Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Selhurst Park, markas Crystal Palace FC
potret Selhurst Park, markas Crystal Palace FC (commons.wikimedia.org/Rockybiggs)

Intinya sih...

  • Jorgen Strand Larsen memecahkan rekor transfer Crystal Palace meski kurang produktif

  • Transfer Jean-Philippe Mateta ke AC Milan gagal usai dinyatakan tidak lolos tes medis

  • Crystal Palace kini punya dua striker serupa yang bisa memicu ketegangan di ruang ganti

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Crystal Palace pada paruh kedua musim 2025/2026 bakal menghadapi drama baru. Klub London Selatan itu memasuki fase krusial dengan performa yang belum stabil dan tekanan klasemen yang terus membayangi. Di tengah situasi tersebut, aktivitas transfer justru membuka babak cerita yang lebih kompleks.

Bursa transfer musim dingin 2026 yang awalnya diharapkan menjadi solusi berubah menjadi masalah baru. Kedatangan Jorgen Strand Larsen dari Wolverhampton Wanderers sebagai rekrutan termahal klub justru beriringan dengan gagalnya kepindahan Jean-Philippe Mateta ke AC Milan. Alih-alih menutup satu masalah, The Eagles justru harus mengelola dua variabel besar dengan gaya main yang mirip di lini depan.

1. Jorgen Strand Larsen memecahkan rekor transfer Crystal Palace meski kurang produktif

Crystal Palace menuntaskan transfer Jorgen Strand Larsen pada hari terakhir bursa Januari 2026 dengan nilai yang tidak kecil. Wolves menerima tawaran sebesar 43 juta pound sterling (Rp986,09 miliar) ditambah 5 juta pound sterling (Rp114,6 miliar) dalam bentuk add-ons dengan total potensi transfer mencapai 48 juta pound sterling (Rp1,100 triliun). Kesepakatan itu lahir setelah proses negosiasi verbal yang intens, dengan Strand Larsen meneken kontrak berdurasi 4,5 tahun plus opsi perpanjangan 1 musim.

Nilai tersebut otomatis memecahkan rekor transfer klub dan menempatkan Strand Larsen sebagai investasi terbesar Palace sepanjang sejarah. Keputusan ini terasa kontras dengan performanya pada 2025/2026, ketika penyerang Norwegia itu hanya mencetak 1 gol di English Premier League (EPL) dari 22 penampilan. Namun, Palace memilih untuk tidak terlalu terpaku pada statistik jangka pendek yang lahir di tengah keterpurukan Wolves.

Performa Palace akhir-akhir ini menjelaskan langkah berani tersebut. Tim asuhan Oliver Glasner kini berada di posisi ke-15 klasemen, hanya berjarak 9 poin dari zona degradasi, serta melewati 12 laga tanpa kemenangan di semua kompetisi. Masalah utama Palace terletak pada produktivitas gol, terutama saat Jean-Philippe Mateta mengalami penurunan performa dalam beberapa pekan terakhir.

Dengan performa demikian, Strand Larsen diharapkan mampu memberikan dampak instan, meski berisiko. Ia lebih muda 3 tahun dibanding Mateta, memiliki profil fisik yang serupa sebagai target man, dan membawa rekam jejak 14 gol Premier League bersama Wolves pada musim sebelumnya. Palace menilai, rekam jejak tersebut lebih relevan ketimbang performa singkat pada musim ini, sehingga transfer ini lebih merupakan taruhan pada pemulihan, bukan jaminan hasil instan.

2. Transfer Jean-Philippe Mateta ke AC Milan gagal usai dinyatakan tidak lolos tes medis

Di saat Crystal Palace mengamankan Jorgen Strand Larsen, saga Jean-Philippe Mateta justru bergerak ke arah sebaliknya. AC Milan muncul sebagai peminat serius dan mencapai kesepakatan dengan Palace dalam paket transfer bernilai lebih dari 30 juta euro (Rp593,7 miliar). Situasi ini membuat Mateta tidak masuk skuad The Eagles dalam laga melawan Nottingham Forest, dengan alasan sang pemain dinilai tidak berada di tempat yang tepat untuk bermain.

