Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Carlos Alberto Parreira, Pelatih Paling Sering Tampil di Piala Dunia
ilustrasi logo Timnas Brasil (unsplash.com/Alice Yamamura)
  • Carlos Alberto Parreira memulai karier kepelatihan di usia 23 tahun bersama Ghana tanpa pengalaman bermain, lalu ikut membawa Brasil juara Piala Dunia 1970 sebagai pelatih fisik.
  • Parreira tampil di enam edisi Piala Dunia melatih Kuwait, Uni Emirat Arab, Brasil, Arab Saudi, dan Afrika Selatan, termasuk membawa Brasil juara pada 1994.
  • Setelah meninggalkan Afrika Selatan pada 2010, Parreira pensiun dengan total 17 tim yang pernah dilatih dan 13 trofi bergengsi sepanjang kariernya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Carlos Queiroz akan melatih di Piala Dunia untuk kelima kalinya pada 2026. Pria asal Portugal yang kini berusia 73 tahun itu memimpin Ghana. Sebelumnya, Queiroz merasakan Piala Dunia dengan menukangi Portugal pada 2010 dan Iran pada 2014, 2018, serta 2022. Queiroz bakal menyamai catatan Bora Milutinovic yang melatih Meksiko pada edisi 1986, Kosta Rika pada 1990, Amerika Serikat pada 1994, Nigeria pada 1998, dan China pada 2002.

Namun, ada satu pelatih yang hadir lebih banyak di Piala Dunia dibanding Queiroz dan Milutinovic. Dia adalah Carlos Alberto Parreira. Pria kelahiran Brasil pada 27 Februari 1943 ini terlibat dalam enam edisi. Salah satunya berakhir dengan kejayaan saat mengarsiteki negaranya pada 1994. Menariknya, Parreira memiliki karier yang panjang sebagai pelatih tanpa pengalaman bermain. Awal mulanya terjun ke dunia manajerial bahkan terjadi secara unik.

1. Carlos Alberto Parreira memulai karier kepelatihan dengan menukangi Ghana pada usia 23 tahun

Carlos Alberto Parreira memulai keterlibatannya dengan dunia sepak bola secara profesional pada 1967. Saat itu, ia baru berusia 23 tahun dan tidak memiliki pengalaman bermain. Namun, Timnas Ghana tetap yakin untuk merekrutnya sebagai pelatih. Mereka mengambil langkah tersebut setelah pemerintahnya meminta rekomendasi kepada kementerian luar negeri Brasil. Pihak Brasil kemudian meneruskan permintaan itu ke Universidade Federal do Rio de Janeiro (UFRJ) sebagai kampus mereka satu-satunya yang memiliki jurusan olahraga. UFRJ lantas mengajukan nama Parreira yang memang merupakan salah satu mahasiswa terbaiknya. Timnas Ghana pun menerimanya.

Parreira hanya melatih Timnas Ghana selama setahun. Ia membawa mereka ke final Piala Afrika 1968, tetapi gagal menjadi juara akibat kalah 1-2 dari Republik Demokratik Kongo. Timnas Ghana menginginkan Parreira bertahan, tetapi ia terpaksa meninggalkan mereka karena mendapat tawaran untuk melanjutkan studinya di Jerman. Ketika Parreira tengah berkuliah di Jerman, Timnas Brasil datang untuk menjalani uji coba. Salah satu pelatih fisik mereka adalah Admildo Chirol yang merupakan dosen Parreira di UFRJ. Parreira mengunjunginya dan mendapat tawaran untuk menjadi bagian dari tim pelatih fisik di Piala Dunia 1970. Parreira menerimanya dan Brasil pada akhirnya keluar sebagai juara.

2. Carlos Alberto Parreira melatih di Piala Dunia bersama Kuwait, Uni Emirat Arab, Brasil, Arab Saudi, dan Afrika Selatan

Meski debut dengan menukangi Timnas Ghana, karier Carlos Alberto Parreira di dunia kepelatihan bisa dibilang baru benar-benar dimulai setelah membantu Timnas Brasil menjuarai Piala Dunia 1970. Ia pulang ke tanah airnya dan memimpin Fluminense pada 1972—1975. Parreira kemudian menerima tawaran untuk menjadi asisten Mario Zagallo di Timnas Kuwait pada 1975. Zagallo merupakan pelatih Brasil di Piala Dunia 1970. Ketika Zagallo melepas jabatannya pada 1978, Timnas Kuwait pun memilih Parreira sebagai penggantinya. Ia berhasil membawa Kuwait lolos ke Piala Dunia 1982, tetapi gagal membuat mereka melewati fase grup. Hasil yang sama didapat Parreira kala menukangi Uni Emirat Arab di Piala Dunia 1990.

Setelah dua kegagalan tersebut, Parreira bangkit dengan membawa Brasil menjuarai edisi 1994. Ia kemudian bertugas sebagai pelatih Arab Saudi di Piala Dunia 1998, tetapi tidak mampu membuat mereka lolos dari babak grup. Parreira lantas kembali menukangi Brasil di Piala Dunia 2006. Sayangnya, ia cuma bisa mengantarkan mereka melangkah sampai perempat final di ajang yang berlangsung di Jerman ini. Penampilan terakhir Parreira sebagai pelatih di Piala Dunia terjadi pada 2010. Ia mengasuh tim tuan rumah, Afrika Selatan. Parreira berhasil membuat kejutan. Salah satu laga fase grup mereka berakhir dengan kemenangan atas Prancis. Namun, hasil itu tidak cukup untuk membuat Afrika Selatan melaju ke 16 besar.

3. Carlos Alberto Parreira tidak pernah lagi melatih setelah meninggalkan Afrika Selatan pada 2010

Carlos Alberto Parreira tidak pernah lagi melatih setelah berpisah dengan Afrika Selatan pada 2010. Total, ia menukangi 17 tim sejak 1968. Mereka adalah Ghana, Asante Kotoko, Fluminense, Kuwait, Brasil, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bragantino, Valencia, Fenerbahce, Sao Paulo, MetroStars, Atletico Mineiro, Santos, Internacional, Corinthians, dan Afrika Selatan.

Dari sisi piala, Parreira mengoleksi 13 trofi. Selain menjuarai Piala Dunia sebagai pelatih pada 1994 dan sebagai pelatih fisik pada 1970, Parreira juga membawa Brasil memenangkan Copa America 2004 dan Piala Konfederasi 2005 serta 2013. Prestasi lainnya di kancah internasional adalah menjadi kampiun Piala Asia bersama Kuwait pada 1980 dan Arab Saudi pada 1988.

Parreira menutup kariernya sebagai direktur teknik Timnas Brasil pada 2012—2014. Torehan-torehan di atas menegaskan statusnya sebagai salah satu legenda terbesar di dunia sepak bola.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team