Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Infantino Diduga Langgar Piagam Olimpiade Usai Terlibat Board of Peace
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir dan Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Dok. PSSI)
  • Presiden FIFA Gianni Infantino diduga melanggar Piagam Olimpiade setelah menghadiri penandatanganan kesepakatan Board of Peace dan menyumbang 75 juta dolar AS untuk rekonstruksi lapangan di Gaza.
  • Komite Olimpiade Internasional menilai keterlibatan Infantino berpotensi mencerminkan keberpihakan politik, bertentangan dengan prinsip netralitas yang diatur dalam poin kelima Piagam Olimpiade.
  • Presiden IOC Kirsty Coventry memastikan akan melakukan investigasi resmi terhadap tindakan Infantino, menegaskan pentingnya penghormatan terhadap tujuh prinsip fundamental Piagam Olimpiade.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Presiden FIFA, Gianni Infantino, diduga melanggar Piagam Olimpiade setelah menghadiri penandatanganan kesepakatan Board of Peace.
  • Who?
    Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang dipimpin Kirsty Coventry selaku pihak yang menyoroti dugaan pelanggaran tersebut.
  • Where?
    Coventry melayangkan pernyataannya di sela-sela Olimpiade Musim Dingin Italia
  • When?
    Peristiwa terjadi pada Kamis, 19 Februari 2026, saat Infantino menghadiri acara Board of Peace dan menyatakan komitmen sumbangan untuk rekonstruksi lapangan sepak bola di Gaza.
  • Why?
    Dugaan pelanggaran muncul karena tindakan Infantino dinilai menunjukkan keberpihakan politik, bertentangan dengan prinsip netralitas politik sebagaimana tercantum dalam pasal lima Piagam Olimpiade.
  • How?
    IOC berencana melakukan investigasi terhadap dokumen dan tindakan Infantino untuk memastikan apakah keterlibatannya dalam Board of Peace melanggar prinsip-prinsip fundamental Piagam Olimpiade.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengendus adanya pelanggaran dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, atas nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam Olimpiade. Presiden IOC, Kirsty Coventry, menyatakan hal tersebut terjadi setelah Infantino menghadiri penandatanganan kesepakatan dalam Board of Peace (BoP), Kamis (19/2/2026).

Dalam momen tersebut, Infantino setuju untuk memberikan sumbangan sebesar 75 juta dolar Amerika Serikat (Rp1,2 triliun) sebagai bagian dari rekonstruksi lapangan sepak bola yang hancur akibat perang di Gaza. Kesepakatan ini, dianggap IOC, kental dengan aroma politik.

Selain itu, Infantino juga mendukung Trump dalam berbagai kesempatan, termasuk memberikannya penghargaan perdamaian atas nama FIFA.

1. Infantino diduga langgar pasal lima 7 Prinsip Fundamental Piagam Olimpiade

Coventry menegaskan, tujuh Prinsip Fundamental Piagam Olimpiade harus dihormati dan dijalankan oleh organisasi atau anggota IOC. Dalam pasal lima, ditegaskan jika setiap organisasi atau anggota, harus menjalankan netralitas politik.

"Piagam Olimpiade sangat jelas dengan apa yang diharapkan dari setiap anggotanya. Kami akan menindaklanjuti dan melakukan riset atas dokumen yang sudah ditandatangani," kata Coventry di sela-sela Olimpiade Musim Dingin Italia, dilansir ESPN.

2. IOC bakal lakukan investigasi

IOC, dijamin Coventry, akan melakukan investigasi atas apa yang sudah dilakukan Infantino. Sebab, tindakan pria asal Swiss tersebut sudah menunjukkan intensi adanya keberpihakan politik dalam tataran global.

"Sekarang, Anda harus peka. Kami akan meninjau dan memeriksanya," ujar Coventry.

3. Indonesia sempat kena sanksi IOC

Pelanggaran atas pasal lima dalam Piagam Olimpiade sebenarnya sudah sempat dijatuhkan sanksinya kepada Indonesia. Itu ketika Indonesia menolak kehadiran atlet Israel dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik pada 2025 lalu.

IOC saat itu mengimbau kepada seluruh federasi olahraga dunia, untuk mencoret Indonesia dari proses pencalonan sebagai tuan rumah sebuah turnamen berskala dunia. Hal ini berlaku sampai Indonesia memberikan jaminan jika semua pihak bisa masuk ke wilayahnya, tanpa memandang dari negara mana mereka berasal.

Editorial Team