Faktor kedua adalah tidak respeknya para pemain senior Italia terhadap pelatih Giampiero Ventura. Pemain seperti Buffon, De Rossi, Bonucci, dan Barzagli pasti mempunyai pikiran bahwa mereka lebih hebat daripada Ventura yang sebelumnya hanya pernah melatih tim-tim medioker di Italia dan belum pernah memenangi scudetto apalagi piala dunia.
Mungkin analoginya seperti ini “Apa yang sudah kau raih bersama Timnas Italia? Juara Dunia? saat di klub, apa kau pernah meraih scudetto? Kami para pemain senior sudah merasakan juara dunia dan scudetto! Jadi apa hakmu mengatur kita!” begitu kira-kira relasi pemain senior Azzuri dengan Ventura jika dianalogikan.
Giampiero memang tidak pernah membesut klub besar seperti Juventus, AC Milan, atau Inter di Serie-A. Klub yang terakhir dilatihnya sebelum jadi juru taktik Azzuri adalah Torino, klub papan tengah yang tidak punya prestasi.
Dari curiculum vitae yang dimiliki Ventura itu, jangan harap mendapat respek dari pemain senior. Punggawa senior masih mau bermain bersama timnas di bawah rezim Ventura karena mereka adalah pemain profesional, tapi mereka tidak pernah sudi dilatih oleh pelatih kelas dua seperti Ventura.
Di awal masa kepelatihannya, Ventura sudah tidak dihormati pemain. Striker Graziano Pele terlihat menolak berjabat tangan dengan Ventura saat diganti di babak kedua kala menjamu Spanyol di babak kualifikasi.
Ditambah lagi para pemain senior meragukan strategi Ventura saat melawan Swedia, sampai De Rossi menolak pemanasan oleh asisten pelatih dan meminta Insigne yang dimasukkan, hal itu merupakan indikasi bahwa pemain senior tidak menaruh respek kepada si tua Ventura.