Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Nasib 5 Pemain Timnas Inggris saat Melatih di Asia Tenggara
ilustrasi pertandingan sepak bola (unsplash.com/Max Zindel)
  • Beberapa mantan pemain Timnas Inggris mencoba karier kepelatihan di Asia Tenggara, menghadapi tantangan besar meski berbekal pengalaman internasional.
  • Peter Withe menjadi satu-satunya yang sukses, membawa Thailand juara Piala AFF dua kali dan mengantar Indonesia ke final 2004.
  • Nama lain seperti Peter Reid, Bryan Robson, Robbie Fowler, dan Gary Stevens gagal mempertahankan performa karena masa kerja singkat atau masalah internal klub.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Salah satu karier pilihan pemain profesional setelah gantung sepatu adalah menjadi pelatih. Itu juga yang dialami banyak pemain Timnas Inggris, salah satu jagoan di tiap kejuaraan internasional. Berbekal pengalaman di level tinggi, mereka percaya diri menekuni profesi sebagai juru taktik.

Asia Tenggara menawarkan segala hal yang diidamkan seorang pelatih pencari tantangan: fanatisme serta tekanan tanpa henti dari semua arah. Ternyata, sejumlah mantan pemain Timnas Inggris yang menjadi pelatih pernah mencoba peruntungannya di negara-negara ASEAN. Ada yang sukses, ada juga yang gagal total.

1. Peter Withe menjadi pembawa kejayaan kepada Timnas Thailand

Peter Withe memperkuat Timnas Inggris pada 1981–1984 dan tampil dalam sebelas pertandingan. Usai pensiun sebagai pemain, legenda Aston Villa ini tercatat sebagai salah satu pelatih asing paling sukses yang pernah berkarier di negara-negara ASEAN. Dilansir Transfermarkt, ia berhasil membawa Timnas Thailand meraih kejayaan dengan menjuarai Piala AFF dua kali berturut-turut pada 2000 dan 2002. Selain di Thailand, Peter Withe juga sempat menukangi Timnas Indonesia dan membawa Merah Putih menembus final Piala AFF 2004.

2. Peter Reid hanya bertahan setahun mengasuh Timnas Thailand

Gelandang tangguh yang menjadi andalan Timnas Inggris di Piala Dunia 1986 ini sempat mencicipi panasnya persaingan sepak bola Asia Tenggara bersama Timnas Thailand. Ia ditunjuk sebagai manajer pada September 2008 dan langsung membawa timnya meraih peringkat kedua Piala AFF pada tahun yang sama. Namun, masa tugasnya di Thailand tidak bertahan lama. BBC menyebut, ia memilih untuk kembali ke Inggris pada September 2009 untuk mengemban tugas sebagai asisten pelatih Stoke City.

3. Bryan Robson sukses jadi pemain, tetapi gagal sebagai pelatih

Bryan Robson adalah gelandang andalan Timnas Inggris sepanjang dekade 1980-an. Ia mampu mencetak 26 gol dalam 90 penampilan. Setelah pensiun, ia pernah menjabat sebagai pelatih Timnas Thailand pada 2009–2011. Kedatangannya disambut ekspektasi tinggi karena statusnya sebagai salah satu gelandang terbaik dalam sejarah Liga Inggris. Namun, kenyataan berbanding terbalik, Thailand gagal lolos dari fase grup Piala AFF 2010 dan gagal meraih tiket ke putaran final Piala Asia 2011. Masa jabatannya berakhir dengan pengunduran diri. Dilansir Times of Malta, keluarga dan kesehatan menjadi alasan Robson meletakkan jabatannya saat itu.

4. Robbie Fowler sempat menjadi pemain dan pelatih Muangthong United

Robbie Fowler bermain sebanyak 26 kali untuk Timnas Inggris pada 1996–2002. Legenda hidup Liverpool ini sempat mencicipi panasnya Liga Thailand bersama Muangthong United. Dilansir BBC, awalnya Fowler datang sebagai pemain, tetapi kemudian melakoni peran ganda sebagai pemain-pelatih karena pemecatan juru taktik pada pertengahan musim 2011. Fowler membawa tim berjuluk The Kirins tersebut finis di peringkat ketiga, tetapi menyudahi masa perantauan di Asia Tenggara sekaligus pensiun sebagai pemain profesional setelahnya.

5. Gary Stevens menjadi korban drama internal

Bek yang memperkuat Timnas Inggris di Piala Dunia 1986 ini memiliki rekam jejak kepelatihan di kasta tertinggi Thailand. Ia pernah menukangi Army United pada 2014–2015 dan sempat membawa tim tersebut bersaing di papan tengah klasemen. Tak lama setelah itu, ia melanjutkan petualangannya dengan melatih Port FC pada tengah musim 2015. Namun, dilansir ESPN, kebersamaannya di Port FC tidak bertahan lama akibat drama internal klub yang membuat statusnya sebagai kepala pelatih sempat tidak jelas.

Dalam daftar ini, hanya Peter Withe yang bisa meraih trofi. Di sisi lain, reputasi mentereng sebagai pemain tidak berpengaruh kepada karier kepelatihan. Namun, jumlahnya akan bertambah seiring berkembangnya sepak bola Asia Tenggara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team