Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
12 Tragedi yang Akan Terjadi jika Semua Terumbu Karang Punah
ilustrasi karang memutih (pexels.com/Maahid Photos)

Sering kali, umat manusia menunjukkan kehadirannya sebagai makhluk yang suka merusak dan membahayakan nyawa makhluk hidup lain. Salah satunya adalah pemandangan yang terkadang ditemukan oleh penyelam, yaitu terumbu karang yang warna alaminya sudah terkikis akibat mengalami kerusakan, atau memutih.

Di samping itu, ada dua jenis karang, yang dinamai berdasarkan karakteristik fisiknya. Ada karang keras atau berbatu, yang cenderung mirip seperti batu. Lalu ada pula karang lunak, yang sering dikira tumbuhan oleh penyelam. Namun, karang bukan tumbuhan, ya, melainkan hewan.

Dikutip Flip Science, invertebrata ini merupakan bagian dari filum yang sama dengan ubur-ubur, dan tidak dapat bergerak sendiri. Karang keras dapat membentuk terumbu karang, yang merupakan struktur masif untuk menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi organisme lain (bahkan karang lunak). Jadi simpelnya gini, jika terumbu karang rusak atau mati, maka organisme hidup lain akan terganggu. Nah, efeknya juga domino. Berikut ini kita akan membahas apa yang terjadi jika semua terumbu karang mati.

1. Sekitar seperempat kehidupan laut tidak punya tempat untuk bertahan hidup

terumbu karang (pixabay.com/joakant)

Live Science melansir kabar bahwa total ruang yang dihuni oleh terumbu karang di seluruh dunia itu hanya kurang dari 1 persen, nih. Meskipun demikian, terumbu karang merupakan sumber makanan dan tempat berlindung bagi beragam flora dan fauna laut. Yap, sedemikian rupa, sehingga hilangnya terumbu karang secara mendasak akan membuat sekitar 25 persen spesies laut di Bumi kehilangan tempat tinggal.

Bayangkan saja, terumbu karang adalah rumah bagi banyak spesies tumbuhan dan hewan laut. Penghuninya mencakup lebih dari 4.000 jenis ikan dan sekitar 700 spesies karang, seperti yang dikutip Coral Reef Alliance. Penyu laut, ikan badut, siput laut, kerapu, ikan kakatua, alga, dan lamun hanyalah beberapa spesies yang akan kehilangan habitatnya. Mereka kemungkinan punah jika seluruh terumbu karang di dunia mati. Yap, seperti serangga, jika anggota terkecil dari rantai makanan punah untuk selamanya, bukan tidak mungkin spesies yang lebih besar yang memakannya akan mengalami hal yang sama.

2. Laut akan kehabisan ikan dan profesi nelayan ikut punah

nelayan (pixabay.com/Dimitris Vetsikas)

Saat ini, spesies ikan, moluska, krustasea, dan sumber makanan laut lainnya, hidup dan berkembang di terumbu karang. Hal ini menjadikan terumbu karang sebagai struktur bawah laut yang punya peranan penting bagi industri perikanan.

Faktanya, di Asia Tenggara, Conservation Gateway mengatakan bahwa ikan yang bergantung hidup pada terumbu karang, menghasilkan keuntungan sebesar 2,4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp40 triliun per tahun. Itu berarti, setengah miliar orang dari berbagai negara termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina, mencari nafkah dengan cara menjadi nelayan. Jadi, hilangnya terumbu karang dunia berarti umat manusia akan kehilangan mata pencahariannya.

3. Umat manusia akan kekurangan makanan laut yang menyumbang 20 persen sumber protein

ikan yang dijual di pasar (pexels.com/Doğan Alpaslan Demir)

Jika terumbu karang punah, spesies yang bergantung padanya untuk berlindung dan hidup akan punah juga, cepat atau lambat. Nah, karena spesies tersebut sering kali menjadi santapan manusia, kekurangan pangan pun akan menjadi masalah serius. Hasil tangkapan ikan para nelayan akan mengalami penurunan, baik di tingkat komersial maupun komunitas.

Menurut Coral Reef Alliance, sekitar satu miliar orang bergantung pada ikan dan organisme laut penghuni terumbu karang untuk memenuhi kebutuhan protein mereka. Satu orang mengonsumsi sekitar 22,5 kilogram makanan laut setiap tahunnya. Itu berarti, porsi makanan laut menyumbang sebesar 20 persen sebagai makanan berprotein yang dikonsumsi manusia. Kebetulan, sebagian besar ikan ini berasal dari spesies laut yang hidup di terumbu karang. Jadi bisa diprediksi bahwa kekurangan pangan akan menjadi tantangan besar di beberapa wilayah di dunia.

