Secara taktis, Thomas Tuchel memiliki preferensi yang sangat spesifik terhadap profil bek kanan dalam sistemnya. Ia menginginkan pemain yang kuat secara defensif, memiliki atribut fisikal yang mumpuni, serta mampu menjaga disiplin posisi dalam fase tanpa bola. Bek kanan dalam sistem Tuchel tidak hanya penyuplai serangan, tetapi juga pilar stabilitas dalam struktur pertahanan.
Profil ini berbanding terbalik dengan karakteristik Trent Alexander-Arnold. Ia dikenal sebagai playmaker dari sisi kanan, dengan kemampuan distribusi bola, visi permainan, dan umpan kunci yang luar biasa. Ia sering beroperasi sebagai kreator tambahan, bahkan dalam beberapa sistem berperan seperti gelandang yang ditarik ke belakang.
Namun, aspek defensif menjadi titik lemah yang terus disorot. Pada konferensi pers Juni 2025, Tuchel sendiri pernah mengkritik Alexander-Arnold agar lebih serius dalam mengasah kemampuan bertahannya dan tidak hanya mengandalkan kontribusi ofensifnya. Pernyataan ini menunjukkan adanya jarak antara ekspektasi taktis pelatih dan atribut alami sang pemain.
Ketika Tuchel menyebut pemain lain memiliki perbedaan profil, ia merujuk pada atribut yang lebih sesuai dengan kebutuhannya. Tino Livramento dan Djed Spence menawarkan kecepatan, kekuatan duel, serta kemampuan bertahan yang lebih stabil. Sementara itu, pemain seperti Jarrell Quansah bahkan memberikan fleksibilitas tambahan dengan kemampuan bermain sebagai bek kanan.
Situasi skuad yang kompetitif turut memperjelas situasi ini. Reece James tetap menjadi pilihan utama ketika fit, karena ia menggabungkan kekuatan fisik dan kualitas teknis dalam satu paket. Bahkan Ezri Konsa, yang bukan bek kanan natural, dianggap lebih cocok secara struktural karena disiplin dan kekuatan defensifnya.
Dalam kerangka ini, Alexander-Arnold dapat dikategorikan sebagai system-breaking player, yakni pemain yang mampu mengubah dinamika permainan melalui kualitas individunya. Sebaliknya, Tuchel lebih memilih system-fitting player yang menjaga keseimbangan dan konsistensi struktur tim. Perbedaan filosofi ini menjadi akar dari ketidaksesuaian antara pelatih dan pemain.
Jika ditarik kesimpulan, masalahnya bukan terletak pada kualitas Alexander-Arnold sebagai pemain. Ia tetap menjadi salah satu bek kanan paling berbakat di generasinya. Namun, dalam sistem Tuchel, atribut tersebut tidak menjadi prioritas utama, sehingga menciptakan ketidakcocokan yang sulit dijembatani.