Jika masalah defensif membuat Bournemouth rapuh, penurunan daya serang membuat mereka kian sulit keluar dari krisis. Pada sembilan laga pertama musim ini, Bournemouth menjadi tim paling mematikan dalam skema fast-break dengan lima gol dari situasi transisi cepat. Namun, dalam sembilan laga terakhir, angka itu anjlok menjadi dua gol, yang menandakan hilangnya senjata utama dari filosofi Andoni Iraola.
Penurunan ini tak terlepas dari kegagalan penyelesaian akhir. Dalam periode sembilan pertandingan terakhir, Bournemouth hanya mencetak 11 gol dari total 16,1 expected goals (xG), menghasilkan underperformance sebesar -5,1 yang menjadi terburuk di Premier League per pekan ke-18. Data ini menunjukkan krisis eksekusi yang sistemik, bukan sekadar soal keberuntungan.
Ketidakjelasan profil penyerang utama turut memperparah situasi. Eli Junior Kroupi masih terlalu muda dan belum siap memimpin lini depan di level Premier League, sementara Evanilson hanya mencetak 2 gol dari lebih dari 1.150 menit bermain. Rotasi berulang di posisi penyerang tengah inilah yang menghambat kontinuitas pola serangan dan sinkronisasi dengan lini kedua.
Dalam kondisi ini, Bournemouth makin bergantung kepada Antoine Semenyo. Winger asal Ghana tersebut telah mencetak sembilan gol musim ini dan tetap menjadi sumber ancaman utama, tetapi ketergantungan berlebihan membuat struktur serangan menjadi mudah dibaca. Ketika performa Semenyo menurun atau ia dijaga ketat, kreativitas Bournemouth ikut menghilang.
Ironisnya, perubahan profil permainan Bournemouth justru menjauhkan mereka dari kekuatan asli Iraola-ball. Rata-rata penguasaan bola meningkat hingga 57,7 persen dalam lima laga terakhir, sementara tempo serangan menurun. Alih-alih memancing transisi, Bournemouth kini sering berhadapan dengan blok rendah yang tidak mampu mereka bongkar secara konsisten.