Banyak periset percaya dan berargumen bahwa sepak bola dahulu lekat dengan kelas pekerja. Cabor ini murah dan inklusif. Tak banyak alat yang harus disediakan, pun ia bisa dimainkan di mana saja, tak perlu stadion mewah. Mickael Correia dalam bukunya yang berjudul A People’s History of Football pun menggarisbawahi fenomena ini lewat kemunculan beberapa tim seperti Barcelona FC, Liverpool, Arsenal, dan Corinthians. Klub-klub itu identik dengan kelas pekerja (kerah biru) dan kelompok tersisih (minoritas) dan akhirnya menciptakan komunitas antikemapanan. Beberapa bahkan menjelma jadi penggerak isu sosial seperti suporter Corinthians yang pada 1980-an aktif menyuarakan nilai pro-demokrasi dan ketidaksukaan mereka terhadap pemerintah junta militer Brasil.
Namun, seiring dengan laju modernisasi dan privatisasi yang didorong oleh ideologi neoliberalisme, banyak klub sepak bola yang tercerabut dari identitas kelas pekerja dan antikemapanan tadi. Tim sepak bola kini lebih cocok disebut korporasi. Manchester City adalah contoh konkretnya. Awalnya berdiri sebagai perwakilan kelas pekerja dan imigran Irlandia di kota Manchester, kini mereka jadi klub yang mendemonstrasikan kesuksesan model bisnis kapitalis dalam sepak bola, yakni multiownership dan investasi global.
Fan yang dulu adalah bagian integral dalam tim sepak bola, bahkan bisa punya hak suara, kini hanya jadi konsumen pasif. Kita menyaksikan berbagai perubahan yang tak menyenangkan terjadi dalam tim dan turnamen sepak bola, tetapi tak pula punya kuasa untuk menolak apalagi mengubahnya. Kalau mengutip argumen Louisa Toxværd Munch, pengajar dan mahasiswa doktoral di Universitas Warwick, klub sepak bola mulai kehilangan daya pikat dan ikatan emosinya dengan penggemar, terutama kelas pekerja. Di sinilah, nostalgia dipakai untuk kembali menggaet penggemar. Lebih tepatnya dengan mengingatkan kita pada memori indah masa lalu ketika neoliberalisme atau kapitalisme secara umum belum berkembang sejauh ini.