Transfer tersebut awalnya tampak mulus, terutama karena Palace hanya bersedia melepas Mateta jika valuasi mereka terpenuhi. Namun, rangkaian pemeriksaan medis di London mengubah segalanya. Milan menemukan kekhawatiran terkait kondisi lutut Mateta, yang sebelumnya juga membuat Palace berhati-hati, termasuk saat menepikan sang striker pada ronde ketiga FA Cup 2025/2026 melawan Macclesfield FC.

Selain faktor medis, dinamika finansial turut memperkeruh situasi. Keraguan Milan muncul akibat risiko keuangan jangka panjang yang diperparah oleh tuntutan komisi agen yang dinilai terlalu tinggi. Kombinasi ketidakpastian fisik dan beban finansial akhirnya mendorong Milan menarik diri dan meninggalkan Mateta dalam posisi menggantung jelang penutupan bursa transfer.

Dampaknya tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga psikologis. Mateta sudah berada di ambang kepindahan, tetapi harus kembali ke Selhurst Park dengan status yang tidak lagi utuh. Relasinya dengan suporter pun mulai terkikis, terlihat dari sorakan penonton dalam laga melawan Chelsea pada pekan ke-23 liga, sementara ia hanya mencatat 2 gol dalam 13 pertandingan terakhir Premier League. Padahal, sebelum saga ini, Mateta berstatus sebagai top skor klub dengan performa konsisten, meski kontraknya sudah memasuki 18 bulan terakhir tanpa kejelasan perpanjangan.

3. Crystal Palace kini punya dua striker serupa yang bisa memicu ketegangan di ruang ganti

Dalam jangka pendek, Crystal Palace kini menghadapi dilema internal. Jorgen Strand Larsen datang dengan status rekrutan termahal, sementara Jean-Philippe Mateta tetap bertahan sebagai penyerang utama musim ini. Kompetisi langsung di lini depan tidak terelakkan, sekaligus berpotensi menciptakan ketegangan di ruang ganti jika peran dan hierarki tidak dikelola dengan jelas.

Beban tersebut jatuh ke pundak Oliver Glasner, yang sudah mengonfirmasi akan meninggalkan klub pada akhir musim. Ia harus mengintegrasikan Strand Larsen saat musim kompetisi berjalan, sembari memulihkan fokus Mateta yang sempat terganggu oleh saga transfer. Situasi ini rawan memunculkan disharmoni jika hasil di lapangan tidak segera membaik.

Secara taktis, Palace juga menghadapi persoalan struktural. Strand Larsen dan Mateta memiliki profil yang relatif mirip, yakni penyerang bertubuh besar yang mengandalkan duel dengan bek tengah dan permainan membelakangi gawang. Kehadiran Strand Larsen tidak serta-merta menghadirkan variasi, melainkan duplikasi peran, sehingga fleksibilitas taktik Palace tetap terbatas.

Integrasi pada pertengahan musim makin memperbesar tantangan. Strand Larsen membutuhkan adaptasi cepat dengan sistem dan rekan setim baru, sementara Palace tidak memiliki banyak ruang untuk eksperimen di tengah ancaman degradasi. Waktu menjadi faktor krusial, dan setiap kesalahan penilaian dapat berdampak langsung pada posisi klasemen.

Dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, konsekuensinya kian kompleks. Jika Strand Larsen gagal mengembalikan performa terbaiknya, Palace berisiko terjebak dengan dua striker mahal, sementara masa depan kontrak Mateta tetap belum tuntas. Sebaliknya, jika Strand Larsen berhasil memenuhi ekspektasi, Palace memiliki jalur yang lebih mulus untuk menggeser Mateta pada bursa musim panas 2026.

Ambisi mendatangkan striker baru pada deadline day bursa transfer Palace justru melahikan masalah baru. Klub menunjukkan keberanian untuk berinvestasi besar, tetapi juga menegaskan pola reaktif dalam mengelola ketidakpastian. Drama ini bukan semata soal siapa yang datang atau pergi, melainkan tentang bagaimana The Eagles menavigasi keputusan besar di tengah tekanan waktu dan performa.

Crystal Palace kini memasuki paruh kedua musim 2025/2026  dengan dua striker dan satu pertanyaan besar. Jawabannya tidak hanya akan ditentukan oleh gol, tetapi juga oleh kemampuan klub mengelola risiko yang mereka ciptakan sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team