Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gak Terima Gelar Piala Afrika Dicabut, Senegal Seret CAF ke CAS
Trofi Piala Afrika (cafonline.com)
  • Federasi Sepak Bola Senegal menggugat CAF ke Pengadilan Arbitrase Olahraga setelah gelar Piala Afrika 2025 mereka dicabut dan diberikan kepada Maroko.
  • Pemerintah Senegal mendukung langkah hukum SFF serta menuntut investigasi independen terkait dugaan korupsi di tubuh CAF.
  • Kontroversi bermula dari laga final kacau di Rabat, saat Senegal meninggalkan lapangan sebagai protes atas penalti kontroversial untuk Maroko.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Federasi Sepak Bola Senegal (SFF) siap berperang di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Langkah ini demi mempertahankan gelar Piala Afrika 2025, yang telah dicabut oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).

CAF memberikan gelar tersebut kepada Maroko selaku lawan Senegal di final. Keputusan ini berakar dari partai puncak yang penuh kekacauan di Prince Moulay Abdellah Stadium, Rabat, pada 19 Januari 2026.

1. Kutuk keputusan zalim, Rapat Exco CAF tidak akan berjalan mulus

SFF merilis pernyataan keras yang menyebut keputusan CAF zalim dan tidak dapat diterima. Mereka juga menuduh putusan tersebut telah mendiskreditkan dan mencoreng nilai-nilai sepak bola Afrika.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) SFF, Abdoulaye Seydou Sow, menegaskan negaranya tidak akan tinggal diam. ESPN melansir, disebut salah satu Exco SFF lainnya, peperangan itu akan dimulai dari Rapat Komite Eksekutif CAF yang berlangsung pada 29 Maret 2026.

"Kami tidak akan mundur. Hukum berada di pihak kami," kata Abdoulaye Seydou Sow.

2. Tuntut investigasi korupsi di tubuh CAF

Pemerintah Senegal mendukung penuh perlawanan SFF dan memberikan bantuannya. Mereka mendesak adanya penyelidikan internasional secara independen terkait dugaan praktik korupsi di dalam tubuh CAF.

"Senegal tidak akan mentolerir keputusan administratif yang menghapus komitmen, prestasi, dan keunggulan olahraga," begitu pernyataan resmi pemerintah Senegal.

3. Pemain Senegal sindir CAF dan Maroko

CAF menggunakan Pasal 82 yang berujung pada aktivasi Pasal 85 regulasi turnamen untuk menganulir status juara Senegal. Dalam aturan tersebut, tim yang meninggalkan lapangan sebelum laga usai tanpa izin wasit akan dianggap kalah dan dieliminasi.

Senegal memang meninggalkan lapangan sekitar 15 menit. Tindakan itu merupakan bentuk protes keras atas keputusan wasit yang dianggap kontroversial, yakni memberikan hadiah penalti kepada Maroko pada menit 90+5.

Singa Teranga akhirnya kembali ke lapangan setelah dibujuk sang kapten, Sadio Mane. Insiden ini yang membut Brahim Diaz baru mengeksekusi penalti pada menit 90+24. Menariknya, Diaz yang mengeksekusi dengan gaya panenka gagal menundukkan kiper Eduardo Mendy.

Mane dan sejumlah pemain lain, macam Pathe Ciss dan El Hadj Malick Diouf berang atas keputusan tersebut. Lewat akun media sosial, mereka menentang keputusan CAF dan menyindir Maroko.

"Dunia tahu siapa juara sejatinya," tulis Mane.

Editorial Team