Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Suku Manchu, Pendiri Dinasti Terakhir Kekaisaran Tiongkok
foto para perempuan suku manchu (wikimedia.org/ralph repo)
  • Suku Manchu berasal dari wilayah timur laut Tiongkok dan memiliki akar sejarah panjang sebagai masyarakat agraris-pemburu dengan kepercayaan shamanisme sebelum berasimilasi dengan budaya Han.
  • Melalui kekuatan militernya, suku Manchu mendirikan Dinasti Jin pada abad ke-12 dan kemudian mengambil alih kekuasaan Dinasti Ming untuk membentuk Dinasti Qing pada tahun 1644.
  • Di bawah Dinasti Qing, wilayah Tiongkok meluas hingga Tibet dan Mongolia, terjadi interaksi budaya dengan Barat, namun akhirnya runtuh pada 1912 yang menandai akhir era Kekaisaran Tiongkok.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Walaupun didominasi oleh suku Han, Tiongkok sebenarnya merupakan salah satu negara multietnis. Menurut data dari Organisation for Research on China and Asia, sebanyak 8,89 persen populasi penduduk Tiongkok terdiri dari 56 suku minoritas yang tersebar di berbagai daerah. Kamu pasti pernah mendengar beberapa suku minoritas ini seperti Tibet, Uighur, juga Hui.

Di antara 56 suku minoritas tersebut, ada salah satu suku yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Tiongkok, yaitu suku Manchu. Selain suku Mongol yang pernah mendirikan Dinasti Yuan, suku Manchu juga tercatat sebagai suku non-Han yang dapat mengambil alih kekuasaan pada era Kekaisaran Tiongkok. Artikel ini akan mengurai beberapa fakta sejarah terkait asal-usul, budaya, dan pengaruh suku Manchu dalam sejarah Tiongkok.

1. Suku Manchu berasal dari Tiongkok bagian timur laut

peta wilayah Manchuria (wikimedia.org/Christophe cagé)

Suku Manchu konon sudah menghuni kawasan Tiongkok timur laut sejak masa pra-sejarah. Penamaan wilayah Manchuria, yang merupakan daerah asli suku Manchu, tak lain diambil dari nama suku tersebut.

Menurut informasi dari Britannica, kata manchu sebenarnya baru muncul di abad 16. Sebelumnya, mereka disebut dengan berbagai nama seperti "donghui" (orang barbar dari timur), "sushen", "wuji", juga "juchen".

Meski penamaan suku Manchu sudah dikenal sejak abad 16, para ahli sejarah masih belum dapat memastikan arti kata "manchu". Sebagian ahli sejarah mengartikan kata "manchu" berasal dari Manjushri, seorang pengikut Buddha dalam kitab Mahayana. Sumber lain mengatakan "manchu" diambil dari kata "manchun" yang dalam bahasa manchu bermakna sungai.

2. Beternak dan bercocok tanam merupakan kehidupan sehari-hari suku Manchu

gudang penyimpanan kedelai di Manchuria (picryl.com/Wikimedia Commons)

Dikutip dari World History Encyclopedia, suku Manchu merupakan keturunan dari kaum nomaden tungus dan penduduk Kerajaan Balhae yang pernah berdiri di Manchuria. Sebagai masyarakat agraris-pemburu, area pemukiman suku manchu berada di antara dua aliran sungai dan terlindungi oleh tembok-tembok kecil yang mengelilinginya.

Orang-orang manchu juga dikenal sebagai peternak handal, khususnya kuda. Sejak abad ke-11, usaha ekspor ribuan kuda telah menjadi sumber kekayaan bagi masyarakat suku Manchu.

Suku Manchu memiliki kemampuan beradaptasi sesuai tempat tinggalnya. Mereka yang tinggal di sisi tengah dan utara Manchuria biasanya masih mempertahankan budaya aslinya seperti beternak kuda, bercocok tanam dan berburu. Adapun suku Manchu yang tinggal berbatasan dengan wilayah Kekaisaran Tiongkok akan mengikuti kebiasaan sehari-hari layaknya suku Han.

Mengutip dari Thoughtco, kepercayaan asli suku Manchu adalah shamanisme. Melakukan persembahan untuk roh leluhur serta ritual-ritual tarian merupakan bagian tak terpisahkan dalam upacara peribadatan suku Manchu. Akan tetapi, seiring dengan semakin intens-nya interaksi dengan suku han, Konfusianisme serta Buddha mulai dianut oleh sebagian besar masyarakat suku Manchu.

