Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Fakta Timnas RD Kongo, Sang Leopard yang Kembali ke Panggung Dunia
ilustrasi stadion sepak bola (IDN Times/Mardya Shakti)
  • Republik Demokratik Kongo kembali ke Piala Dunia 2026 setelah menunggu 52 tahun, terakhir kali tampil pada 1974 saat masih bernama Zaire.
  • Skuad RD Kongo kini diperkuat banyak pemain diaspora Eropa seperti Aaron Wan-Bissaka, Yoane Wissa, dan Axel Tuanzebe yang membawa pengalaman dari liga top dunia.
  • Tim berjuluk The Leopards tergabung di Grup K bersama Portugal, Kolombia, dan Uzbekistan, dengan kapten Chancel Mbemba menegaskan tekad tampil maksimal demi kebanggaan Afrika.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Republik Demokratik Kongo memastikan satu tiket ke putaran final Piala Dunia 2026. Mereka tampil di ajang 4 tahunan tersebut karena mengalahkan Jamaika di final playoff antarkonfederasi. RD Kongo akhirnya ke panggung dunia lagi setelah menunggu selama 52 tahun.

1. Pernah tampil pada putaran final Piala Dunia, tetapi menggunakan nama berbeda

Nama Republik Demokratik Kongo baru dipakai pada 1997. Sebelum tampil di Piala Dunia 2026, satu-satunya penampilan mereka pada putaran final Piala Dunia terjadi pada 1974 di Jerman Barat. Saat itu, mereka masih menggunakan nama Zaire. Tim asuhan Blagoje Vidinic pada masanya finis sebagai juru kunci grup sebab selalu kalah di tiga pertandingan. Salah satunya takluk 0-9 di tangan Yugoslavia.

2. Menjadi tim yang disegani di Afrika pada akhir dekade 1960-an dan sepanjang 1970-an

Meski baru dua kali lolos ke Piala Dunia, Republik Demokratik Kongo sudah berpartisipasi di Piala Afrika (Afcon) sebanyak 21 kali. Mereka memenangi kejuaraan tersebut dua kali. Uniknya, RD Kongo meraih trofi supremasi sepak bola antarnegara Afrika tersebut dengan nama berbeda. Gelar juara pertama diraih pada 1968 saat masih disebut Kongo-Kinshasa. Gelar juara kedua diraih pada 1974 ketika bernama Zaire.

3. Timnas RD Kongo mengandalkan para pemain diaspora hasil didikan kompetisi Eropa

Dilansir The Guardian, Timnas Republik Demokratik Kongo saat ini diisi banyak pemain diaspora di Eropa, terutama Prancis, Belgia, dan Inggris. Beberapa contohnya adalah Aaron Wan-Bissaka (West Ham United) yang lahir dan besar di Inggris, Yoane Wissa (Newcastle United) yang lahir di Prancis, serta Axel Tuanzebe (Burnley) yang lahir Bunia, RD Kongo, tetapi pindah ke Inggris sejak usia balita. Turut pula Lionel Mpasi (Le Havre), kelahiran Meaux, Prancis, sekaligus lulusan akademi Paris Saint-Germain (PSG).

4. Piala Dunia 2026 jadi titik akhir perjalanan panjang kualifikasi selama hampir 3 tahun

Tiap kali mencetak gol, para pemain Republik Demokratik Kongo punya selebrasi unik berbentuk dansa yang disebut fimbu, yang berarti 'cambuk' dalam bahasa Lingala. Selebrasi ini meniru gerakan mencambuk sebagai simbol mereka baru saja menghukum pertahanan lawan. Dilansir Yahoo News, selebrasi ini sempat tren setelah berkali-kali dilakukan di Afcon 2017.

5. Cedric Bakambu berpotensi menyamai rekor legenda Timnas RD Kongo

Striker senior yang kini memperkuat Real Betis, Cedric Bakambu, punya motivasi ganda. Jika berhasil mencetak satu gol saja pada putaran final Piala Dunia 2026, ia akan menyamai rekor Dieumerci Mbokani sebagai top scorer sepanjang masa Timnas Republik Demokratik Kongo. Dilansir RSSSF.org, Mbokani mencetak total 22 gol dalam 49 pertandingan pada 2005–2022.

6. Bertemu Portugal, Kolombia, dan Uzbekistan pada penyisihan grup Piala Dunia 2026

Republik Demokratik Kongo tergabung di Grup K bersama Portugal, Kolombia, dan Uzbekistan. Dilansir FIFA.com, sang kapten, Chancel Mbemba, menegaskan timnya harus membumi dan bekerja keras demi menjaga kehormatan. Meski lawan mereka pada fase grup terbilang sulit, bek klub Lille tersebut berjanji memberi segalanya demi membanggakan seluruh Afrika.

Jelang Piala Dunia 2026, Chancel Mbemba dan kawan-kawan turut memanaskan mesin dengan melakoni pertandingan uji coba. Mereka berhasil menahan imbang Denmark dengan skor 0-0 pada Rabu (3/6/2025) lalu. Ini persiapan yang tak main-main. Mereka seolah mengirim sinyal bahwa tim berjuluk Leopards itu enggan menjadi tim penggembira.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article