Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Menarik dari Piala Dunia 1982: Paolo Rossi Mencuci Nama
Goal Profits

Bagi penikmat sepakbola Italia era akhir 1970-an, bicara tentang Paolo Rossi berarti bicara tentang sosok yang amat menakutkan di kotak penalti. Tubuhnya memang terhitung pendek untuk seorang striker, hanya 1,78 meter (bandingkan dengan Harry Kane milik timnas Inggris yang menjulang dengan 1,88 meter).

Namun kekurangannya itu bisa ditutupi dengan insting tajam. Dirinya termasuk lihai memaksimalkan peluang sesulit apa pun. Di mana bola menuju, di situ Rossi sudah bersiap untuk menyambut. Publik Italia sepakat bahwa sebelum Roberto Baggio dan Christian Vieri mencuat, pemain asal Prato itu sudah menjadi tolak ukur bagaimana seorang ujung tombak bekerja.

Masa-masa awal karirnya bersama Juventus di usia belia memang kurang cemerlang. Cedera lutut membuat penampilan Rossi mandek. Sempat dipinjamkan ke Como untuk satu musim (1975-76), perubahan posisi ke sayap kanan malah membuatnya kurang produktif. Bersama Como, dirinya hanya tampil 6 kali tanpa sekalipun mencetak gol.

1. Usai masa-masa penuh derita di Juventus dan Como, peruntungan Paolo Rossi berubah ketika membela Vicenza

vvox.it

Peruntungannya mulai berubah saat dipinjamkan ke klub Serie B, Lanerossi Vicenza, pada musim 1976-77. Oleh sang pelatih Giovan Fabbri, dia digeser menjadi seorang ujung tombak dengan alasan mengurangi resiko cedera. Di posisi barunya itu, Rossi berubah menjadi seorang predator. 21 gol dilesakkannya dari 36 pertandingan, sekaligus mengantar klubnya promosi.

Dominasi Rossi ternyata berlanjut di Serie A. Koleksi 24 gol membuatnya jadi satu-satunya top skorer dalam dua divisi berbeda. Performa cemerlang membuat juru taktik Italia waktu itu, Enzo Bearzot, tak berpikir dua kali untuk memanggil si anak emas Vicenza. Piala Dunia 1978 jadi pengalaman pertamanya. Selain mengantar Gli Azzuri menjadi menjadi juara empat, Rossi juga membukukan 4 gol.

Seperti kata pepatah, hidup adalah roda yang berputar. Tiga tahun usai menjadi pemain termahal dunia saat dibeli dari Juventus (1976), Rossi jadi pesakitan atas dugaan keterlibatan skandal perjudian dan pengaturan skor yang juga menyeret puluhan pemain. Meski dianggap tak terlibat, keengganan Rossi bekerja sama dengan pihak berwenang membuatnya dijatuhi sanksi larangan bermain selama tiga tahun (kemudian diubah menjadi dua tahun).

2. Paolo Rossi (Kedua dari kanan) dalam persidangan kasus pengaturan skor di tahun 1980. Skandal tersebut mencoreng karirnya yang tengah meroket

SportAvellino.it

Rossi baru kembali merumput pada musim 1981-82, saat dirinya kembali dibeli Juventus. Manajemen La Vecchia Signora memilih tepikan noda yang mencoreng karirnya. "Si anak hilang" kembali bermain meski hanya pada tiga pertandingan terakhir. Yang mengejutkan, Enzo Bearzot yang masih membesut Italia tetap menyertakan nama Rossi dalam skuatnya untuk ajang Piala Dunia Spanyol 1982.

Bayangkan, seorang pemain yang tak pernah bersentuhan dengan bola selama dua tahun kembali dipercaya menempati posisi paling penting dalam sebuah tim. Media massa ramai-ramai mengecam keputusan tersebut, namun Bearzot bergeming. Menurutnya, tidak ada penyerang sebaik Paolo Rossi dan belum ada yang layak mengisi tempatnya.

"Membawanya langsung ke Piala Dunia adalah sebuah perjudian. Tapi selama dua tahun dia menepi, aku tidak bisa menemukan pengganti yang tepat," kata Bearzot seperti dikutip dari harian New York Times. Ucapan tersebut ada benarnya, Italia hanya sanggup melesakkan 12 gol selama masa kualifikasi. Denmark, yang gagal lolos, bahkan lebih agresif dengan koleksi 14 gol.

3. Keraguan dan performa buruk pada awal-awal kompetisi berhasil dibayar tuntas oleh "Pablito" di tiga laga akhir

VivoAzzurro.it

Beban berat seolah pindah ke pundak Rossi. Seluruh Italia siap mencacinya jika Gli Azzuri gagal total. Sadar dengan tekanan tersebut, dia mewanti-wanti satu hal: jangan mengharap apapun. Benar saja, dia "mandul" di fase grup pertama. Italia bahkan tidak pernah menang, mereka lolos sebagai runner-up Grup 1 dengan tiga hasil imbang. Media menggambarkan Rossi hanya berlari-lari tanpa tujuan di lapangan.

Di fase penyisihan grup kedua, tajinya baru terlihat. Bertemu Brazil untuk menentukan siapa yang lolos ke semi final, Rossi menjadi pahlawan berkat hattrick fenomenal yang membuat skor akhir menjadi 3-2. Trio gelandang enerjik Zico - Socrates - Falcao milik Selecao ternyata gagal melaju lebih jauh. Italia mulai percaya kepada "sang pendosa".

Bertemu Polandia di semi final, Rossi lagi-lagi jadi pembeda. Harapan tim lawan menembus partai final untuk pertama kali pupus di tangannya (atau yang lebih tepat, kakinya) setelah memborong sepasang gol kemenangan. Dari sini publik mulai membeli julukan "Pablito" alias Si Kecil Paolo, rasa ragu terhapus sudah.

4. Rossi saat mengangkat trofi kebesaran sepakbola, sekaligus mencuci namanya yang sempat tercoreng

SportsKeeda

Partai pamungkas mempertemukan Italia dan Jerman. Minggu malam 11 Juli 1982 di Stadion Santiago Bernabeu Madrid menjadi 90 menit yang paling diingat oleh Paolo Rossi. Sundulannya jadi pembuka pesta atas Karl-Heinz Rummenigge dan kawan-kawan. Hasil akhir 3-1 terpampang di papan skor, rasa pesimis berbalik menjadi sukacita.

Enam gol di tiga laga melejitkan Rossi sebagai pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik Piala Dunia 1982. Dua tahun absen dari dunia sepakbola akibat skandal, performa moncer yang mengantar Italia keluar sebagai juara langsung mencuci tuntas nama Rossi. Dari pendosa menjadi pahlawan, media massa pun memberi pujian setinggi langit.

Empat tahun selanjutnya bersama Juventus dihiasi trofi dan beragam raihan gelar individu. Pablito di 1982 menjadi bukti sahih bahwa Piala Dunia bisa mengubah nasib seseorang hanya dalam beberapa pertandingan. Piala Dunia memang lebih dari sekedar duel antar dua kesebelasan. Piala Dunia menawarkan kesempatan kedua bagi mereka yang butuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team