Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pesepak bola Malut United Yakob Sayuri melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Madura United pada pertandingan BRI Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Kie Raha Ternate, Maluku Utara, Jumat (19/9/2025). (ANTARA FOTO/Andri Saputra/YU)
Pesepak bola Malut United Yakob Sayuri melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Madura United pada pertandingan BRI Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Kie Raha Ternate, Maluku Utara, Jumat (19/9/2025). (ANTARA FOTO/Andri Saputra/YU)

Intinya sih...

  • KemenHAM meminta klarifikasi PSSI terkait dugaan rasisme dan perundungan yang dialami Yakob Sayuri.

  • I.League mendampingi PSSI dalam menjalankan kampanye Anti-Bullying dan Anti-Racism secara berkelanjutan.

  • Kasus tindakan rasis terhadap Yakob Sayuri memicu desakan agar sepak bola Indonesia bebas dari praktik rasisme dan perundungan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KemenHAM RI) meminta klarifikasi kepada PSSI terkait dugaan praktik rasisme dan perundungan yang dialami pemain Malut United FC, Yakob Sayuri. Permintaan klarifikasi tersebut disampaikan dalam pertemuan yang digelar di Jakarta, Selasa (20/1).

Dalam agenda tersebut, PT Liga Indonesia Baru (I.League) turut mendampingi PSSI memenuhi panggilan KemenHAM RI. Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari aksi massa Barisan Trobos Malut United Jabodetabek (Batoma-Jabodetabek) yang menuntut penanganan serius atas kasus dugaan rasisme terhadap Yakob Sayuri.

Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Marsinah, KemenHAM RI, dan dihadiri Staf Khusus Menteri HAM Bidang Pemenuhan HAM Yos Nggarang, perwakilan Direktorat Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM, perwakilan PSSI, Komite Disiplin PSSI, serta I.League sebagai operator kompetisi sepak bola nasional.

Yos Nggarang menyampaikan apresiasi kepada PSSI dan I.League atas komitmen menjaga nilai-nilai hak asasi manusia dalam sepak bola Indonesia.

“Sepak bola seharusnya menjadi wadah perdamaian dan persaudaraan tanpa memandang suku, ras, maupun warna kulit. Oleh karena itu, I.League diharapkan berada di garis depan dalam melawan rasisme dan perundungan,” ujar Yos Nggarang, dikutip Kamis (22/1/2026).

1. I.League yang mendampingi PSSI memaparkan sejumlah upaya preventif dan edukatif

Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KemenHAM RI) memanggil Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan I.League sebagai tindak lanjut atas kasus rasisme dan perundungan (bullying) yang menimpa salah satu pemain sepak bola Indonesia. Pemanggilan yang dilaksanakan di Ruang Rapat Marsinah, KemenHAM RI, pada Senin (20/1/2026) (Dok/Humas Kementerian Hak Asasi Manusia)

Dalam pertemuan tersebut, KemenHAM meminta penjelasan dari PSSI mengenai langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan untuk menangani, serta mencegah praktik rasisme dan perundungan di lingkungan sepak bola nasional.

Menanggapi hal itu, I.League yang mendampingi PSSI memaparkan sejumlah upaya preventif dan edukatif yang telah dijalankan sejak awal musim kompetisi. Salah satunya melalui kampanye Anti-Bullying dan Anti-Racism yang dilakukan secara berkelanjutan.

Kampanye tersebut disebarluaskan melalui media sosial, pesan visual di stadion dan lapangan pertandingan, serta berbagai aktivitas langsung di lingkungan kompetisi.

2. I.League juga menggandeng APPI untuk memperluas jangkauan kampanye

Pemain Malut United, Yakob Sayuri, dalam sesi latihan di Stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya, 14 Januari 2025. (Instagram.com/malutunitedfc)

Selain itu, I.League juga menggandeng Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) untuk memperluas jangkauan kampanye serta meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional mengenai pentingnya sportivitas dan saling menghormati.

Ke depan, KemenHAM mendorong PSSI dan I.League untuk terus memperkuat kampanye antirasisme dan anti-perundungan dengan pendekatan yang lebih luas dan mendalam. Kolaborasi lintas institusi dinilai penting guna menekan potensi terulangnya kasus serupa.

Langkah tersebut diharapkan dapat mewujudkan ekosistem sepak bola nasional yang inklusif, aman, dan berkeadilan.

3. Yakob Sayuri diduga menjadi korban tindakan rasisme

Pemain Malut United, Yakob Sayuri, merayakan gol yang ia cetak ke gawang Bhayangkara Presisi FC pada laga pekan ke-7 BRI Super League 2025/2026 yang berlangsung di Stadion Sumpah Pemuda Bandar Lampung, 25 September 2025. (Instagram.com/malutunitedfc)

Kasus ini mencuat setelah Yakob Sayuri diduga menjadi korban tindakan rasis dalam laga Malut United FC melawan Persita Tangerang. Insiden tersebut terjadi di lorong Stadion Indomilk Arena ketika seorang yang tidak dikenal memasuki area steril dan memicu kericuhan.

Namun, Yakob justru dijatuhi sanksi larangan bermain selama tiga pertandingan oleh Komite Disiplin PSSI. Keputusan tersebut menuai reaksi keras dari suporter Salawaku yang menilai sanksi tidak mempertimbangkan situasi secara utuh.

Para suporter mendesak Komdis PSSI bersikap objektif serta melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap dugaan tindakan rasisme yang dialami Yakob Sayuri. Kasus ini pun menjadi sorotan luas dan memicu desakan agar sepak bola Indonesia bebas dari praktik rasisme dan perundungan.

Editorial Team