ikan pout laut di New England Aquarium, Boston (commons.wikimedia.org/Steven G. Johnson)
Karena hidup di laut dalam belahan bumi utara yang dingin bukan main, pout laut punya zat antibeku di dalam darahnya. Protein ini berguna untuk melindungi tubuhnya dari kerusakan akibat temperatur rendah. Dijamin ikan ini bakal aman-aman saja kalau berenang di perairan paling dingin sekalipun. Menariknya, zat antibeku pout laut terbukti juga punya manfaat bagi manusia.
Ternyata, para ahli genetika sudah memanfaatkan protein antibeku pout laut untuk rekayasa genetika. Mengutip laman Live Science, mereka memasang promotor untuk mengodekan protein antibeku pout laut ke gen hormon pertumbuhan dari Chinook salmon. Hasilnya, terciptalah salmon atlantik yang tumbuh lebih cepat dan butuh lebih sedikit makanan dibandingkan dengan salmon biasa yang genetiknya gak direkayasa.
Salmon hasil rekayasa genetika pertama kali dijual pada 2021 lalu. Penjualan produk hewani hasil rekayasa genetika dapat pertentangan dari banyak aktivis. Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) sendiri sudah menyetujui penjualan ikan tersebut sejak 2015 lalu.
Selain untuk menghasilkan ikan salmon yang tumbuh lebih cepat, protein antibeku pout laut juga sudah digunakan untuk merekayasa ragi. Ragi hasil rekayasa ini dimanfaatkan untuk menghasilkan es krim rendah lemak yang gak akan mengkristal. “Es krim pout laut” ini juga sudah disetujui untuk dikonsumsi di berbagai negara, lho. Tertarik mencoba?
Nah, siapa yang menyangka kalau ikan seunik pout laut punya bentuk adaptasi yang bisa memberikan manfaat bagi manusia. Bagaimana kalau menurutmu, nih? Apakah memperjualbelikan dan mengonsumsi produk hewani hasil rekayasa genetika termasuk perbuatan yang etis?