Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bola Premier League
potret bola Premier League (pixabay.com/KelvinStuttard)

Intinya sih...

  • Masalah struktural pada fase bertahan dan pressing membuat fondasi Iraola-ball retak

  • Serangan Bournemouth tumpul akibat ketergantungan berlebih kepada Antoine Semenyo

  • Rotasi pemain dan tekanan mental akibat hasil buruk memperburuk penurunan Bournemouth

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

AFC Bournemouth sempat menjadi anomali paling menarik pada awal English Premier League (EPL) 2025/2026. Tim asuhan Andoni Iraola tampil agresif, berani, dan efisien hingga sempat bersaing di papan atas klasemen. Namun, dalam hitungan pekan, performa itu runtuh dan kemenangan menjadi barang langka.

Kini, The Cherries terjebak dalam periode tanpa kemenangan yang panjang dan terjun ke papan tengah bawah. Situasi ini tidak bisa dibaca semata-mata sebagai kemunduran hasil pertandingan. Ia mencerminkan kombinasi masalah struktural, penurunan daya gedor, dan faktor di luar lapangan yang bersamaan mempercepat kejatuhan performa tim.

1. Masalah struktural pada fase bertahan dan pressing membuat fondasi Iraola-ball retak

Penurunan performa AFC Bournemouth berawal dari rusaknya fondasi defensif yang sebelumnya menopang Iraola-ball. Musim panas 2025 memaksa klub melepas dua bek inti, Dean Huijsen dan Illia Zabarnyi, yang selama musim sebelumnya berperan penting dalam menjaga garis pertahanan tinggi tetap terkoordinasi. Ketiadaan dua figur tersebut menurunkan kualitas komunikasi, timing duel, dan keberanian lini belakang dalam membaca momen pressing.

Dampaknya terlihat jelas dalam statistik kebobolan. Dilansir The Athletic, sejak awal November 2025, Bournemouth telah kemasukan 22 gol dalam 9 pertandingan liga, catatan terburuk di antara seluruh tim di lima liga top Eropa pada periode yang sama. Angka ini menunjukkan kegagalan struktural kolektif, bukan sekadar kesalahan individu dari Marcos Senesi, Bafode Diakite, atau Djordje Petrovic.

Lawan-lawan Bournemouth juga makin mahir mengeksploitasi mekanisme pressing Iraola. Pada pekan ke-18 Premier League melawan Brentford, seperti Manchester United dan Burnley sebelumnya, menggunakan striker yang turun lebih dalam seperti Igor Thiago untuk menarik bek tengah keluar dari garis. Pergerakan ini membuka half-space yang kemudian dieksploitasi oleh pelari cepat seperti Kevin Schade, sekaligus memudahkan tuan rumah memenangkan duel bola kedua di lini tengah.

Masalah ini diperparah oleh hilangnya intensitas sejak menit awal pertandingan. Iraola sendiri mengakui timnya telat panas pada 45 menit pertama saat kalah 1-4 dari Brentford, sebuah pernyataan yang mencerminkan problem mental sekaligus struktural. Pressing yang setengah hati membuat blok tinggi Bournemouth mudah dilewati dengan umpan vertikal sederhana.

Absennya Tyler Adams menjadi faktor krusial lain dalam rapuhnya fase transisi defensif. Gelandang timnas Amerika Serikat itu berfungsi sebagai jangkar fisik dan penyeimbang agresivitas tim, khususnya dalam mengamankan ruang setelah pressing gagal. Tanpa Adams, lini tengah Bournemouth kerap kosong dan mudah ditembus dalam skenario transisi negatif.

2. Serangan Bournemouth tumpul akibat ketergantungan berlebih kepada Antoine Semenyo

Jika masalah defensif membuat Bournemouth rapuh, penurunan daya serang membuat mereka kian sulit keluar dari krisis. Pada sembilan laga pertama musim ini, Bournemouth menjadi tim paling mematikan dalam skema fast-break dengan lima gol dari situasi transisi cepat. Namun, dalam sembilan laga terakhir, angka itu anjlok menjadi dua gol, yang menandakan hilangnya senjata utama dari filosofi Andoni Iraola.