4. Meningkatnya kebutuhan pangan di industri pertanian

industri pertanian (pexels.com/Mark Stebnicki)

Jadi, jika produksi pangan laut tak lagi mampu memberi makan miliaran orang di Bumi ini, pertanian yang memanfaatkan lahan tidak punya pilihan selain mengisi kekosongan tersebut. Sebenarnya pertanian dan peternakan juga bukan solusi. Pasalnya, jika itu terjadi, krisis pangan akan terjadi besar-besaran.

Adapun, dengan pertumbuhan populasi manusia, permintaan akan pangan terus meningkat. Nah, jika pangan hanya mengandalkan pertanian untuk menopang populasi global, tentunya para petani akan membutuhkan lebih banyak lahan, kan. Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan lahan dalam hal degradasi dan polusi tanah, sebagaimana yang diungkapkan National Geographic.

Jadi gini, peternakan membuang residu agrokimia dalam jumlah besar dan bahkan obat-obatan, seperti pemacu pertumbuhan dan antibiotik untuk hewan ternak. Tentu hal ini sangat merusak lingkungan.

Selain itu, meningkatnya industri pertanian, tentu saja membutuhkan ekstraksi air yang lebih banyak lagi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Food and Agriculture Organization (FAO), saat ini pertanian membutuhkan 70 persen air dunia, yang kemungkinan akan meningkat sebesar 15 persen pada tahun 2050. Bayangkan berapa banyak air yang dibutuhkan untuk memberi makan penduduk dunia jika ikan laut sebagai sumber pangan manusia hilang karena punah.

5. Industri pariwisata di seluruh dunia akan sepi

industri pariwisata pesisir (pexels.com/Asad Photo Maldives)

Industri perikanan bukan satu-satunya yang akan terdampak jika terumbu karang punah. Pariwisata internasional juga akan sangat terdampak, nih. Sebagaimana yang dilansir Business Insider, lebih dari seratus negara dan wilayah di seluruh dunia menarik wisatawan karena keindahan terumbu karangnya, termasuk Indonesia. Pasalnya, industri pariwisata dan perikanan dapat menyediakan lapangan kerja dan menghasilkan pendapatan bagi warga sekitar.

Penelitian menunjukkan bahwa industri yang berkaitan dengan terumbu karang menyumbang lebih dari 50 persen produk nasional bruto di masing-masing negara. Berdasarkan proyeksi yang dikutip oleh Forum Ekonomi Dunia, tingkat pertumbuhan global pariwisata di pesisir dan bahari berada di kisaran 3,5 persen. Nah, dengan tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi ini, sektor ekonomi kelautan dunia akan menyumbang lebih dari seperempat dari total nilainya pada tahun 2030.

Namun, jika terumbu karang benar-benar lenyap dari muka Bumi, pariwisata pesisir dan bahari tentu akan turun secara signifikan (lebih spesifiknya, sekitar 36 miliar dolar AS atau setara dengan Rp601 triliun, berdasarkan angka dari Business Insider. Oleh karena itu, bagi masyarakat yang mata pencahariannya bergantung pada pariwisata pesisir, berkurangnya populasi terumbu karang di seluruh dunia dapat mengakibatkan pengangguran dan kelaparan.

6. Keselamatan penduduk yang tinggal di pesisir pantai akan terancam akibat tsunami

rumah penduduk di pesisir pantai (pexels.com/Mikhail Nilov)

Terumbu karang tidak hanya menyediakan tempat berlindung bagi spesies laut, tapi juga membantu organisme darat bertahan hidup dari bencana alam. Nah, karena posisi karang keras, ia dapat melindungi garis pantai dari gelombang besar. Terumbu karang juga berfungsi sebagai perisai alami terhadap angin kencang dan gangguan cuaca ekstrem. Hal ini membantu melindungi warga pesisir dari siklon berbahaya sekaligus mengurangi risiko banjir dan erosi secara signifikan.

Terumbu karang merupakan pertahanan yang sangat efektif untuk mencegah tsunami mencapai garis pantai, kekuatan keseluruhannya dapat berkurang hingga 97 perseb. Setidaknya 200 juta orang yang tinggal di sepanjang garis pantai bergantung pada terumbu karang untuk mendapat perlindungan, menurut laporan WWF tahun 2018.

Jika terumbu karang lenyap, kota-kota, komunitas, dan bahkan seluruh negara dapat tenggelam, lho. How Stuff Works menambahkan bahwa selain kekurangan makanan dan sumber daya, kekacauan politik juga akan menyusul, karena seluruh wilayah akan lenyap dari muka Bumi. Wah! Seram, ya, dampaknya.

