Ragnar Ache sebetulnya produktif sebelum 2025/2026. Pria yang lahir pada 28 Juli 1998 ini berhasil mencetak 41 gol dari 88 penampilan dalam 3 musim. Namun, itu semua terjadi di 2. Bundesliga Jerman. Sebelumnya, Ache cuma mengoleksi satu gol di Bundesliga yang tercipta kala membantu Eintracht Frankfurt mengalahkan Freiburg 3-1 pada 22 Mei 2021. Oleh karenanya, Ache pun kerap dianggap sebagai flop. Ia dinilai tidak mampu bersaing di level tertinggi sekaligus gagal memenuhi potensinya. Ache memang terhitung talenta istimewa saat masih remaja. Ia merupakan langganan Timnas Jerman U-21 dan bahkan bagian skuad Der Panser di Olimpiade 2020. Akibatnya, keskeptisan pun meliputi transfer Ache dari Kaiserslautern ke Koeln pada 1 Juli 2025.
Koeln bahkan dianggap membuang-buang uang karena harus menebusnya 4,5 juta euro (Rp78,22 miliar). Ache gagal membantah opini tersebut pada paruh pertama 2025/2026. Ia kesulitan beradaptasi setelah 3 musim beruntun bermain di kasta kedua dan terbebani dengan ekspektasi tinggi. Namun, seperti telah disinggung di awal, kondisi mulai berubah pada paruh kedua. Menurut pelatih Koeln, Lukas Kwasniok, ini tidak terlepas karena kerja keras Ache. Kwasniok mengakui, Ache datang tidak dalam kondisi fisik terbaik. Namun, ia terus berlatih dengan giat di belakang layar. Ache bahkan disebut menjalani sesi tambahan bersama pelatih individu. Jeda kompetisi makin memberinya waktu untuk membaik. Kini, progres pun mulai terlihat dengan gol salto sebagai bukti teranyar.
Ache saat ini berusia 27 tahun. Belum terlambat baginya untuk bisa mencapai level maksimal. Ache bisa berkaca kepada Niclas Fuellkrug. Striker yang kini membela AC Milan tersebut mencetak gol debutnya di Bundesliga pada 2012. Ia baru mengemas gol keduanya 5 tahun berselang. Namun, Fuellkrug moncer setelah gol keduanya itu sampai akhirnya mampu menembus Timnas Jerman pada 2022 saat berumur 29 tahun. Mampukah Ache melakukan hal serupa?