Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
logo Manchester City
potret logo Manchester City (unsplash.com/Jonny Gios)

Intinya sih...

  • Antoine Semenyo direkrut sebagai jawaban atas kesulitan Man City menembus blok rendah

  • Akselerasi Antoine Semenyo akan jadi senjata counter attack Manchester City

  • Antoine Semenyo berkembang dalam sistem serangan cepat di AFC Bournemouth

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Manchester City merekrut Antoine Semenyo dari AFC Bournemouth dengan biaya 62,5 juta pound sterling (Rp1,411 triliun), angka yang menuntut dirinya untuk memberikan dampak instan kepada tim. Transfer ini terjadi di tengah fase transisi taktik Pep Guardiola, ketika The Cityzens mulai meninggalkan dominasi kontrol absolut demi menyeimbangkan antara penguasaan bola dan intensitas. Selain menambah kedalaman skuad, kehadiran Semenyo juga menawarkan dimensi yang selama ini relatif kurang dieksplorasi.

Profil Semenyo juga menandai perubahan preferensi rekrutmen Manchester City dalam 2 musim terakhir. Guardiola kini makin terbuka terhadap winger yang unggul dalam fisik, akselerasi, dan agresivitas menyerang ruang, bukan hanya kehalusan kombinasi. Oleh karena itu, kontribusi Semenyo perlu dibaca sebagai bagian dari arah baru tim, bukan keganjilan dalam sistem yang sudah mapan.

1. Antoine Semenyo direkrut sebagai jawaban atas kesulitan Man City menembus blok rendah

Dalam fase menyerang terstruktur, masalah utama Manchester City pada 2025/2026 bukanlah progresi bola, melainkan efektivitas ketika menghadapi blok rendah. Tim masih mampu mengontrol wilayah dan sirkulasi bola, tetapi terlalu sering bergantung kepada Erling Haaland sebagai penyelesai akhir. Dalam situasi ini, Antoine Semenyo menawarkan ancaman vertikal yang lebih direct dari sisi sayap.

Berbeda dengan karakteristik winger Manchester City sebelumnya yang identik dengan kombinasi umpan pendek, Semenyo menyerang ruang dengan dribel lurus dan akselerasi eksplosif. Data The Athletic menunjukkan, ia melepaskan sekitar 3,1 tembakan per laga sejak 2024/2025, hampir dua kali lipat dari Jeremy Doku dalam periode yang sama. Karakter ini membuatnya relevan ketika struktur serangan tim stagnan dan membutuhkan aksi individual untuk memaksa perubahan situasi.

Keunggulan lain terletak pada kemampuan dua kaki yang sama baiknya. Sejak awal 2024/2025, distribusi tembakan Semenyo hampir seimbang antara kaki kiri (53 persen) dan kanan (47 persen), tertinggi di antara pemain yang melepaskan lebih dari 50 tembakan dengan kedua kaki di lima liga top Eropa. Dalam situasi blok rendah, kepiawaiannya ini menyulitkan bek lawan untuk mengarahkan sudut tembak atau memprediksi arah cut-inside.

Jika dibandingkan secara implisit, Doku dan Savinho lebih unggul dalam volume dribel dan progresi sisi lapangan, tetapi kontribusi mereka di kotak penalti masih fluktuatif. Oscar Bobb menawarkan kecerdasan posisi, tetapi belum konsisten dalam keberanian menembak. Semenyo, sebaliknya, membawa warna baru sebagai penyelesai masalah, bukan pengatur tempo, yang dapat memecah kebuntuan ketika Manchester City menguasai bola tanpa hasil konkret.

2. Akselerasi Antoine Semenyo akan jadi senjata counter attack Manchester City

Perubahan paling signifikan Manchester City musim ini terlihat pada fase transisi. Tim asuhan Pep Guardiola menciptakan hampir 15 persen expected goals (xG) mereka dari fast breaks, lebih tinggi dibanding 2 musim sebelumnya jika digabungkan. Dalam kerangka ini, Antoine Semenyo menjadi senjata yang secara alami cocok dengan kebutuhan baru tersebut.