7. Para ilmuwan akan kehilangan banyak penemuan untuk menyelamatkan nyawa manusia

Conus geographus di Papua Nugini (commons.wikimedia.org/Kai Squires)

Berkat ekosistem terumbu karang yang sangat beragam, formasi bawah laut ini menjadi wilayah yang subur bagi penemuan-penemuan medis. Menurut Coral Reef Alliance, terumbu karang menyediakan berbagai senyawa yang digunakan para ilmuwan untuk pengobatan, termasuk pengobatan kanker tertentu. Faktanya, lebih dari separuh studi pengobatan kanker saat ini dibantu oleh spesies laut. Salah satu contohnya adalah sejenis nudibranch atau siput laut, invertebrata kecil dan berwarna-warni yang berkerabat dengan siput. Penghuni terumbu karang lainnya, seperti siput kerucut, memiliki senyawa untuk membantu pengembangan banyak obat di masa depan.

Nah, dari mengobati penyakit jantung, tukak lambung hingga membasmi patogen mematikan, para ahli kelautan dan ilmuwan farmasi telah memanfaatkan kekayaan obat dari terumbu karang untuk menyembuhkan banyak penyakit yang diderita manusia, nih. Pencangkokan tulang juga meningkat pesat berkat terumbu karang. Pasalnya, pada tahun 2013, Science Daily melaporkan bahwa eksoskeleton karang sedang dipelajari dan disempurnakan untuk digunakan dalam prosedur pencangkokan tulang manusia. Tidak heran jika terumbu karang dijuluki "peti obat laut."

Banyak ahli percaya bahwa masih banyak yang bisa ditemukan dari terumbu karang dalam hal pengobatan. Bahkan, mungkin ada 400 kali lebih banyak inovasi dan pengobatan medis yang menunggu untuk diungkap dari karang. Yap, tapi jika karang tidak punah, ya!

8. Snorkeling atau diving tak lagi diminati

kegiatan snorkeling (pexels.com/Martin Hungerbühler)

Tidak ada tempat di dunia yang seindah ekosistem terumbu karang yang penuh dengan beragam kehidupan biota laut. Terumbu karang yang kelihatan warna-warni saja sudah lebih dari cukup untuk menjadi daya tarik bagi penyelam dan pecinta alam. Bayangkan betapa banyaknya spesies yang mencari makan dan berlindung di terumbu karang—kawanan ikan yang besar, karang lunak berwarna-warni, tumbuhan air, penyu, kepiting, bintang laut, belut, dan masih banyak lagi.

Jadi tidak heran jika sekitar satu juta penyelam scuba mendaftar sertifikasi setiap tahunnya, menurut Asosiasi Profesional Instruktur Selam. Coba kamu bayangkan, deh, jika semua terumbu karang punah. Pastinya penyelam tidak akan tertarik lagi untuk menjelajahi keindahan lautan.

Namun, harus diingat juga, nih. Menyelam (diving atau snorkeling) untuk pemula dan tanpa pengawasan juga berkontribusi besar terhadap kerusakan terumbu karang, lho. Program Lingkungan Hidup PBB menyatakan bahwa hampir 90 persen penyelam, merusak terumbu karang ketika melakukan aktivitas ini. Jika penyelam secara tidak sengaja menendang karang, atau malah sengaja mengukir nama di karang, mematahkannya dengan dalih kenang-kenangan, kualitas kehidupan di ekosistem terumbu karang akan menurun secara signifikan. Jadi jangan sembarangan, ya!

9. Lautan akan kekurangan mikroorganisme karena dipenuhi dengan ubur-ubur

ubur-ubur di laut (pexels.com/Evija Ciematniece)

Seperti yang dijelaskan Reef-World Foundation, jika suatu terumbu karang mati dan rangka luarnya yang keras pecah, alga dan berbagai mikroba akan menyebar ke seluruh dasar laut, dan ini ditopang oleh sinar matahari. Fenomena ini membuat organisme-organisme tersebut menghasilkan banyak lendir, yang secara signifikan memengaruhi kualitas air. Hal ini juga secara tidak sengaja akan menyebabkan lonjakan populasi ubur-ubur. Disinilah efek domino terjadi, membuat seluruh rantai makanan menjadi tidak seimbang.

Kawanan ubur-ubur yang mendominasi lautan akan melahap banyak mikroorganisme. Akibatnya, mikroorganisme berkurang dan biota laut lainnya jadi kekurangan sumber makanan. Oh, satu lagi. Manusia juga akan terdampak oleh hal ini. Yap, lonjakan populasi ubur-ubur punya dampak buruk terhadap akuakultur dan aktivitas manusia di laut, seperti menyumbat filter pembangkit listrik tenaga nuklir dan membahayakan penambangan di dasar laut.

