Kegagalan Liverpool merekrut Marc Guehi pada bursa transfer sebelumnya musim panas 2025 menjadi latar penting dalam membaca transfer Jeremy Jacquet. Guehi dipandang sebagai bek siap tempur dengan pengalaman Premier League, sementara Jacquet datang sebagai aset transformasi dengan potensi jangka panjang. Perbedaan profil ini menunjukkan, Liverpool bukan hanya mengganti target, melainkan juga menggeser pendekatan rekrutmen.
Liverpool menilai, Jacquet lebih cocok dalam model jangka panjang klub, meski harus membayar biaya yang tidak jauh berbeda. Pada usia 20 tahun, Jacquet telah mencatatkan 36 penampilan Ligue 1 dan tampil di berbagai level tim nasional junior Prancis, termasuk sebagai kapten. Perkembangan ini menjadi dasar keyakinan Liverpool bahwa investasi besar tersebut memiliki ruang pertumbuhan yang sebanding dengan risikonya.
Pola ini juga selaras dengan strategi akumulasi aset bek muda yang dilakukan Liverpool dalam 6 bulan terakhir. Selain Jacquet, klub telah merekrut Giovanni Leoni, Noah Adekoya, Mor Talla Ndiaye, dan Ifeanyi Ndukwe, yang menunjukkan pendekatan regenerasi ketimbang reaksi pasar jangka pendek. Dalam kerangka ini, Jacquet bukan pengecualian, melainkan bagian paling mahal dari strategi yang konsisten.
Harga 55 juta pound sterling memang menempatkan Jacquet sebagai salah satu bek muda termahal di Eropa. Tapi, Liverpool berada dalam kondisi finansial yang memungkinkan risiko tersebut. Dilansir The Athletic, dengan pendapatan klub mencapai 702 juta pound sterling (Rp16,116 triliun) dan rasio gaji terhadap pendapatan berada di angka 60 persen, transfer ini tetap berada dalam batas rasional. Oleh sebab itu, pembelian Jacquet lebih tepat dibaca sebagai risiko terukur, bukan respons emosional akibat kegagalan sebelumnya.
Jeremy Jacquet pada akhirnya merupakan taruhan besar yang mencerminkan arah baru Liverpool dalam membangun ulang lini pertahanan. Ia bukan solusi instan, tetapi representasi kalkulasi jangka panjang yang selaras dengan kebutuhan struktural dan filosofi rekrutmen klub.