Di AFC Bournemouth, Semenyo berkembang dalam sistem Andoni Iraola yang menekankan serangan cepat 5–10 detik setelah perebutan bola. Ia mampu membawa bola lebih dari 40–50 meter dengan kontrol dan kecepatan tinggi, seperti yang terlihat pada golnya ke gawang Liverpool pada pekan pertama English Premier League (EPL) 2025/2026 dan kontribusinya di laga Crystal Palace pada pekan kedelapan. Karakter ini selaras dengan Manchester City yang kini lebih siap menyerang ruang, terutama melawan tim-tim besar atau dalam pertandingan Eropa yang lebih terbuka.

Guardiola juga mulai menerima kehilangan kontrol sebagai harga untuk intensitas. Mengutip The Athletic kembali, Manchester City musim ini mencatat rata-rata penguasaan bola terendah selama era Guardiola, sekaligus menempuh jarak lari tertinggi di Premier League dengan rata-rata 115,4 kilometer per laga. Semenyo, dengan profil atletis dan agresif, memperkuat kecenderungan tersebut tanpa sepenuhnya mengorbankan kualitas teknis.

Kehadirannya juga berkorelasi dengan perubahan staf dan komposisi skuad. Masuknya asisten pelatih dengan latar belakang sepak bola berintensitas tinggi serta rekrutan seperti Savinho, Omar Marmoush, dan Gianluigi Donnarumma menunjukkan Manchester City membangun identitas yang lebih pragmatis. Dalam skema ini, Semenyo tidak hanya relevan dengan profil khas Guardiola, tetapi ia juga mampu mengisi celah antara tim lama yang dominan dan tim baru yang adaptif.

3. Antoine Semenyo dikenal gigih dalam melakukan pressing dan duel 1 lawan 1 ketika tanpa bola

Kontribusi Antoine Semenyo tidak berhenti pada fase menyerang. Di Bournemouth, ia terbiasa bekerja dalam sistem pressing intens dan menunjukkan angka defensif yang menonjol. Menurut laman resmi Premier League, pada 2025/2026, ia mencatat rata-rata 5,06 recoveries per 90 menit, tertinggi kedua di antara penyerang Premier League, serta 1,8 perebutan bola di sepertiga defensif.

Kemampuan ini menjadi krusial bagi Manchester City yang bergantung pada counter-pressing sebagai fondasi kestabilan struktur permainan. Ketika full-back bermain inverted dan meninggalkan ruang di sisi sayap, kapasitas fisik Semenyo membantu menjaga keseimbangan duel dan transisi bertahan. Ia bukan hanya pelari, melainkan juga pemain yang tangguh dalam kontak fisik dan duel 1 lawan 1.

Fleksibilitas posisi juga menambah nilai strukturalnya. Data Opta menunjukkan, lebih dari 60 persen menit Semenyo di Divisi Championship bersama Bristol City dihabiskan sebagai penyerang tengah, sebelum ia beradaptasi menjadi winger di Bournemouth. Di Manchester City, fleksibilitas ini memberikan Pep Guardiola opsi rotasi di kiri, kanan, maupun sebagai second striker dalam situasi tertentu, terutama saat krisis cedera.

Namun, adaptasi tetap menjadi tantangan. Semenyo harus menyesuaikan pengambilan keputusan, timing pressing, dan disiplin posisi dalam sistem Guardiola yang menuntut presisi kolektif. Ia tidak lagi diberi keleluasaan saat kehilangan bola seperti di Bournemouth, sehingga penting baginya memahami peran struktural tim agar kontribusinya berkelanjutan.

Kehadiran Antoine Semenyo di Manchester City mencerminkan pergeseran filosofi, bukan penyimpangan taktik. Ia bukan hanya penambah gol dari sayap, melainkan juga alat keseimbangan yang menghubungkan agresivitas transisi dengan struktur Pep Guardiola yang terus berevolusi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team