Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AFP__20260214__97KU99U__v1__HighRes__FblItaSerieaInterJuventus.jpg
Bek Juventus asal Prancis, Pierre Kalulu, melayangkan protes kepada wasit Federico La Penna setelah diganjar kartu merah saat Inter Milan bentrok dengan Juventus dalam laga Serie A 2025/26 di Stadion San Siro, Milan, 14 Februari 2026. (Foto: AFP)

Intinya sih...

  • Wasit Serie A, Federico La Penna, terima ancaman mati setelah memimpin laga sengit antara Inter Milan kontra Juventus.

  • Kontroversi bermula saat La Penna memberikan kartu kuning kedua kepada Pierre Kalulu jelang paruh pertama, yang dianggap banyak pihak sebagai keputusan yang tidak tepat.

  • Intimidasi berupa ancaman pembunuhan dan penembakan terhadap La Penna dan keluarganya membuat polisi menyarankan sang wasit tetap berada di rumah sampai ketegangan mereda.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wasit Serie A, Federico La Penna, mendapat ancaman mati setelah memimpin laga sengit antara Inter Milan kontra Juventus dalam Derby d’Italia akhir pekan lalu. Teror itu muncul menyusul keputusan kontroversial yang berujung kekalahan Juventus 2-3 dalam laga Serie A 2025/26.

Dilansir The Guardian, ancaman dikirim melalui media sosial dalam bentuk intimidasi. Sejumlah pesan berisi ancaman pembunuhan dan penembakan, bahkan menyasar keluarganya.

La Penna telah melaporkan kasus ini kepada aparat keamanan. Polisi setempat kemudian meminta sang wasit untuk sementara waktu tidak keluar rumah hingga situasi mereda.

1. Kontroversi gara-gara La Penna berikan kartu kuning kedua ke Kalulu

Kontroversi bermula saat La Penna memberikan kartu kuning kedua kepada Pierre Kalulu jelang paruh pertama. Keputusan itu diambil karena Kalulu dianggap melakukan pelanggaran saat duel dengan Alessandro Bastoni.

Namun, jika menilik tayangan ulang, kontak yang dilakukan sangat minim. Banyak pihak menilai Bastoni terjatuh terlalu mudah.

Namun karena keputusan tersebut berupa kartu kuning kedua, VAR tidak memiliki kewenangan untuk meninjau ulang. Juventus akhirnya bermain dengan 10 orang sejak babak pertama dan kehilangan momentum pertandingan.

Protes terjadi akibat wasit tak menggunakan Video Assistant Referee (VAR) usai momen krusial kartu merah Pierre Kalulu terjadi. Kepala Komisi Wasit Serie A, Gianluca Rocchi, kemudian mengakui adanya kekeliruan dalam keputusan yang diambil di laga Inter vs Juventus tersebut.

2. Banyak ancaman yang diterima La Penna dan keluarga

Skala intimidasi terhadap La Penna cukup serius. Tak cuma satu, banyak laporan ancaman yang ditujukan kepadanya, bahkan hingga keluarganya.

“Sang wasit dilaporkan menerima puluhan ancaman pembunuhan, sebagian di antaranya ditujukan kepada keluarganya. Pesan-pesan tersebut berbunyi ‘Saya akan menembakmu’, ‘Saya akan membunuhmu’, dan ‘Kami tahu di mana kamu tinggal’,” tulis The Guardian.

Menanggapi ancaman tersebut, aparat keamanan Italia telah mengambil langkah preventif. Polisi pun menyarankan sang wasit tetap berada di rumah sampai ketegangan mereda.

3. Pihak kepolisian sampai memberikan pengamanan

Pihak kepolisian pun disebut terus memantau situasi di sekitar kediaman La Penna. Mereka ogah mengambil risiko atas keselamatan perangkat pertandingan.

Di sisi lain, dampak insiden ini membuat beberapa orang di manajemen Juventus terancam sanksi. CEO klub, Damien Comolli, dinilai melanggar disiplin setelah dilaporkan mencoba mengonfrontasi wasit saat jeda laga.

Sementara, Giorgio Chiellini juga bisa saja mendapat sanksi juga. Ia kedapatan melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan La Penna.

Kasus ini kembali memicu desakan revisi aturan VAR, khususnya terkait kartu kuning kedua yang tak bisa ditinjau ulang. Lebih dari sekadar kontroversi hasil laga, ancaman terhadap Federico La Penna menjadi peringatan keras jika aturan VAR yang tak ideal bisa mengancam keselamatan manusia.

Editorial Team