Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Logo Tottenham Hotspur
potret logo Tottenham Hotspur (unsplash.com/Winston Tjia)

Intinya sih...

  • Thomas Frank sukses benahi pertahanan, tetapi kehilangan identitas menyerang tim

  • Ketergantungan struktur dan absennya pemain kunci jadi masalah utama kreativitas Spurs

  • Thomas Frank dihadapkan antara proyek jangka panjang dan tuntutan fans akan hasil instan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tottenham Hotspur memasuki paruh pertama musim 2025/2026 dengan perasaan yang sulit didefinisikan. Klub London Utara itu tidak sepenuhnya terpuruk, tetapi performa mereka sejauh ini masih menyisakan keraguan. Di bawah arahan Thomas Frank, Spurs justru terasa berada di ruang abu-abu antara stabil dan stagnan.

Hasil imbang tanpa gol melawan Brentford pada 1 Januari 2026 menjadi potret paling jujur dari situasi tersebut. Chant boring, boring Tottenham” yang menggema dari tribun bukan hanya luapan emosi sesaat, melainkan refleksi kegelisahan yang telah lama terpendam. Pertanyaannya kini lebih dari sekadar hasil, tetapi ke manakah sebenarnya arah permainan tim tengah dibawa.

1. Thomas Frank sukses benahi pertahanan, tetapi kehilangan identitas menyerang tim

Thomas Frank datang ke Tottenham Hotspur dengan reputasi sebagai pelatih pragmatis yang mampu memaksimalkan struktur dan efisiensi. Pendekatan itu kontras dengan era Ange Postecoglou yang menempatkan keberanian menyerang dan intensitas tinggi sebagai pilar utama. Di atas kertas, perubahan tersebut bertujuan menciptakan keseimbangan, tetapi dalam praktiknya justru mengikis identitas menyerang Spurs.

Di bawah Frank, Tottenham memang menunjukkan perbaikan defensif yang terukur. Dilansir BBC, Spurs mencatat 7 clean sheet di English Premier League (EPL) per pekan ke-19 musim ini, meningkat dibandingkan 6 clean sheet sepanjang 2024/2025. Namun, stabilitas itu datang dengan harga mahal berupa penurunan agresivitas dan keberanian dalam menyerang.

Data mendukung pernyataan di atas. Tottenham hanya mencatatkan 52 tembakan tepat sasaran dalam 16 pertandingan liga, hampir setengah dari catatan Spurs pada awal 2 musim Postecoglou. Angka itu menempatkan mereka di papan bawah liga untuk urusan produktivitas serangan, sejajar dengan Everton, Sunderland, dan Wolverhampton Wanderers, meski skuad diperkuat nama-nama ofensif baru pada musim panas 2025.

Permainan pun terasa lambat dan mudah ditebak. Dominasi penguasaan bola sering kali bersifat steril, dengan sirkulasi horizontal yang tidak diikuti progresi vertikal berarti. Chant boring, boring Tottenham” yang terdengar di Gtech Community Stadium menjadi isyarat fans yang mulai ragu terhadap filosofi baru, bukan sekadar kekecewaan atas satu hasil imbang tanpa gol.

2. Ketergantungan struktur dan absennya pemain kunci jadi masalah utama kreativitas Spurs

Tumpulnya fase menyerang Tottenham Hotspur tidak bisa dilepaskan dari kombinasi masalah struktural dan situasional. Thomas Frank membangun sistem yang sangat bergantung pada kedisiplinan posisi dan minim kesalahan, tetapi sistem tersebut tak berjalan mulus ketika pemain kunci absen. Tanpa elemen improvisasi, struktur itu berubah menjadi kerangka kaku.

Absennya James Maddison, Dejan Kulusevski, Dominic Solanke, serta Xavi Simons membuat Spurs kekurangan penghubung antarlini dan pengambil keputusan di sepertiga akhir. Maddison dan Kulusevski adalah sumber kreativitas utama, sementara Solanke memberi dimensi penghubung permainan yang vital. Tanpa mereka, Spurs kesulitan menghubungkan fase build-up dengan penyelesaian.

Peran Archie Gray sebagai gelandang serang darurat menggambarkan keterbatasan tersebut. Gray tampil rapi, disiplin, dan cerdas dalam menjaga struktur, tetapi kontribusinya tidak cukup progresif untuk membongkar blok pertahanan lawan. Momen-momen berbahaya yang ia ciptakan lebih bersifat insidental ketimbang hasil dari pola serangan yang matang.

Masalah lain muncul dari tingginya jumlah kesalahan individual. Menurut The Athletic, Frank sendiri mengakui Spurs kehilangan bola secara tidak perlu hingga 25 kali dalam laga melawan Brentford, sebuah angka yang mematikan potensi transisi positif. Kesalahan teknis dan keputusan yang buruk membuat banyak transisi di lini tengah gagal berkembang menjadi serangan utuh.

3. Thomas Frank dihadapkan antara proyek jangka panjang dan tuntutan fans akan hasil instan

Di luar lapangan, Thomas Frank menghadapi tekanan yang tak kalah kompleks. Tottenham merupakan klub besar dengan sejarah panjang kegagalan dan ekspektasi yang terus menumpuk. Perubahan masif di level manajemen, termasuk usai kepergian Daniel Levy, memperbesar rasa ketidakpastian di internal klub.

Di Brentford, Frank dikenal sebagai manajer yang sukses membangun hubungan personal dan budaya kolektif. Ia bekerja di lingkungan dengan tekanan relatif rendah dan pemain yang sebagian besar berkembang bersama proyek jangka panjang. Di Tottenham, ia justru mengelola skuad berisi pemain internasional dengan tuntutan instan.

Pendekatan yang mengutamakan keberlanjutan sistem yang sering ia sampaikan dalam konferensi pers terasa rasional secara teori. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah filosofi itu realistis di klub dengan toleransi rendah terhadap proses. Dukungan internal memang masih ada, tetapi suara dari tribun mulai menunjukkan batas kesabaran yang menipis.

Tekanan publik itu kian terasa ketika performa tim tak menawarkan hiburan sebagai kompensasi hasil. Frank berhasil memperbaiki pertahanan dan mengurangi kekalahan telak, tetapi sepak bola efisien yang ia terapkan tampak sulit diterima selama tak membuahkan hasil di lapangan. Pada titik ini, Spurs dihadapkan dengan dilema antara membangun fondasi atau sekadar menunda krisis berikutnya.

Tottenham di bawah Thomas Frank sedang berada dalam fase pencarian yang melelahkan. Pertanyaan besarnya kini bukan hanya soal waktu, melainkan apakah arah yang ditempuh benar-benar membawa Spurs menuju masa depan yang lebih stabil, atau justru menjauhkan mereka dari jati diri yang selama ini dirindukan pendukungnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team