Pemain Valencia merayakan gol bersama suporter. (instagram.com/valenciacf)
Keputusan kontroversial Lim lain yang disorot adalah keenggannnya melakukan investasi pemain yang tepat dan terarah. Setelah melepas pemain-pemain kunci macam Carlos Soler, Ferran Torres, dan Goncalo Guedes, Valencia tak segera mencari pengganti dan memperbarui skuad. Mereka kini bertumpu pada pemain-pemain lawas dan pinjaman seperti Jose Gaya, Mouctar Diakhaby, Justin Kluivert, Samuel Lino, dan Gabriel Paulista. Bahkan, mereka memilih untuk berhemat dengan merekrut pemain bebas agen, seperti Edinson Cavani dan Samu Castillejo.
Meski berstatus miliarder, Lim bukan pemilik klub yang royal. Ia cenderung menghindari transaksi yang spektakuler untuk mendatangkan pemain baru. Sejak 2020/2021, seiring badai pandemi COVID-19, budget belanja pemain pun dipangkas. Pada musim 2022/2023, Valencia hanya melakukan 3 pembelian terbuka atas nama Andre Almeida, Hugo Duro, dan Cenk Özkacar. Sisanya, bila tidak didatangkan secara cuma-cuma, mereka merupakan pemain muda yang baru mentas dari akademi/tim muda.
Kebijakan Lim bisa dilihat sebagai peluang emas bagi para pemain homegrown, seperti Diego Lopez, Hugo Guillamón, dan Yunus Musah. Namun, ini mirip dengan Leicester City usai diakusisi konglomerat Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha. Srivaddhanaprabha merekrut beberapa pemain muda sekaligus usai menjual satu pemain kuncinya tiap musim. Sempat mengangkat status timnya di English Premier League (EPL), setidaknya selama beberapa musim Leicester City akhirnya terpuruk dan terelegasi juga pada 2022/2023.
Kemunduran ini sontak membuat posisi Lim tak aman. Suporter mulai menghujatnya. The Guardian melaporkan aksi protes yang dilakukan suporter Valencia pada Februari 2023 lalu. Spanduk-spanduk bernada sinis pada Peter Lim dibentangkan. Sikap rasis suporter pada Vinicius Jr. saat tim kesayangan mereka melawan Real Madrid Mei 2023 lalu juga tidak memperbaiki keadaan. Justru itu mengonfirmasi 2022/2023 sebagai musim terburuk Valencia sejauh ini.