3. Berdirinya Dinasti Jin pada abad 12 membuktikan kemampuan suku manchu dalam bidang pemerintahan

patung Buddha di masa Dinasti Jin (wikimedia.org/Nyarlathotep1001)

Berawal dari masyarakat agraris, suku Manchu dapat membuktikan dominasinya di Tiongkok Utara. Pada tahun 1115, suku Manchu berhasil merebut seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Liao dan mendirikan pemerintahannya sendiri yaitu Dinasti Jin. Kekaisaran Tiongkok, yang saat itu berada di bawah Dinasti Song, pun harus kehilangan sebagian wilayahnya di bagian utara akibat serangan suku Manchu.

Mengutip dari Britannica, Dinasti Jin menganut dua sistem administrasi yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat di kawasan tersebut. Untuk mengawasi suku-suku nomaden di sisi utara, Dinasti Jin memberlakukan sistem komunitas adat. Adapun sistem birokrasi terstruktur ala Kekaisaran Tiongkok digunakan untuk masyarakat yang menetap di sisi selatan.

Untuk menjaga kelestarian budaya suku Manchu, Dinasti Jin melarang penggunaan bahasa mandarin serta pakaian tradisional Tiongkok. Kekuasaan Dinasti Jin berakhir pada 1234 ketika bangsa Mongol di bawah kepemimpinan Gengis Khan menguasai seluruh Manchuria.

4. Walau berstatus minoritas, suku manchu memiliki andil dalam keruntuhan Dinasti Ming

ilustrasi kantor militer era Dinasti Qing (wikimedia.org/Livewireshock)

Dinasti Ming merupakan dinasti terakhir Kekaisaran Tiongkok yang didirikan oleh suku Han. Setelah bencana banjir dan kelaparan yang melanda Tiongkok, serangkaian pemberontakan untuk menggulingkan pemerintahan Dinasti Ming terus terjadi sejak 1630. Puncaknya, pada tahun 1644, ibukota Beijing berhasil dikuasai kaum pemberontak.

Merasa terdesak, jajaran pejabat Dinasti Ming meminta bantuan pasukan bersenjata dari suku Manchu untuk menyingkirkan kaum pemberontak. Situasi ini dengan baik dimanfaatkan oleh suku Manchu untuk mengusir kaum pemberontak, mengambil alih Beijing, serta mengumumkan berdirinya Dinasti Qing.

Dalam hal birokrasi pemerintahan, Dinasti Qing masih mempertahankan sistem yang sudah berlaku sejak era Dinasti Ming. Meski begitu, terdapat kuota pejabat tinggi khusus suku manchu sebanyak 50 persen untuk memastikan pemerintahan Dinasti Qing tetap berada di bawah kendali suku Manchu, dikutip dari Britannica.

5. Di bawah pemerintahan Dinasti Qing, wilayah Kekaisaran Tiongkok semakin meluas dan lebih terbukanya interaksi dengan budaya Barat

porselain era Dinasti Qing di Museum Hunan (wikimedia.org/Huangdan2060)

Sebagaimana era-era pemerintahan sebelumnya di Kekaisaran Tiongkok, Dinasti Qing juga masih meneruskan misi ekspansi wilayah ke arah barat. Pertempuran dengan bangsa Rusia dan Mongol pun menjadi bagian tak terhindarkan dari misi tersebut. Hasil dari pertempuran selama puluhan tahun tersebut adalah keberhasilan Dinasti Qing dalam menguasai Tibet, Turkistan, Mongolia Luar, juga Nepal.

Menurut National Museum of Asian Art Smithsonian, Dinasti Qing juga menaruh perhatian pada perkembangan industri keramik. Kedatangan misionaris eropa di masa itu membawa pengaruh terhadap perkembangan seni keramik Tiongkok. Penggunaan pigmen enamel untuk menghasilkan tekstur mengkilat pada keramik merupakan salah satu bentuk inovasi Dinasti Qing yang terinspirasi dari benda-benda berbahan enamel yang dibawa para misionaris.

Meski sempat menguasai Tiongkok selama lebih dari dua abad, suku Manchu masih dianggap sebagai orang asing bagi masyarakat suku Han yang berstatus mayoritas. Kombinasi dari beberapa faktor seperti terjadinya Perang Opium dan berbagai pemberontakan berujung pada runtuhnya Dinasti Qing pada 1912. Runtuhnya Dinasti Qing menandai berakhirnya era Kekaisaran Tiongkok yang sudah berdiri selama lebih dari 2000 tahun.

Saat ini, suku Manchu menjadi kelompok minoritas dengan populasi terbesar kelima di Tiongkok. Sebagian besar masyarakat suku Manchu telah terasimilasi sepenuhnya dengan kebudayaan Tiongkok dan hampir tidak bisa dibedakan dengan suku Han selain dari ciri fisiknya. Menurut sebuah artikel dari Los Angeles Times, diperkirakan hanya tersisa kurang dari 100 penutur asli bahasa manchu yang hidup di salah satu desa di Tiongkok Utara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team