Jersey pertama Athletic Club yang dipajang di stadion dalam markas Athletic Club Bilbao, Stadion San Mames (IDN Times/Margith Damanik)
Perubahan nama Athletic Club bukan urusan estetika atau pemasaran. Ini merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan politik negara.
Pada masa pemerintahan diktator Francisco Franco (1939–1975), pemerintah Spanyol menerapkan aturan ketat. Semua nama institusi publik, termasuk klub sepak bola, wajib menggunakan bahasa Spanyol atau Castilian. Nama asing dilarang.
Athletic Club, yang menggunakan istilah bahasa Inggris, menjadi salah satu korban kebijakan tersebut.
“Jadi ada sebuah periode selama sekitar 40 tahun, semasa diktatorship Franco, di mana klub terpaksa mengubah namanya, dari klub atletik ke Atletico de Vila, tapi kemudian setelah undang-undang itu ditinggalkan, klub terubah menjadi klub atletik,” kata Direktur Bisnis dan Stadion Operations Athletic Club Bilbao, Borja Gonzalez, ditemui IDN Times di Museum Stadion San Mames, Jumat (30/1/2026).
Kebijakan ini mencerminkan upaya rezim Franco untuk menyeragamkan identitas nasional dan menekan ekspresi budaya lokal.