FIFA sendiri masih belum mantap dengan skema ini. Lewat laman resminya pada Desember 2025, mereka mengumumkan komitmen untuk tidak mengimplementasikan skema tersebut. Ini sebuah kabar baik mengingat implikasi dari dynamic pricing bisa sangat destruktif dan cenderung tak adil. Apalagi, edisi kali ini diselenggarakan di Amerika Utara yang merupakan salah satu region dengan penghasilan surplus dan tingkat konsumsi tertinggi di dunia.
Bisa dipastikan harga tiket Piala Dunia 2026 bakal meroket mengingat permintaan yang tinggi, terutama karena faktor penonton lokal. Skema penjualan ekstraktif macam ini bakal makin memperjelas, ketimpangan dan mungkin berpotensi melanggengkan monopoli global. Kalau mengadopsi istilahnya Cory Doctorow, Piala Dunia 2026 bisa jadi momen “enshittification” FIFA. Seperti media sosial dan e-commerce, ia berhasil bikin kita menjalin relasi emosi (percaya, dependen) dengan institusi tersebut. Saat mereka tahu seberapa besar ketergantungan kita pada mereka, institusi itu bakal dengan mudahnya melakukan apa yang mereka mau untuk meraup profit, dan kerap kali itu tidak diimbangi dengan peningkatan mutu.
Belum lagi saat ini kita berada pada era attention economy, yakni ketika atensi atau perhatian orang adalah sebuah kelangkaan yang bisa dimonetisasi. Piala Dunia 2026 bisa dimanfaatkan untuk mengeksploitasi itu selayaknya model bisnis media sosial. Dipercaya bakal jadi turnamen olahraga terbesar tahun ini, bayangkan berapa banyak profit yang bisa ditangkap FIFA dari investor yang mau beriklan (membeli perhatian publik) lewat turnamen mereka.