Penurunan ini tak terlepas dari kegagalan penyelesaian akhir. Dalam periode sembilan pertandingan terakhir, Bournemouth hanya mencetak 11 gol dari total 16,1 expected goals (xG), menghasilkan underperformance sebesar -5,1 yang menjadi terburuk di Premier League per pekan ke-18. Data ini menunjukkan krisis eksekusi yang sistemik, bukan sekadar soal keberuntungan.

Ketidakjelasan profil penyerang utama turut memperparah situasi. Eli Junior Kroupi masih terlalu muda dan belum siap memimpin lini depan di level Premier League, sementara Evanilson hanya mencetak 2 gol dari lebih dari 1.150 menit bermain. Rotasi berulang di posisi penyerang tengah inilah yang menghambat kontinuitas pola serangan dan sinkronisasi dengan lini kedua.

Dalam kondisi ini, Bournemouth makin bergantung kepada Antoine Semenyo. Winger asal Ghana tersebut telah mencetak sembilan gol musim ini dan tetap menjadi sumber ancaman utama, tetapi ketergantungan berlebihan membuat struktur serangan menjadi mudah dibaca. Ketika performa Semenyo menurun atau ia dijaga ketat, kreativitas Bournemouth ikut menghilang.

Ironisnya, perubahan profil permainan Bournemouth justru menjauhkan mereka dari kekuatan asli Iraola-ball. Rata-rata penguasaan bola meningkat hingga 57,7 persen dalam lima laga terakhir, sementara tempo serangan menurun. Alih-alih memancing transisi, Bournemouth kini sering berhadapan dengan blok rendah yang tidak mampu mereka bongkar secara konsisten.

3. Rotasi pemain dan tekanan mental akibat hasil buruk memperburuk penurunan Bournemouth

Di luar aspek taktis, konteks eksternal mempercepat penurunan performa Bournemouth. Akumulasi cedera dan suspensi memaksa Andoni Iraola mengubah susunan pemain hampir setiap pekan, terutama di lini tengah dan pertahanan. Situasi ini menghilangkan stabilitas, pola alami permainan, serta rasa saling percaya antarpemain.

Ketidakpastian masa depan juga membayangi ruang ganti. Antoine Semenyo dilaporkan lebih memilih pindah ke Manchester City pada bursa transfer Januari 2026, sementara kontrak Marcos Senesi dan Andoni Iraola sendiri berada dalam situasi abu-abu. Potensi kehilangan pemain terbaik, bek utama, dan kepala pelatih menciptakan ketidakpastian kolektif yang sulit diabaikan.

Rentetan sembilan laga tanpa kemenangan turut menggerus kepercayaan diri tim. Duel-duel fisik mulai dihindari, kehilangan determinasi dalam pressing, dan kesalahan elementer yang sering muncul dalam 90 menit. Pemain yang sebelumnya tampil dominan kini terlihat ragu dalam mengambil keputusan sederhana.

Rekrutmen musim panas Bournemouth sebenarnya masuk akal dalam perspektif jangka panjang, mengingat banyaknya pemain yang dilepas. Namun, para pemain baru dipaksa memberi dampak instan dalam situasi krisis kepercayaan diri, tuntutan yang dinilai kurang realistis. Bournemouth, pada titik ini, tidak hanya kehilangan bentuk permainan, tetapi juga keyakinan bahwa sistem mereka masih berfungsi.

Bagi Bournemouth, kemerosotan ini lebih mencerminkan fase koreksi dari proyek berisiko tinggi ketimbang kehancuran total. Tantangan terbesar Andoni Iraola kini bukan menemukan sistem baru, melainkan mengembalikan kepercayaan kolektif jika Iraola-ball masih layak diperjuangkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team