Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ini Dia Cara Higround Menempatkan Diri di Industri Esports Global
ilustrasi esports (freepik.com/seventyfour)

Intinya sih...

  • Keterhubungan emosional penting bagi Higround

  • Keseimbangan antara kreativitas dan tuntutan komersial harus berjalan

  • Pendekatan budaya dengan elemen anime, nostalgia game, dan ikon pop culture

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perkembangan industri Esports global kembali menjadi sorotan dalam World Governments Summit (WGS) 2026 di Dubai, Kamis (5/2/2026) lalu. Salah satu yang terlibat di dalamnya adalah Higround.

CEO Higround, Rustin Sotoodeh, memaparkan strategi brand mereka dalam menembus ekosistem kompetitif. Higround membangun identitas merek melalui kedekatan komunitas, inovasi produk, dan budaya gamer modern.

1. Keterhubungan emosional itu perlu

Sotoodeh mengatakan pertumbuhan Higround tidak semata bertumpu pada desain hardware, melainkan keterhubungan emosional dengan komunitas Esports.

Sejak awal berdiri, Higround melibatkan audiens dalam perjalanan brand, termasuk melalui konten sederhana yang memperlihatkan proses pengemasan produk dari nol.

Dia menyebut transparansi tersebut membuat komunitas merasa menjadi bagian dari perkembangan perusahaan, terlebih setelah Higround diakuisisi organisasi Esports bernama 100 Thieves.

Dalam praktik pemasaran, Higround juga mengadopsi konsep drop culture yang identik dengan dunia game kompetitif. Setiap peluncuran produk dirancang menyerupai momen perilisan skin atau turnamen besar, sehingga memicu antusiasme tinggi.

2. Keseimbangan harus tetap jadi kunci

Sotoodeh menilai, keseimbangan juga harus tetap menjadi kunci, terutama di industri yang reputasinya sangat ditentukan komunitas. Brand harus tetap terasa spesial, tetapi tidak terkesan menjauh dari basis penggemar.

Dari sisi produk, Higround dikenal menggabungkan kreativitas visual dengan kebutuhan performa kompetitif. Meski demikian, Sotoodeh mengakui terdapat dilema antara eksplorasi desain dan tuntutan komersial.

“Brand itu seperti karet. Satu sisi kreativitas ekstrem, satu sisi komersialisasi. Kalau ditarik terlalu keras ke salah satu arah, bisa putus,” kata Sotoodeh dalam keterangan tertulis.

3. Higround menggunakan pendekatan budaya

Sebagai bagian dari pendekatan budaya, Higround banyak mengangkat elemen anime, nostalgia game, hingga ikon pop culture. Sotoodeh mencontohkan kolaborasi dengan karakter Sonic the Hedgehog.

“Sonic the Hedgehog adalah karakter favorit saya. Kami jadi perusahaan pertama yang diizinkan Sega menggunakan in-game model Sonic Adventure 2,” ungkap Sootodeh

Dia menilai kekuatan intellectual property (IP) nostalgia bukan sekadar estetika, melainkan medium yang menghubungkan memori pemain dengan identitas mereka di dunia Esports.

Pendekatan itu, kata dia, membuat produk tidak hanya dipandang sebagai perangkat gaming, tetapi juga representasi pengalaman dan perjalanan komunitas kompetitif yang terus berkembang secara global.

Editorial Team