Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bagaimana Timnas Italia Gagal Ke Piala Dunia dalam 3 Edisi Beruntun?
ilustrasi jersey dengan logo Timnas Italia (unsplash.com/SalahRegouane)
  • Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti dari Bosnia & Herzegovina, memperpanjang catatan buruk tiga edisi beruntun tanpa tampil di turnamen tersebut.
  • Krisis regenerasi pemain dan dominasi pesepak bola asing di Serie A membuat Timnas Italia kekurangan talenta lokal berkualitas untuk bersaing di level internasional.
  • Keputusan keliru FIGC dalam menunjuk pelatih, ditambah minimnya filosofi permainan berkelanjutan, memperparah penurunan performa Gli Azzurri di ajang kualifikasi dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Timnas Italia menorehkan catatan buruk usai gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Gli Azzurri kalah adu penalti dengan skor 1-4 dari Bosnia & Herzegovina pada playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026. Alhasil, Italia gagal melaju ke Piala Dunia dalam tiga edisi beruntun. Sebelumnya, Gli Azzurri tidak lolos ke Piala Dunia 2018 dan 2022.

Rekor ini menjadi sebuah ironi bagi negara dengan tradisi dan sejarah sepak bola mentereng seperti Italia. Gli Azzurri merupakan juara Piala Dunia empat kali dan pernah melahirkan segudang pesepak bola top. Lantas, bagaimana Timnas Italia bisa sampai gagal lolos ke Piala Dunia dalam tiga edisi beruntun?

1. Tidak ada pemain Italia yang memiliki kualitas papan atas

Italia telah melewati masa-masa kejayaannya ketika memiliki pesepak bola top, macam Andrea Pirlo, Alessandro Nesta, Francesco Totti, atau Alessandro Del Piero. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) gagal melakukan program regenerasi usai para legenda tersebut pensiun sebagai pemain. Hal tersebut tidak lepas dari kebijakan FIGC yang melonggarkan klub-klub Serie A Italia mendatangkan pemain asing.

Salah satu titik lemah Italia adalah lini depan. Gli Azzurri tidak lagi memiliki striker tajam seperti Luca Toni, Alessandro Del Piero, Filippo Inzaghi, atau Christian Vieri. Para penyerang Italia, seperti Andrea Belotti dan Ciro Immobile, gagal menunjukkan ketajamannya kala membela selama Kualifikasi Piala Dunia 2018 dan 2022. Sementara itu, striker-striker macam Gianluca Scamacca, Moise Kean, Mateo Retegui, dan Pio Esposito belum cukup mentereng untuk memimpin lini depan Italia.

2. Klub-klub Serie A lebih sering mengandalkan pemain veteran dan asing ketimbang talenta lokal

Buruknya kualitas Timnas Italia dipengaruhi dengan klub-klub Serie A yang lebih sering mengandalkan pemain veteran dan asing ketimbang talenta lokal. Menurut Transfermarkt, dari total 534 pemain yang bermain di Serie A, 366 di antaranya pesepak bola asing. Artinya, 68,5 persen pemain yang membela klub-klub Serie A bukan berasal dari Italia.

Inter Milan menjadi klub dengan jumlah pemain asing terbanyak, yaitu 16 pemain. Hanya ada delapan talenta lokal yang membela tim utama I Nerazzurri, seperti Alessandro Bastoni, Federico Dimarco, Nicolo Barella, Pio Esposito, Davide Frattesi, dan Francesco Acerbi. Sementara itu, AC Milan hanya memiliki 5 pemain lokal di tim utama, dengan tiga di antaranya tercatat pemain reguler, macam Samuele Ricci, Andrea Bartesaghi, dan Matteo Gabbia. Parahnya lagi, klub-klub Serie A sering kali mendatangkan pemain-pemain veteran asing yang sudah melewati era keemasannya, seperti Luka Modric ke AC Milan, Franck Ribery bersama Fiorentina, Kevin De Bruyne di Napoli, dan Pedro Rodriguez di Lazio.

Terlalu banyak pemain asing yang menjadi andalan klub-klub besar Serie A jadi salah satu faktor krusial Timnas Italia kesulitan menemukan talenta terbaik dengan kualitas papan atas. Hal tersebut mempengaruhi proses seleksi pemain untuk membela Gli Azzurri. Jenjang pembinaan pemain muda dari level akademi klub sampai tim nasional senior yang tidak dikelola secara serius menjadi salah satu kendala regenerasi sepak bola Italia.

3. Minimnya pelatih berkualitas untuk menangani Timnas Italia

Italia sebenarnya tidak kekurangan pelatih top yang berprestasi. Sebut saja, Massimiliano Allegri kala menangani AC Milan serta Juventus, Simone Inzaghi bersama Inter Milan, dan Antonio Conte dengan Napoli. Beberapa pelatih muda Italia mampu menampilkan sepak bola menyerang bersama klub-klub di liga top Eropa lain, seperti Roberto De Zerbi bersama Brighton & Hove Albion serta Olympique Marseille, dan Francesco Farioli dengan Ajax Amsterdam serta FC Porto.

Namun, FIGC kerap kali membuat keputusan keliru ketika menunjuk pelatih tim nasional. Seperti penunjukkan Gian Piero Ventura yang berakhir kegagalan lolos ke Piala Dunia 2018. Roberto Mancini yang menggantikan Ventura sempat menorehkan prestasi mentereng kala menjuarai Euro 2020. Akan tetapi, ia gagal membawa Italia melaju ke Piala Dunia 2022.

Luciano Spaletti yang baru saja menjuarai Serie A 2022/2023 bersama Napoli menjadi pengganti Mancini, tetapi performa Gli Azzurri mengecewakan selama Euro 2024. FIGC malah menunjuk Gennaro Gattuso yang tidak punya rekam jejak apik dalam karier kepelatihan di level klub. Alhasil, Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya edisi 2026.

Selain tiga faktor di atas, beberapa penyebab utama performa Timnas Italia terus mengalami penurunan, seperti gaya bermain terlalu taktis dan tempo lambat, tidak ada filosofi sepak bola yang berkelanjutan, dan berbagai konflik kepentingan dalam jajaran manajemen FIGC. Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi pukulan berat bagi fans Gli Azzurri. Italia akan selamanya kesulitan bersaing dengan negara-negara top dunia lainnya jika tidak ada perubahan besar, seperti pembinaan pemain muda, aturan ketat terkait kuota pemain asing di Serie A, serta memberikan akses kepada klub untuk mendirikan stadion sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team