Dalam jangka pendek, Crystal Palace kini menghadapi dilema internal. Jorgen Strand Larsen datang dengan status rekrutan termahal, sementara Jean-Philippe Mateta tetap bertahan sebagai penyerang utama musim ini. Kompetisi langsung di lini depan tidak terelakkan, sekaligus berpotensi menciptakan ketegangan di ruang ganti jika peran dan hierarki tidak dikelola dengan jelas.
Beban tersebut jatuh ke pundak Oliver Glasner, yang sudah mengonfirmasi akan meninggalkan klub pada akhir musim. Ia harus mengintegrasikan Strand Larsen saat musim kompetisi berjalan, sembari memulihkan fokus Mateta yang sempat terganggu oleh saga transfer. Situasi ini rawan memunculkan disharmoni jika hasil di lapangan tidak segera membaik.
Secara taktis, Palace juga menghadapi persoalan struktural. Strand Larsen dan Mateta memiliki profil yang relatif mirip, yakni penyerang bertubuh besar yang mengandalkan duel dengan bek tengah dan permainan membelakangi gawang. Kehadiran Strand Larsen tidak serta-merta menghadirkan variasi, melainkan duplikasi peran, sehingga fleksibilitas taktik Palace tetap terbatas.
Integrasi pada pertengahan musim makin memperbesar tantangan. Strand Larsen membutuhkan adaptasi cepat dengan sistem dan rekan setim baru, sementara Palace tidak memiliki banyak ruang untuk eksperimen di tengah ancaman degradasi. Waktu menjadi faktor krusial, dan setiap kesalahan penilaian dapat berdampak langsung pada posisi klasemen.
Dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, konsekuensinya kian kompleks. Jika Strand Larsen gagal mengembalikan performa terbaiknya, Palace berisiko terjebak dengan dua striker mahal, sementara masa depan kontrak Mateta tetap belum tuntas. Sebaliknya, jika Strand Larsen berhasil memenuhi ekspektasi, Palace memiliki jalur yang lebih mulus untuk menggeser Mateta pada bursa musim panas 2026.
Ambisi mendatangkan striker baru pada deadline day bursa transfer Palace justru melahikan masalah baru. Klub menunjukkan keberanian untuk berinvestasi besar, tetapi juga menegaskan pola reaktif dalam mengelola ketidakpastian. Drama ini bukan semata soal siapa yang datang atau pergi, melainkan tentang bagaimana The Eagles menavigasi keputusan besar di tengah tekanan waktu dan performa.
Crystal Palace kini memasuki paruh kedua musim 2025/2026 dengan dua striker dan satu pertanyaan besar. Jawabannya tidak hanya akan ditentukan oleh gol, tetapi juga oleh kemampuan klub mengelola risiko yang mereka ciptakan sendiri.