Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenangan Buruk Pelatih Ratchaburi, Tanda Fans Indonesia Belum Maju
Persib lawan Ratchaburi di 16 besar ACL2 2025/26. (Dok. Persib)
  • Pelatih Ratchaburi, Worrawoot Srimaka, kembali menyaksikan kericuhan suporter Indonesia usai laga melawan Persib di babak 16 besar AFC Champions League 2025/26.
  • Ia mengenang kejadian serupa saat masih menjadi pemain, termasuk insiden pembakaran stadion Senayan pada era 1997–2002 setelah Thailand mengalahkan Indonesia.
  • Worrawoot menilai perilaku brutal sebagian fans Indonesia belum banyak berubah dari masa lalu hingga sekarang, mencerminkan masalah yang masih berulang di sepak bola nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bagi pelatih Ratchaburi, Worrawoot Srimaka, fans sepak Indonesia tidak pernah berubah. Setelah dulu sebagai pemain dia melihat fans ricuh, kini kericuhan itu ia lihat lagi sebagai pelatih.

Dilansir akun Facebook Thai League, Worrawoot menceritakan pengalamannya melihat kericuhan fans Indonesia dari sudut pandang sebagai pelatih dan pemain. Hal itu jadi sebuah pengalaman spesial.

1. ACL2 dan kompetisi Asia Tenggara yang berkelindan

Persib lawan Ratchaburi di ACL2 2025/26. (Dok. Persib)

Sebagai pelatih, baru-baru ini Worrawoot merasakan kericuhan suporter Indonesia. Dia melihat betul ganasnya fans pasca Ratchaburi melawan Persib dalam leg kedua 16 besar AFC Champions League (ACL2) 2025/26.

Kenangan ini membawanya kembali pada momen, antara final SEA Games 1997 atau final Piala AFF 2002. Ketika itu, Thailand menang atas Indonesia, tetapi yang dia saksikan adalah kebrutalan fans di stadion.

2. Melihat stadion dibakar, menyelamatkan diri lebih dulu

Pemain baru Persib, Layvin Kurzawa. (Dok. Persib)

Worrawoot mengungkapkan, melihat apa yang terjadi pasca Persib lawan Ratchaburi, dia teringat akan kejadian di Senayan kisaran 1997 sampai 2002. Alhasil, dia pun meminta para pemain menyelamatkan diri lebih dulu.

"Saya pernah mengalami ini sebelumnya di Senayan, ketika stadion dibakar setelah Thailand mengalahkan Indonesia. Sebanyak 100 ribu penggemar membakar stadion, masih terukir dalam ingatan saya," kata Worrawoot.

3. Sadar tak ada yang berubah dari fans Indonesia

Persib lawan Ratchaburi di ACL2 2025/26. (Dok. Persib)

Menyaksikan dua peristiwa brutal yang melibatkan fans, Worrawoot pun berkesimpulan ada hal yang masih belum berubah dari fans Indonesia. Kebrutalan itu tetap ada, dan belum hilang sepenuhnya.

"Ini adalah peristiwa bersejarah lain yang harus dicatat, sesuatu yang tidak diinginkan siapa pun. Kebrutalan fans sepak bola Indonesia tetap sama, tidak berubah, dan bahkan mungkin lebih brutal dari sebelumnya," tutur pelatih Ratchaburi itu.

Editorial Team