Kita semua tahu, lini pertahanan Liverpool menjadi yang terburuk di tim empat besar Premier League. Musim ini, Liverpool seperti sangat mudah kebobolan. Total di liga mereka telah kebobolan sebanyak 46 kali.
Hal tersebut tidak sepenuhnya karena buruknya bek dan kiper mereka. Namun, satu di antara faktornya adalah tidak adanya gelandang bertahan murni yang dimiliki Liverpool. Di tangan Klopp, sepanjang musim Liverpool bermain sangat menyerang. Mereka menerapkan garis pertahanan tinggi dan mewajibkan dua bek sayap untuk membantu penyerangan.
Gaya bermain seperti ini sangat rawan jika tim lawan sukses merebut bola dan melakukan serangan balik. Para penyerang lawan akan mudah mengekploitasi bek Liverpool jika gelandang bertahan gagal merebut bola dan gol untuk tim lawan semakin mudah terjadi.
Seperti diketahui, musim lalu pemain yang berposisi sebagai gelandang bertahan Liverpool adalah Jordan Henderson. Ia kerap mendapat banyak kritikan karena penampilannya tidak konsisten.
Ia yang bukan sebagai gelandang bertahan murni memiliki tugas sangat berat. Selain bertugas membantu lini pertahanan, ia juga dibebani tugas untuk memulai serangan. Ia adalah pemain yang bertugas menentukan ke arah mana serangan Liverpool.
Liverpool nampaknya sudah sadar akan kelemahannya dan sangat membutuhkan gelandang bertahan yang lebih hebat dari Henderson. Gelandang bertahan yang mumpuni bisa membantu kinerja bek-bek dari Liverpool.
Tugas pertama pemain dengan posisi ini adalah memutus serangan awal permainan lawan. Ia juga diharuskan sering-sering merebut bola di lini tengah permainan.
Fabinho dengan tinggi badan 188 cm bisa mudah memenangkan perebutan bola. Dengan demikian, ia bisa meringankan kerja para pemain bertahan Liverpool dan lini belakang tak akan mudah dieksploitasi penyerang lawan.