Dengan kedudukan 1-4, Portland Trail Blazers mesti pulang dengan tangan hampa. Perjalanan mereka berakhir pada putaran pertama playoff. Spurs, yang menang melawan Blazers, berhak lolos ke putaran berikutnya. Blazers sendiri punya banyak waktu untuk memikirkan masa depan mereka.
Para analis memprediksi, tim asal Portland itu akan sibuk pada jeda musim panas. Mereka mungkin melakukan perombakan skuad. Blazers memiliki cap space sekitar 15,1 juta dolar AS (setara 261,75 miliar rupiah) dan sisa 31 juta dolar AS (setara 530 miliar rupiah) di bawah luxury tax, yang membuat ruang gerak mereka untuk merekrut pemain cukup bebas.
Blazers juga memiliki sejumlah pemain yang bisa ditukar untuk mengatur ulang skuad. Namun, Deni Avdija, yang jadi andalan pada 2025/2026, boleh jadi bukan salah satunya. Scoot Henderson, yang memberi dampak signifikan di playoff meski banyak absen pada musim reguler, juga bisa saja tetap di sana.
Blazers mungkin akan menghadapi masalah dengan kontrak Robert Williams III dan Matisse Thybulle, yang memberi dampak di area pertahanan mereka pada musim ini. Sebab, keduanya berstatus unrestricted free agent pada musim panas 2026. Dengan harga yang cukup tinggi, tim akan kesulitan mengontrak ulang mereka.
Meski begitu, manajemen punya jalan lain. Misalnya dengan menjajaki kemungkinan trade melibatkan pemain veteran seperti Jerami Grant dan Jrue Holiday sebagai upaya menyelaraskan line-up dengan young core. Apalagi, kedua pemain berusia di atas 30 tahun itu mengonsumsi sebagian besar cap space Blazers.
Musim panas sendiri masih cukup jauh. Namun, Portland Trail Blazers bisa mulai memikirkan masa depan mereka. Deni Avdija dkk kebetulan tumbang pada putaran pertama playoff dan mendapatkan waktu istirahat lebih banyak dari tim yang lanjut ke putaran berikutnya. Mungkinkah rencana Blazers akan matang saat waktunya tiba dan bangkit musim depan?