Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kontroversi CAF: Sekjen Mundur Usai Cabut Gelar Piala Afrika Milik Senegal
ilustrasi pertandingan Piala Afrika (pexels.com/Earth Photart)
  • Veron Mosengo-Omba resmi mundur dari jabatan Sekjen CAF setelah 30 tahun berkarier, dengan alasan ingin fokus pada proyek pribadi di luar dunia sepak bola.
  • Keputusan mundurnya Veron memicu kecurigaan publik karena waktunya bertepatan dengan kontroversi pencabutan gelar Piala Afrika milik Senegal dan isu dugaan penyalahgunaan kekuasaan.
  • Beberapa pegawai CAF menilai Veron sebagai pemimpin yang membawa suasana kerja negatif, meski tuduhan terhadapnya tidak terbukti oleh dewan etik federasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Skandal pencabutan trofi Piala Afrika dari Senegal memasuki babak baru. Setelah dihantam berbagai kontroversi, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) kini kehilangan salah satu pejabat terasnya.

Veron Mosengo-Omba memutuskan mundur dari jabatan Sekretaris Jenderal. Tindakan Veron tentu menghadirkan tanda tanya karena kontroversi mengenai pencabutan gelar Senegal.

1. Alasannya mau fokus ke proyek pribadi

Veron mengaku mundur karena alasan pribadi. Dalam pernyataannya ke media, Veron mau pensiun dan fokus pada pengembangan proyek pribadi usai berkiprah selama 30 tahun di sepak bola.

"Setelah 30 tahun berkarier di dunia sepak bola, membangun tim dan mengejar mimpi, saya memutuskan untuk mundur, fokus pada proyek pribadi," ujar Veron, dilansir dari Al Jazeera.

2. Waktu gak pas, memicu pertanyaan

Mundurnya Veron memunculkan perdebatan karena sebenarnya seorang pejabat wajib pensiun di CAF adalah ketika memasuki usia 63 tahun. Sementara, dia sudah menginjak 66 tahun. Dengan fakta itu, publik curiga jika Veron telah menyalahgunakan kekuasaan.

Selain itu, waktunya mundur sangat tidak tepat dan menimbulkan kecurigaan publik atas adanya skandal korupsi di CAF dalam kontroversi pencabutan gelar Senegal.

"Sekarang, saya bisa menghindari kecurigaan dari setiap orang. Saya bisa pensiun dengan tenang tanpa adanya tekanan, meninggalkan CAF lebih sejahtera dari sebelumnya," ujar Veron.

3. Pemimpin yang buruk?

Informasi dari dalam, Veron dianggap sebagai pemimpin yang buruk. Sejumlah pegawai CAF menyebutnya sering menularkan aura negatif yang sering membuat suasana kerja kurang nyaman.

Hingga akhirnya, sejumlah karyawan melakukan tuntutan kepada dewan etik federasi. Tapi, Veron tak terbukti bersalah.

Editorial Team