Perjalanan karier Carlos Alcaraz terjadi bak roket yang meluncur deras. Mengutip laporan Reuters, 2022 menjadi tahun terobosan yang paling ikonis baginya. Setelah menembus perempat final US Open pada tahun sebelumnya, ia sukses menjuarai US Open 2022 mengalahkan Casper Ruud pada partai final. Kemenangan ini tidak hanya memberinya gelar Grand Slam pertama, tetapi juga mencatatkan nama Carlos Alcaraz dalam buku sejarah sebagai petenis putra termuda yang pernah menduduki peringkat nomor satu dunia.
Dominasinya berlanjut pada 2023. Saat itu, ia sukses bikin Novak Djokovic bertekuk lutut dalam sebuah final legendaris di Wimbledon. Ini membuktikan dirinya adalah pemain yang komplet di segala jenis lapangan.
Setahun berselang, pada 2024, ia menambah koleksi gelarnya dengan menjuarai French Open dan mempertahankan gelar juara Wimbledon berturut-turut. Pada 2025, ia harus menerima kenyataan pahit sebagai runner-up di Wimbledon setelah pertarungan lima set yang melelahkan kontra Jannik Sinner. Namun, itu justru makin mendewasakan mental bertandingnya untuk mewujudkan lebih banyak ambisi besar di depan.
Menilik statistik yang dilansir ATP Tour per awal Januari 2026, angka-angka yang dicatatkan Alcaraz tergolong mentereng. Ia memegang rekor sebagai pemain termuda yang menduduki posisi nomor satu dunia dalam sejarah ATP Rankings. Koleksi gelar Grand Slam Alcaraz sudah mencapai 4 trofi, yang terdiri dari 1 US Open, 2 Wimbledon, dan 1 French Open. Di luar turnamen mayor, ia juga telah mengoleksi lebih dari lima gelar juara ATP Masters 1000, termasuk kemenangan prestisius di Madrid dan Miami Open.
Secara keseluruhan, Alcaraz telah mengumpulkan 16 gelar juara ATP sepanjang kariernya. Lebih mengesankan lagi, ia punya rekor persentase kemenangan di atas 60 persen dari pertemuan melawan pemain 10 besar dunia. Konsistensi ini yang membuatnya langganan menjadi unggulan utama di tiap turnamen yang diikuti, termasuk di Australian Open 2026 yang tengah berlangsung pada 11 Januari--1 Februari.