Beberapa pengamat menyoroti fakta bahwa gen Z adalah generasi yang paling minim minat terhadap olahraga, termasuk sepak bola. Ini dilihat dari afiliasi mereka terhadap klub yang bisa dibilang kurang bila dibanding generasi-generasi sebelumnya. Namun, menurut laporan IMG yang melakukan riset sepanjang musim 2021/2022, sebenarnya minat terhadap sepak bola di kalangan gen Z tak serendah yang diklaim orang. Tujuh puluh persen lebih gen Z menyatakan mereka nonton di pertandingan sepak bola langsung di stadion setidaknya sekali dalam sepekan. Ini lebih tinggi dari milenial dan gen X, masih menurut IMG.
Lantas, apa yang berubah? Dalam laporan itu, IMG sih menyebut kalau gen Z punya cara berbeda untuk menikmati pertandingan olahraga yang membuat mereka terlihat tak seberapa tertarik. Yakni, retensi nonton pertandingan selama 90 menit yang cukup rendah. Mereka lebih memilih mengikuti turnamen atau pertandingan lewat cuplikan di media sosial, ketimbang nonton siaran langsungnya. Mereka juga tertarik kepada hal-hal di luar teknis pertandingan, seperti meme, fesyen, bahkan politik di baliknya.
Jordan Wise dari Gameplayer juga membahas tendensi tersebut lewat esai berjudul ‘The Culture Wars in Football: Why Gen Z Fans Are Forcing Clubs to Rethink Everything’. Ia berargumen kalau gen Z tak lagi peduli soal sejarah dan performa klub sepak bola layaknya generasi terdahulu. Klub olahraga kerap dapat penggemar baru dari kalangan gen Z lewat afiliasi musisi atau selebriti. Tak pelak, Spotify dan Barca melihat ini sebagai momen kolaborasi yang sempurna. Barca butuh menggaet fans baru dari kalangan gen Z dan Spotify butuh eksposur untuk mempertahankan dan menambah jumlah pelanggan layanan mereka.