National Museum of Asian Art Smithsonian, Dinasti Qing juga menaruh perhatian pada perkembangan industri keramik. Kedatangan misionaris eropa di masa itu membawa pengaruh terhadap perkembangan seni keramik Tiongkok. Penggunaan pigmen enamel untuk menghasilkan tekstur mengkilat pada keramik merupakan salah satu bentuk inovasi Dinasti Qing yang terinspirasi dari benda-benda berbahan enamel yang dibawa para misionaris.
Meski sempat menguasai Tiongkok selama lebih dari dua abad, suku Manchu masih dianggap sebagai orang asing bagi masyarakat suku Han yang berstatus mayoritas. Kombinasi dari beberapa faktor seperti terjadinya Perang Opium dan berbagai pemberontakan berujung pada runtuhnya Dinasti Qing pada 1912. Runtuhnya Dinasti Qing menandai berakhirnya era Kekaisaran Tiongkok yang sudah berdiri selama lebih dari 2000 tahun.
Saat ini, suku Manchu menjadi kelompok minoritas dengan populasi terbesar kelima di Tiongkok. Sebagian besar masyarakat suku Manchu telah terasimilasi sepenuhnya dengan kebudayaan Tiongkok dan hampir tidak bisa dibedakan dengan suku Han selain dari ciri fisiknya. Menurut sebuah artikel dari Los Angeles Times, diperkirakan hanya tersisa kurang dari 100 penutur asli bahasa manchu yang hidup di salah satu desa di Tiongkok Utara.