Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kronologi Ricuh EPA U-20: Video Baru Klaim Dewa United Picu Insiden
ilustrasi Sepak Bola (IDN Times/Mardya Shakti)

  • Laga Dewa United vs Bhayangkara FC di EPA U-20 berakhir ricuh setelah protes keras terhadap gol yang dianggap offside memicu ketegangan di Stadion Citarum, Semarang.
  • Gesekan antar pemain makin panas ketika seorang pemain Dewa United diduga lebih dulu melakukan tendangan kungfu ke arah pemain Bhayangkara FC sebelum keributan meluas.
  • Aksi balasan Fadly Alberto dengan tendangan kungfu menjadi puncak kericuhan dan kini viral, membuka peluang sanksi berat dari Komite Disiplin bagi kedua tim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Laga Dewa United kontra Bhayangkara FC dalam lanjutan Elite Pro Academy (EPA) U-20, Minggu (19/4/2026), berubah mendapat sorotan tajam. Pertandingan yang digelar di Stadion Citarum, Semarang, itu berakhir ricuh dan diwarnai aksi kekerasan yang mencoreng pembinaan sepak bola usia muda.

Insiden yang paling menyita perhatian publik adalah aksi penyerang Bhayangkara FC, Fadly Alberto—eks andalan Timnas Indonesia U-17—yang melakukan tendangan “kungfu” kepada pemain lawan. Aksi tersebut viral di media sosial dan menuai kecaman luas.

Di tengah derasnya kritik, muncul video baru yang diklaim Bhayangkara FC jadi penyebab awal kericuhan di lapangan.

1. Protes gol, tensi mulai memanas

Kericuhan disebut bermula dari ketidakpuasan pemain Bhayangkara terhadap keputusan wasit yang mengesahkan gol Dewa United. Mereka menilai gol tersebut berbau offside.

Sejumlah pemain Bhayangkara kemudian menghampiri hakim garis di sisi lapangan untuk melayangkan protes. Wasit utama turun tangan dan meminta para pemain kembali melanjutkan pertandingan.

2. Gesekan di tengah lapangan, tudingan “kungfu” lebih dulu terjadi

Setelah laga dilanjutkan, ketegangan tak benar-benar mereda. Gesekan kembali terjadi di area tengah lapangan, ditandai dengan kontak fisik antar pemain dari kedua tim.

Situasi dengan cepat memburuk. Para pemain saling kejar, sementara sebagian lainnya mencoba melerai. Namun, dalam tayangan ulang yang beredar, disebutkan seorang pemain Dewa United bernomor punggung 107 lebih dulu melakukan menerjang salah satu pemain Bhayangkara FC dengan tendangan kungfu ke arah rusuk.

3. Aksi Alberto jadi puncak kericuhan

Insiden tersebut menjadi pemantik eskalasi konflik yang lebih besar. Keributan meluas hingga ke area bangku cadangan.

Dalam situasi yang semakin tak terkendali, Fadly Alberto kemudian melakukan aksi balasan berupa tendangan “kungfu” yang kini viral di berbagai platform media sosial.

Insiden ini membuka potensi sanksi berat, tidak hanya bagi pemain Bhayangkara FC, tetapi juga bagi kubu Dewa United. Komite Disiplin diperkirakan akan turun tangan untuk menyelidiki dan menjatuhkan hukuman kepada pihak-pihak yang terlibat.

Terlepas dari siapa yang memulai, peristiwa ini menjadi alarm keras bagi ekosistem sepak bola nasional. Kekerasan yang terjadi di level usia muda jadi sinyal pembinaan tidak hanya soal teknik, tetapi juga karakter dan sportivitas.

Editorial Team