Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pemain
ilustrasi pemain (unsplash.com/jonathanmw)

Yan Diomande menjadi salah satu bintang muda paling mencuri perhatian pada 2025/2026. Winger kelahiran 14 November 2006 ini begitu bersinar bersama RB Leipzig. Per 28 Januari 2026, ia sudah mencetak 7 gol dan 5 assist di Bundesliga Jerman. Di antara penggawa U-20 lain di lima liga top Eropa, hanya Lamine Yamal (Barcelona) yang memiliki keterlibatan minimal 10 gol (8 gol, 8 assist).

Di balik catatan impresif tersebut, ada kisah unik dari karier Diomande. Sebelum bergabung dengan Leipzig dari Leganes pada 16 Juli 2025, pemain setinggi 1,8 meter ini justru mengasah talentanya di negara yang mana sepak bola bukan olahraga utama. Diomande tercatat menetap di Amerika Serikat selama 2 tahun pada 2022—2024.

1. Yan Diomande pergi ke Amerika Serikat karena mengikuti perintah orang tua

Talenta sepak bola Yan Diomande sudah menonjol sejak kecil. Ia rutin mendapat panggilan dari Timnas Pantai Gading U-17 meski baru berusia 15 tahun. Sayangnya, Diomande terbentur aturan untuk bisa menjadi pemain profesional. Ia harus menunggu 3 tahun lagi untuk bisa mencapai status tersebut. Orang tuanya lantas mengambil inisiatif karena melihat kegigihan sang anak mencapai mimpinya. Mereka mengirimnya ke Amerika Serikat pada 2022.

Negara tersebut memang bukan opsi tepat. Namun, itu dipilih demi menyeimbangkan minat sepak bola dan kebutuhan edukasi. Diomande yang masih bocah pun tidak banyak mempertanyakan keputusan orang tuanya. Ia justru senang karena bisa merasakan pergi ke luar Afrika pertama kalinya. Diomande lantas bersekolah di Yulee High School yang terletak di Florida. Sementara, dalam menimba ilmu sepak bola, Diomande bergabung dengan DME Academy yang berada di wilayah yang sama.

2. Dua gol Yan Diomande membuat AS Frenzi menjuarai United Premier Soccer League 2023

Bakat istimewa Yan Diomande membuatnya naik kelas dari kelompok umur yang seharusnya ia huni saat berada di DME Academy. Kualitas spesial itu pula yang memaksa manajemen klub memilihnya sebagai salah satu pemain yang dipinjamkan kepada AS Frenzi untuk mengarungi United Premier Soccer League (UPSL) edisi musim semi 2023. Diomande menjawab kepercayaan tersebut dengan sempurna. Ia mencetak dua gol pada final yang membuat mereka menang 2-1 atas Sporting Wichita.

Bagi pemuda 16 tahun, ini jelas pencapaian yang membanggakan. Terlebih, UPSL juga bukan kompetisi abal-abal karena setara kasta keempat di Amerika Serikat. Pelatih Frenzi saat itu, Tyler Weston, memaksimalkan potensi Diomande dengan cerdik. Ia memainkannya sebagai bek sayap. Di satu sisi, langkah tersebut terlihat seperti membuang-buang ancamannya di lini depan. Namun, Weston justru melakukannya agar Diomande bisa lebih cepat menerima bola.

3. Yan Diomande meninggalkan Amerika Serikat untuk bergabung dengan Leganes

Usaha Yan Diomande untuk menjadi pesepak bola profesional makin keras setelah resmi mencapai 17 tahun yang merupakan usia pre-professional contract. Menurut pengakuannya, ia melakukan trial di sejumlah klub Eropa, seperti Chelsea, Rangers, Olympiacos, dan Leganes. Diomande juga menjalaninya di dua klub Major League Soccer (MLS), yaitu Colorado Rapids dan Charlotte FC. Namun, tidak ada yang menjalin kesepakatan dengannya, baik itu karena mereka yang kurang terpikat atau Diomande sendiri yang merasa tidak yakin.

Alasan lain adalah agen. Diomande mengungkapkan, ini yang membuatnya gagal mencapai kesepakatan dengan Leganes. Namun, setelah mengganti agennya, ia akhirnya mendapat kontrak dari klub LaLiga Spanyol tersebut. Leganes mengirim Diomande ke Dubai terlebih dahulu untuk berlatih sambil menunggunya berusia 18 tahun demi mengikuti aturan bagi pemain asing. Setelahnya, ia akhirnya bergabung dengan mereka. Diomande mencetak 2 gol serta 1 assist dalam 10 laga terakhir Leganes pada 2024/2025. Itu sudah cukup membuat RB Leipzig bersedia menebusnya dengan harga 20 juta euro (Rp347,63 miliar).

Setelah Spanyol, Diomande berhasil melanjutkan perkembangannya di Jerman. Sejauh ini, kiprahnya berjalan mulus. Pengalamannya di Amerika Serikat tentu menjadi salah satu penyebabnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy