ilustrasi beruang kutub (unsplash.com/Hans-Jurgen Mager)
Menurut Brian Weeks, asisten profesor ekologi dan evolusi di University of Michigan, terdapat dua mekanisme yang dapat menjadi penyebab perubahan ukuran tersebut, yaitu
- Tekanan seleksi (selection pressure), perubahan yang dibawa dari satu generasi ke generasi berikutnya karena perubahan tersebut dianggap bermanfaat untuk bertahan hidup.
- Developmental plasticity, perubahan yang terjadi dalam kehidupan hewan karena kondisi lingkungan.
Awalnya, kalangan peneliti berpikir bahwa tekanan seleksi menjadi satu-satunya alasan mengapa perubahan ukuran terjadi, tepatnya karena prinsip ekologi bernama Bergmann's Rule.
Mengutip National History Museum, bunyi prinsip ini adalah
"Makhluk hidup yang lebih besar cenderung lebih baik dalam mempertahankan panas tubuh sehingga dapat bertumbuh dengan baik di lingkungan yang lebih dingin. Di sisi lain, makhluk hidup yang lebih kecil kurang mampu bertumbuh di lingkungan tersebut."
Untuk memudahkan pemahaman terkait mengapa hewan besar dapat bertahan di lingkungan yang lebih dingin sedangkan hewan kecil relatif kurang mampu, Brian Weeks memberikan analogi.
"Coba bayangkan es batu yang mencair dalam gelas. Kalau kamu punya beberapa es batu yang kecil, mereka mencair lebih cepat daripada satu es batu yang berukuran besar. Prinsipnya sama."
Namun, Bergmann's Rule tidak berlaku untuk semua spesies hewan. Adrian Lister, profesor sekaligus ahli paleontologi museum memberi contoh kuda (Equus caballus) dan rusa kutub (Rangifer tarandus) yang tidak makin besar mengikuti penurunan suhu.