Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Amerika Serikat di Piala Dunia 1930, Sang Kuda Hitam
ilustrasi pertandingan sepak bola (unsplash.com/Tobias Flyckt)
  • Timnas Amerika Serikat tampil mengejutkan di Piala Dunia 1930 dengan melaju hingga semifinal dan meraih posisi ketiga, capaian tertinggi mereka sepanjang sejarah turnamen.
  • Skuad AS terbentuk dari kombinasi pemain profesional dan amatir karena sulit merekrut bintang liga domestik, bahkan ada pemain dipilih karena kemampuan bahasa Spanyolnya.
  • Bert Patenaude mencetak hattrick pertama dalam sejarah Piala Dunia saat melawan Paraguay, sementara kekalahan 1-6 dari Argentina di semifinal tetap mengantarkan AS finis peringkat ketiga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Timnas Amerika Serikat memang belum selevel Brasil atau Jerman. Namun, tahukah kamu, mereka pernah membuat geger edisi Piala Dunia perdana pada 1930? Saat itu, AS melaju ke semifinal dan finis di peringkat ketiga.

1. Amerika Serikat hanya dianggap tim penggembira di Piala Dunia 1930

Pada awal abad 21, para atlet yang dikirim ke turnamen internasional harus merasakan lamanya perjalanan menuju negeri tuan rumah. Itu juga yang dialami Timnas Amerika Serikat jelang Piala Dunia edisi pertama. Pada 13 Juni 1930, mereka naik kapal uap SS Munargo yang bertolak dari New Jersey.

Waktu tempuh perjalanan laut menuju Montevideo, ibu kota Uruguay, mencapai 18 hari. Dilansir situs resmi FIFA, saking lamanya mengarungi laut, mereka sempat mampir di dua destinasi wisata sebelum sampai tujuan. Tempat tersebut adalah Bermuda yang dikenal dengan pantainya serta kota wisata populer Brasil, Rio de Janeiro.

Di sisi lain, Timnas Amerika Serikat berangkat ke Uruguay tanpa memasang target. Alasannya karena mereka sadar AS sama sekali tidak diunggulkan. Dua tahun sebelumnya di Olimpiade 1928, mereka dibantai Argentina dengan skor telak 2-11. Banyak yang mengira mereka hanya tim penggembira di ajang ini alias berpotensi mengemas koper lebih cepat.

2. Sulit merekrut bintang, akhirnya merekrut pemain amatir

Ada satu mitos yang menyebut kalau pemain Amerika Serikat saat itu diimpor dari Inggris dan Skotlandia. Faktanya, memang ada enam pemain lahir di Britania Raya. Namun, mayoritas dari mereka pindah ke AS ketika masih kecil atau remaja bersama keluarga.

Para pemain kelahiran Skotlandia terdiri dari Alexander Wood, Jimmy Gallagher, Andy Auld, Jim Brown, dan Bart McGhee. Hanya satu nama yang berasal dari Inggris, yakni bek kiri, George Moorhouse. Moorhouse tercatat pernah mentas di kasta ketiga Liga Inggris bersama Tranmere Rovers pada 1921–1923. Itu pun hanya dua kali bermain.

Membentuk Timnas AS susahnya setengah mati. Banyak bintang liga domestik saat itu, American Soccer League (ASL), menolak panggilan timnas karena ogah meninggalkan pekerjaan dan bisnis selama berbulan-bulan. Akhirnya, setelah seleksi terbuka, terpilih 16 gabungan pemain klub profesional dan amatir. The Philly Soccer Page menjelaskan, seorang pemain bernama James Gentle direkrut dengan alasan unik: ia fasih berbahasa Spanyol yang dituturkan penduduk Uruguay.

3. Bert Patenaude mencatatkan sejarah sebagai pencetak hattrick pertama di Piala Dunia

Piala Dunia 1930 jadi panggung kehebatan penyerang muda berusia 20 tahun, Bert Patenaude. Pada laga pembuka fase grup yang berlangsung pada 13 Juli 1930 di Estadio Parque Central, Montevideo, Amerika Serikat menekuk Belgia dengan skor 3-0. Patenaude mencetak satu gol di partai tersebut, tetapi sejarah tercipta saat mereka berjumpa Paraguay pada 17 Juli 1930.

Patenaude mengamuk dengan memborong tiga gol alias hattrick dalam kemenangan 3-0 atas La Albirroja. Capaian tersebut resmi menahbiskan dirinya sebagai pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang memboyong trigol. Ia duluan ketimbang Guillermo Stabile (Argentina) yang melakukan hal serupa 2 hari setelahnya.

Sampai sekarang, rekor 4 gol Patenaude dalam 1 Piala Dunia masih jadi yang terbanyak untuk Timnas Amerika Serikat. Ini bahkan tak mampu dilampaui legenda era modern seperti Landon Donovan atau Clint Dempsey. Ketajamannya sendiri bukan kebetulan. Situs resmi Timnas AS menjelaskan, Patenaude memang seorang striker haus gol di ASL pada dekade 1930-an.

4. Takluk secara brutal saat berhadapan dengan Argentina pada semifinal

Setelah tampil perkasa pada fase grup tanpa kebobolan satu gol pun, Amerika Serikat lolos ke semifinal. Mereka bertemu dengan lawan di Olimpiade 2 tahun sebelumnya, Argentina. Tensi tinggi dari pertemuan sebelumnya masih segar dalam ingatan. Alhasil, pertandingan berjalan dengan brutal.

Kiper, Jimmy Douglas, harus bermain hampir sepanjang laga dengan lutut terkilir parah setelah dijegal dengan keras oleh pemain lawan. Lebih parahnya lagi, Ralph Tracy mengalami patah kaki kanan pada menit 19 dan harus ditarik keluar pada masa turun minum. Karena waktu itu belum ada aturan pergantian pemain, AS terpaksa bermain dengan sepuluh orang pada babak kedua.

Kendati sudah bertahan sekuat tenaga, AS akhirnya menyerah. Mereka takluk 1-6 dari Argentina setelah kebobolan 3 gol pada 10 menit terakhir waktu normal. Satu gol pelipur lara dicetak penyerang, Jim Brown, pada menit ke-89.

5. Aturan selisih gol membuat FIFA memberikan peringkat ketiga Piala Dunia 1930 kepada Amerika Serikat

Kendati kalah dengan skor telak pada semifinal, anak asuh Robert Millar tersebut pulang dengan kepala tegak. US Soccer Players menjelaskan, FIFA menetapkan Amerika Serikat sebagai peringkat ketiga berdasarkan keunggulan selisih gol sejak fase grup. Ini disebabkan Yugoslavia kalah 1-6 dari tuan rumah, Uruguay, pada semifinal.

Raihan tersebut jadi capaian tertinggi yang belum pernah diulang generasi selanjutnya. Di sisi lain, AS membuktikan diri siap memberi kejutan sejak pertama kali mengikuti Piala Dunia. Hal tersebut terulang di Piala Dunia 1950 Brasil. AS, yang lagi-lagi diisi pemain amatir, sukses menaklukkan Inggris yang berstatus tim sarat bintang dengan skor tipis 1-0.

Termasuk tahun ini, Amerika Serikat sudah 12 kali berpartisipasi di Piala Dunia. Prestasi terbaik setelah peringkat ketiga pada 1930 adalah perempat final Piala Dunia 2002. Kini, The Stars and Stripes dengan skuad berisi banyak pemain yang merumput di kompetisi Eropa diharap bisa berbicara banyak di rumah sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team