Di luar lapangan, Thomas Frank menghadapi tekanan yang tak kalah kompleks. Tottenham merupakan klub besar dengan sejarah panjang kegagalan dan ekspektasi yang terus menumpuk. Perubahan masif di level manajemen, termasuk usai kepergian Daniel Levy, memperbesar rasa ketidakpastian di internal klub.
Di Brentford, Frank dikenal sebagai manajer yang sukses membangun hubungan personal dan budaya kolektif. Ia bekerja di lingkungan dengan tekanan relatif rendah dan pemain yang sebagian besar berkembang bersama proyek jangka panjang. Di Tottenham, ia justru mengelola skuad berisi pemain internasional dengan tuntutan instan.
Pendekatan yang mengutamakan keberlanjutan sistem yang sering ia sampaikan dalam konferensi pers terasa rasional secara teori. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah filosofi itu realistis di klub dengan toleransi rendah terhadap proses. Dukungan internal memang masih ada, tetapi suara dari tribun mulai menunjukkan batas kesabaran yang menipis.
Tekanan publik itu kian terasa ketika performa tim tak menawarkan hiburan sebagai kompensasi hasil. Frank berhasil memperbaiki pertahanan dan mengurangi kekalahan telak, tetapi sepak bola efisien yang ia terapkan tampak sulit diterima selama tak membuahkan hasil di lapangan. Pada titik ini, Spurs dihadapkan dengan dilema antara membangun fondasi atau sekadar menunda krisis berikutnya.
Tottenham di bawah Thomas Frank sedang berada dalam fase pencarian yang melelahkan. Pertanyaan besarnya kini bukan hanya soal waktu, melainkan apakah arah yang ditempuh benar-benar membawa Spurs menuju masa depan yang lebih stabil, atau justru menjauhkan mereka dari jati diri yang selama ini dirindukan pendukungnya.