Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Kekalahan Telak Burnley sebelum Degradasi di EPL 2025/2026
English Premier League (pixabay.com/KelvinStuttard)
  • Burnley resmi terdegradasi dari Premier League 2025/2026 setelah kalah 0-1 dari Manchester City dan hanya mengumpulkan 20 poin hingga pekan ke-34.
  • Sepanjang musim, Burnley mengalami empat kekalahan telak dengan selisih minimal tiga gol, termasuk saat menghadapi Tottenham, Manchester City, Sunderland, dan Nottingham Forest.
  • Faktor utama degradasi Burnley adalah inkonsistensi performa, lemahnya lini pertahanan, serta kegagalan menjaga momentum di laga-laga penting sepanjang musim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Burnley resmi terdegradasi dari English Premier League 2025/2026. Kepastian itu didapat usai takluk 0-1 saat menjamu Manchester City pada pekan 34. Dengan torehan 20 poin, klub berjuluk The Clarets dipastikan tak akan mampu menggeser West Ham United yang berada di peringkat 17 sebagai posisi aman terakhir.

Sebelum turun kasta, Burnley melalui perjuangan yang tak mudah di Premier League musim ini. Mereka merasakan empat kekalahan telak dengan minimal selisih tiga gol. Hal tersebut bahkan telah terjadi sejak pekan pembuka.

1. Burnley terbantai 0-3 di markas Tottenham Hotspur pada pekan perdana

Burnley langsung meraih hasil mengecewakan pada laga perdana. Mereka dibuat tak berdaya saat mengunjungi markas Tottenham Hotspur pada 16 Agustus 2025. Skuad besutan Scott Parker takluk dengan skor telak tiga gol tanpa balas.

Pada babak pertama, gawang The Clarets yang dijaga Martin Dubravka hanya kebobolan satu gol oleh aksi Richarlison pada menit 10. Untuk kedua kalinya, Richarlison kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit 60, dengan sepakan kaki kanan memanfaatkan assist Mohammed Kudus. Lalu, Brennan Johnson menutup pesta gol tuan rumah dengan sepakan kaki kanan 6 menit berikutnya.

2. Burnley takluk 1-5 di markas Manchester City

Burnley sempat memberi perlawanan sengit pada awal laga saat datang ke kandang Manchester City pada pekan 6. Setelah tertinggal lebih dahulu oleh gol bunuh diri Maxime Esteve pada menit 12, The Clarets mampu menyamakan kedudukan lewat sepakan kaki kiri Jaidon Anthony pada menit 38. Dua gol itu membuat babak pertama berakhir dengan skor 1-1.

Namun, tim tamu dibuat tak berdaya pada babak kedua. The Citizens tampil begitu dominan hingga mencetak empat gol dan menutup laga dengan keunggulan 5-1. Matheus Nunes membawa Manchester City kembali unggul pada menit 61, disusul gol bunuh diri kedua Esteve pada menit 65. Lalu, Erling Haaland memborong dua gol lainnya yang tercipta pada menit 90 dan 90+3.

3. Burnley kalah 0-3 di markas Sunderland

Setelah menahan imbang Manchester United, Liverpool, dan Tottenham Hotspur dalam tiga laga beruntun, Burnley meraih hasil pahit pada pekan 24. Tim besutan Scott Parker harus mengakui ketangguhan Sunderland yang bermain di markas sendiri dengan skor 0-3. Lagi-lagi, pemain The Clarets menciptakan gol bunuh diri.

Sembilan laga usai babak pertama dimulai, Burnley tertinggal 0-1 oleh gol bunuh diri pemain belakang mereka, Axel Tuanzebe. Habib Diarra lalu membawa tuan rumah unggul lebih jauh dengan sepakan kaki kanan pada menit 32. Sedangkan, satu gol lainnya dicetak Chemsdine Talbi pada menit 72.

4. Sempat unggul lebih dahulu, Burnley dibantai 1-4 di markas Nottingham Forest

Burnley sempat memulai laga dengan baik saat mengunjungi markas Nottingham Forest pada pekan 33. Mereka menutup babak pertama dengan keunggulan tipis 1-0 lewat gol Zian Flemming pada menit 45+2. Namun, The Clarets tak mampu mempertahankan keunggulan pada babak kedua.

Morgan Gibbs-White muncul sebagai penyelamat tim tuan rumah. Ia mencetak hattrick yang sekaligus membalikkan keadaan bagi Nottingham pada menit 62, 69, dan 77. Lalu, satu gol lainnya dicetak Igor Jesus pada menit 90+8.

Empat kekalahan telak tersebut menjadi gambaran nyata betapa beratnya persaingan di Premier League musim ini bagi Burnley. Inkonsistensi performa, rapuhnya lini pertahanan, serta kegagalan mempertahankan momentum dalam sejumlah laga krusial membuat mereka kesulitan bersaing hingga akhirnya harus menerima kenyataan pahit terdegradasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team