Seiring waktu, 3-4-3 berhenti menjadi sekadar pilihan taktis. Sistem tersebut malah berubah menjadi simbol otoritas Ruben Amorim di tengah tekanan internal klub. Dilansir The Athletic, pernyataan publiknya tentang peran “manajer, bukan hanya kepala pelatih” usai laga melawan Leeds United mencerminkan ketegangan yang makin terbuka.
Dari sisi manajemen klub, termasuk Sir Jim Ratcliffe dan Jason Wilcox, mendorong fleksibilitas yang lebih besar. Mereka menginginkan evolusi menuju struktur yang lebih selaras dengan identitas historis dan investasi skuad. Namun, Amorim memandang dorongan tersebut sebagai bentuk intervensi terhadap wilayah kerjanya.
Ketika skema 3-4-3 terus dipaksakan dalam laga-laga penting, keputusan tersebut tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada pertimbangan performa. Sistem itu perlahan berfungsi sebagai sarana penegasan otoritas dan garis kewenangan. Dalam situasi seperti ini, pendekatan taktik justru menjelma menjadi ajang tarik-menarik wewenang di dalam klub. Dampaknya, kepercayaan pun retak karena pemain merasakan jurang antara arahan latihan dan praktik di pertandingan, sementara manajemen menilai perkembangan tim stagnan meski posisi klasemen masih tergolong aman.
Data Opta Analyst menunjukkan, sejak Amorim menangani Manchester United pada November 2024, tim hanya meraih 58 poin dari 47 laga Premier League, dengan persentase kemenangan di liga sebesar 31,9 persen. Angka tersebut menjadi yang terburuk pada era Premier League untuk seorang pelatih MU. Fakta ini memperkuat persepsi bahwa progres yang dijanjikan tidak pernah benar-benar terwujud.
Pemecatan Ruben Amorim lahir dari persoalan struktural, bukan sekadar luapan emosi sesaat. Perbedaan arah antara visi taktik sang pelatih dengan kerangka organisasi serta tujuan jangka panjang klub menjadi titik masalah yang tak kunjung terjembatani. Dalam situasi tersebut, mempertahankan proyek yang sama hanya akan memperpanjang kebuntuan dan menunda perubahan mendasar yang dibutuhkan.