10. Berkurangnya oksigen untuk menopang kehidupan manusia

terumbu karang (pixabay.com/Francesco Ungaro)

Manusia dan hewan lainnya berutang pada terumbu karang, lho. Dikutip Eco Watch, para ahli memperkirakan bahwa laut hanya memiliki sekitar 0,0025 persen terumbu karang, tetapi terumbu karang mampu menghasilkan sekitar 50 persen oksigen di Bumi. Selain itu, terumbu karang menyerap hampir sepertiga karbon dioksida yang dihasilkan manusia. Dengan kata lain, matinya terumbu karang akan secara signifikan mengurangi oksigen yang dihirup manusia. Di sisi lain, kita juga harus menanggung dampak dari kelebihan karbon dioksida.

Menurut ilmuwan kelautan Michael Crosby, diperkirakan bahwa 80 persen oksigen yang kita hirup saat ini berasal dari laut. Bukan dari darat. Jadi, jika kita tidak mau kehilangan oksigen, kita harus menjaga laut agar tetap sehat. Tanpa adanya terumbu karang, lautan dunia tentunya akan sekarat.

11. Terumbu karang terbesar di dunia, yaitu Great Barrier Reef, akan ikut punah

Great Barrier Reef (pexels.com/Asad Photo Maldives)

Tahukah kamu kalau jaringan 3.000 terumbu karang dan 900 pulau karang yang membentuk Great Barrier Reef terlihat dari luar angkasa? Yap, ini beneran. Sebagai kawasan laut yang dilindungi dan menjadi situs Warisan Dunia, Great Barrier Reef bukan hanya terumbu karang terbesar di dunia, tetapi juga struktur terbesar di Bumi yang terdiri dari organisme hidup.

Sekitar 400 spesies karang yang berbeda hidup di Great Barrier Reef. Di samping itu, ada berbagai jenis penyu laut, mamalia laut, krustasea, alga, dan penghuni laut lainnya. Menurut UNESCO, terumbu karang ini dihuni sekitar 4.000 spesies ikan yang berbeda dan 1.500 jenis moluska.

Sayangnya, ekosistem ini hampir punah dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, karang mendapatkan warna-warnanya dari alga yang bersimbiosis dengannya. Namun, ketika suhu laut naik, karang menjadi stres dan mengeluarkan alga dari jaringannya. Akibatnya, karang kehilangan sumber makanan utama dan warnanya. Fenomena inilah yang disebut pemutihan karang.

Jika tidak pulih, karang yang memutih lebih mungkin mati Yap, terutama jika suhu tidak turun. Sebagai perbandingan, hanya butuh dua tahun bagi separuh Great Barrier Reef untuk berubah menjadi putih pucat akibat perubahan iklim.

12. Ada dampak yang lebih serius dan belum diketahui para ilmuwan

ilustrasi karang yang memutih (commons.wikimedia.org/USFWS Pacific)

Jika terumbu karang punah, Coral Reef Alliance melansir kabar bahwa, tidak ada organisme hidup lain di planet ini yang bisa menggantikan peran penting terumbu karang, lho. Meskipun begitu, terumbu karang memiliki kemampuan untuk pulih dari peristiwa pemutihan. Namun, kemampuannya itu terbatas. Tanpa langkah-langkah efektif untuk mengurangi dampak aktivitas manusia terhadap kesehatan terumbu karang, sumber daya laut ini dapat musnah pada tahun 2050.

Ilmuwan kelautan sendiri mengakui bahwa mustahil untuk memprediksi semua yang akan terjadi ketika dunia kehilangan terumbu karangnya, seperti yang dikutip How Stuff Works. Dengan kata lain, kelaparan di seluruh dunia, jatuhnya industri global, kepunahan spesies laut yang tak terhitung jumlahnya, dan stagnasi penemuan medis bisa jadi merupakan awal dari mimpi buruk ekologis yang lebih besar. Nah, hal ini seharusnya dicegah oleh umat manusia dengan meminimalisir dampak dari perubahan iklim.

Faktanya, laju pertumbuhan karang itu berbeda (dan dalam beberapa kasus, sangat lambat). Jika karang dirusak, pertumbuhan yang telah berlangsung ratusan atau bahkan ribuan tahun akan terganggu. Ditambah lagi polusi, kenaikan suhu laut akibat perubahan iklim, dan berbagai ancaman lain terhadap keberadaan karang, potensi kepunahan karang menjadi semakin besar. Kepunahan karang akan sangat mengerikan bagi semua makhluk hidup di planet ini karena beberapa alasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team