Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/Ayesha)
ikan sapu-sapu (commons.wikimedia.org/Ayesha)

Intinya sih...

  • Ikan sapu-sapu berkembang sangat pesatIkan ini sulit dikendalikan dan mengalahkan spesies lokal, merusak habitat sungai, dan berpotensi membahayakan kesehatan manusia.

  • Ikan sapu-sapu bisa merusak infrastruktur alamDominasi ikan ini menggeser ikan lokal, menciptakan sungai miskin keanekaragaman hayati, dan merusak bantaran sungai.

  • Dampak sosial ekonomiIkan sapu-sapu menyerap zat berbahaya dari lingkungannya, mengancam kesehatan publik, dan memukul mata pencaharian nelayan lokal.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Belakangan, ikan sapu-sapu menjadi perbincangan publik setelah konten kreator Arief Kamarudin membagikan aktivitasnya menangkap ikan di sungai dan viral di media sosial. Di balik kehebohan itu, keberadaan ikan sapu-sapu sebenarnya menyimpan masalah ekologis serius.

Dominasi suckermouth catfish dari genus Hypostomus dan Pterygoplichthys di sungai-sungai Asia Tenggara, seperti Sungai Ciliwung di Indonesia dan Sungai Klang di Malaysia, menjadi sinyal kuat terjadinya degradasi lingkungan air tawar.

Berasal dari Amerika Selatan, ikan ini mampu bertahan di perairan tercemar dengan kadar oksigen rendah, kondisi yang justru mematikan bagi banyak spesies lokal.

1. Ikan sapu-sapu berkembang sangat pesat

Ikan sapu-sapu awalnya masuk ke Asia Tenggara sebagai ikan peliharaan akuarium yang kemudian dilepas ke alam liar. Tanpa predator alami dan dengan tingkat reproduksi yang tinggi, spesies ini berkembang pesat dan sulit dikendalikan.

Di Semenanjung Malaysia saja, tim pemburu khusus dilaporkan menangkap hingga 75 ton ikan sapu-sapu dalam dua tahun terakhir. Populasi yang meledak ini membuat ikan sapu-sapu mengalahkan spesies lokal dalam perebutan makanan, merusak habitat dasar sungai, dan menekan keanekaragaman hayati.

Selain itu, ikan ini juga berpotensi membahayakan kesehatan manusia jika dikonsumsi tanpa pemeriksaan yang tepat. Ini karena kemampuannya bertahan di perairan tercemar memungkinkan akumulasi zat berbahaya di dalam tubuhnya.

2. Ikan sapu-sapu bisa merusak infrastruktur alam

ilustrasi ikan sapu-sapu (unsplash.com/Indula Chanaka)

Dominasi ikan sapu-sapu membawa dampak serius yang melampaui sekadar gangguan ekosistem. Dari sisi ekologis, spesies ini menggeser ikan lokal seperti lampam dan tengas dalam perebutan makanan dan ruang hidup, hingga menciptakan sungai dengan pola “monokultur” yang miskin keanekaragaman hayati.

Di Sungai Ciliwung, dampaknya bahkan merembet ke luar air. Burung air seperti ayam-ayaman mulai menghilang karena rantai makanan akuatik terganggu dari level paling dasar.

Ikan sapu-sapu juga merusak infrastruktur alami sungai dengan menggali sarang sedalam satu meter di tebing sungai. Lubang-lubang ini membuat struktur bantaran menjadi rapuh seperti spons, mempercepat erosi, dan meningkatkan risiko banjir perkotaan saat hujan deras.

3. Dampak sosial ekonomi

Ancaman lain yang tak kalah serius adalah risiko kesehatan dan dampak sosial ekonomi. Hidup di perairan tercemar membuat ikan sapu-sapu menyerap logam berat seperti timbal serta mikroplastik dari lingkungannya.

Dilansir The Southeast Asia Desk, pakar keanekaragaman hayati Prof. Amirrudin Ahmad memperingatkan bahwa ikan ini memakan alga dan lumut yang telah lebih dulu menyerap polutan. Zat berbahaya tersebut berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui proses biomagnifikasi jika dikonsumsi. Dalam jangka panjang, ini menjadi ancaman kesehatan publik yang kerap luput dari perhatian.

Di sisi lain, ledakan populasi ikan sapu-sapu memukul mata pencaharian nelayan lokal. Arief Kamarudin, nelayan sungai di Jakarta, mengungkapkan bahwa sembilan dari sepuluh hasil tangkapannya kini didominasi ikan invasif tersebut. Ikan-ikan lokal bernilai ekonomi semakin langka. Ini membuat pendapatan nelayan turun drastis dan memperparah tekanan sosial di komunitas yang bergantung pada sungai.

Dominasi ikan sapu-sapu menjadi cerminan krisis ekosistem sungai yang lebih dalam. Selama pencemaran dan lemahnya pengelolaan perairan terus terjadi, ikan ini akan tetap berkembang dan menyingkirkan kehidupan asli.

Editorial Team