Masalahnya bukan hanya soal racun. Urine yang baru terbentuk di ginjal memang umumnya steril, tetapi kondisi ini berubah saat cairan tersebut melewati kandung kemih dan uretra. Bagian saluran kemih ini dihuni bakteri “baik” yang normalnya tidak berbahaya selama berada di tempatnya. Ketika urine keluar, bakteri-bakteri ini bisa ikut terbawa.
Jika urine diminum, bakteri tersebut justru masuk kembali ke organ yang tidak semestinya, terutama saluran pencernaan. Dalam kondisi normal, asam lambung dapat membunuh sebagian besar bakteri. Namun dalam situasi darurat, saat tubuh mengalami dehidrasi, stres panas, atau kekurangan nutrisi, lapisan usus bisa melemah.
Akibatnya, bakteri lebih mudah menembus ke aliran darah dan memicu infeksi serius, sebuah risiko yang sangat berbahaya ketika kamu sedang bertahan hidup di alam liar.
Kesimpulannya, meminum air kencing bukanlah solusi aman untuk bertahan hidup. Meski tampak seperti cairan yang masih “bisa dimanfaatkan”, urine justru membawa limbah dan bakteri yang ingin dibuang tubuh. Dalam kondisi darurat, pilihan terbaik tetap mencari sumber air yang lebih aman atau mengolah air seadanya.
Referensi
Riebl, Shaun K., and Brenda M. Davy. “The Hydration Equation.” ACSMʼs Health & Fitness Journal 17, no. 6 (November 1, 2013): 21–28.
"If you get lost in the bush, can you really survive by drinking your own pee?". Diakses pada Januari 2026. The Conversation.