Pemain Persija Jakarta, Marko Simic (melompat), sedang berusaha menyundul bola kiriman sepak pojok dalam laga semifinal Piala Menpora di Stadion Maguwoharjo Sleman, Kamis 15 April 2021. (Dok. PT Liga Indonesia Baru)
Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) beserta FIFA mafhum akan ramai-ramai soal sepak pojok di Premier League ini. Suara-suara penolakan maupun penerimaan soal ini sudah mereka dengar.
Akan tetapi, FIFA dan IFAB belum melihat fenomena ini sebagai sebuah masalah. Salah satu anggota IFAB, Ian Maxwell bahkan menyebut hal itu bukanlah bahasan utama dalam rapat IFAB yang digelar di Cardiff, Wales, akhir pekan lalu.
Rapat IFAB tersebut lebih membahas amandemen aturan sepakbola secara general. Pada pekan lalu, mereka berfokus pada upaya mengurangi waktu yang terbuang saat lemparan ke dalam atau tendangan gawang.
"Itu (gulat massal di kotak penalti saat sepak pojok) bukan sesuatu yang secara khusus kami bicarakan. Apakah ada perubahan terkait perilaku tersebut selama pertandingan, hal-hal semacam itu terjadi seiring berjalannya sebuah musim," ujar Maxwell, dilansir ESPN FC.
Dalam Laws of The Game (LoTG), ditegaskan bahwa sebelum bola mati ditendang, wasit tidak dapat memberikan pelanggaran. Namun apabila dalam pergulatan itu muncul pelanggaran setelah bola ditendang, wasit berhak meniup peluit.
"Itu jelas ada dalam protokol (LoTG), karena itu secara efektif berpotensi menjadi penalti jika terjadi perebutan bola di tendangan sudut. Jadi dalam protokol saat ini, itu (gulat di kotak kecil penalti) dapat dinilai," kata Maxwell.
Terlepas dari semua suara positif dan negatif yang ada, jempol layak diacungkan bagi Arsenal untuk musim ini. Berkat skema sepak pojok yang mereka canangkan, mereka mengguncang Premier League, bahkan Eropa sekalipun.