Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Pelatih Jerman yang Pernah Menangani Klub Premier League
wsj.com

Intinya sih...

  • Felix Magath menjadi pelatih Jerman pertama di Premier League, namun gagal menghindari degradasi Fulham.

  • Jurgen Klopp membawa Liverpool meraih gelar Premier League pertama dalam 30 tahun dan juara Liga Champions 2019.

  • Thomas Tuchel sukses membawa Chelsea menjadi juara Liga Champions dan memenangkan trofi lainnya sebelum dipecat pada September 2022.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pelatih-pelatih asal Jerman semakin sering mewarnai kompetisi Premier League dalam satu dekade terakhir. Dengan filosofi permainan yang modern, intensitas tinggi, serta pendekatan taktik yang detail, mereka membawa warna baru dalam persaingan klub-klub Inggris. Premier League yang dikenal keras dan kompetitif ternyata menjadi panggung ideal bagi pelatih Jerman untuk menunjukkan kualitas dan gaya kepelatihan mereka.

Kehadiran pelatih Jerman bukan hanya sekadar tren, tetapi juga mencerminkan perkembangan sepak bola Eropa yang semakin saling terhubung. Dari nama-nama besar yang sukses meraih trofi hingga pelatih yang menghadapi tantangan berat karena melatih tim dengan keterbatasan, semuanya memberikan kontribusi berbeda dalam perjalanan liga. Mereka membawa pendekatan pressing agresif, disiplin struktural, hingga pembangunan skuad jangka panjang yang menjadi ciri khas sepak bola Jerman.

Perjalanan para pelatih ini juga menunjukkan bagaimana Premier League menjadi kompetisi yang menuntut adaptasi cepat dan konsistensi tinggi. Beberapa berhasil menciptakan era kejayaan baru bagi klub mereka, sementara lainnya tetap dikenang karena kontribusi historis meski hasil tidak selalu memenuhi ekspektasi. Bersama-sama, mereka membentuk catatan menarik tentang bagaimana pengaruh Jerman berkembang di panggung sepak bola Inggris. Lantas siapa saja pelatih asal Jerman yang pernah menangani klub Premier League? Berikut ulasannya.

1. Felix Magath (Fulham)

bleacherreport.com/Getty Images

Felix Magath merupakan salah satu pelatih asal Jerman yang pernah mencicipi kerasnya kompetisi Premier League. Ia ditunjuk sebagai manajer Fulham pada Februari 2014, menjadikannya pelatih Jerman pertama dalam sejarah Premier League saat itu. Penunjukan Magath cukup mengejutkan karena sebelumnya ia dikenal sebagai pelatih sukses di Bundesliga bersama Bayern Munich, Schalke 04, dan terutama VfL Wolfsburg.

Saat melatih Fulham, Magath datang ketika klub berada dalam kondisi sangat sulit, berada di dasar klasemen dan berjuang menghindari degradasi. Meski membawa reputasi besar dari Jerman, Magath gagal membalikkan situasi. Selama menangani Fulham, ia memimpin 20 pertandingan dengan catatan 4 kemenangan, 4 hasil imbang, dan 12 kekalahan. Klub tetap terdegradasi dari Premier League dan awal musim berikutnya di Championship berjalan buruk hingga akhirnya ia dilepas pada September 2014.

Walaupun masa tugasnya di Inggris tidak sukses, kehadiran Felix Magath tetap tercatat dalam sejarah sebagai pelatih Jerman pertama yang memimpin klub Premier League. Ia membuka jalan bagi pelatih Jerman lainnya seperti Jürgen Klopp, Thomas Tuchel, dan Ralf Rangnick untuk berkarier di Inggris pada tahun-tahun berikutnya.

2. Jurgen Klopp (Liverpool)

premierleague.com/John Powell/Getty Images

Jürgen Klopp adalah pelatih asal Jerman yang paling sukses dalam sejarah Premier League. Ia resmi menangani Liverpool sejak Oktober 2015, menggantikan Brendan Rodgers. Klopp datang membawa filosofi permainan gegenpressing, yaitu gaya bermain dengan tekanan tinggi, ritme cepat, dan transisi agresif. Filosofi inilah yang kemudian mengubah Liverpool menjadi salah satu tim paling dominan di Eropa dan Inggris.

Di bawah kepemimpinan Klopp, Liverpool memasuki era kebangkitan besar. Ia sukses membangun ulang tim dari nol, mendatangkan pemain seperti Mohamed Salah, Sadio Mané, Virgil van Dijk, Alisson Becker, hingga Andy Robertson, yang kemudian menjadi fondasi kesuksesan The Reds. Klopp membawa Liverpool ke banyak final kompetisi besar dan menanamkan identitas permainan yang kuat serta atraktif. Salah satu pencapaian terbesar Klopp adalah ketika ia memimpin Liverpool menjuarai Liga Champions 2019, trofi tertinggi sepak bola Eropa yang mengembalikan nama besar klub.

Puncak pencapaiannya di Premier League terjadi pada musim 2019–2020, ketika Liverpool meraih gelar Premier League pertama dalam 30 tahun. Klopp juga memenangkan trofi lainnya seperti Piala Dunia Antarklub, UEFA Super Cup, FA Cup, EFL Cup, dan Community Shield. Selama melatih Liverpool, Klopp mencatatkan hundreds of matches dengan persentase kemenangan tinggi dan menjadi ikon modern klub tersebut. Klopp bukan hanya pelatih Jerman yang sukses di Premier League, tetapi juga salah satu pelatih terbaik dalam sejarah Liverpool.

3. Jan Siewert (Huddersfield)

htafc.com

Jan Siewert adalah salah satu pelatih asal Jerman yang pernah bekerja di Premier League saat menangani Huddersfield Town. Ia ditunjuk pada Januari 2019 untuk menggantikan David Wagner yang mundur di tengah musim. Penunjukan Siewert cukup mengejutkan publik Inggris karena sebelumnya ia bukan sosok yang dikenal luas. Ia direkrut berkat reputasinya di akademi Borussia Dortmund II, klub yang sama tempat Wagner dibina sebelum ke Inggris.

Siewert bergabung dengan Huddersfield ketika klub sudah berada dalam kondisi sangat sulit dan hampir pasti terdegradasi. Squad yang ia tangani minim produktivitas dan kehilangan banyak pemain kunci, membuat pekerjaannya semakin berat. Dalam perjalanan singkatnya di Premier League, Siewert memimpin 15 pertandingan, namun hasilnya jauh dari harapan dengan hanya 1 kemenangan, 2 hasil imbang, dan 12 kekalahan. Catatan tersebut membuat Huddersfield terdegradasi dari Premier League pada akhir musim.

Pada awal musim berikutnya di Championship, performa Huddersfield tidak kunjung membaik. Setelah hanya meraih hasil buruk dalam tiga laga awal 2019/2020, Siewert akhirnya dipecat pada Agustus 2019, hanya tujuh bulan setelah ditunjuk. Meski gagal di Inggris, Siewert tetap tercatat sebagai salah satu pelatih asal Jerman yang mendapatkan kesempatan melatih di Premier League.

4. Daniel Farke (Norwich City)

canaries.co.uk

Daniel Farke adalah salah satu pelatih asal Jerman yang pernah merasakan atmosfer Premier League ketika menangani Norwich City. Ia ditunjuk sebagai manajer pada 2017 setelah sebelumnya melatih tim Borussia Dortmund II. Farke datang dengan filosofi permainan berbasis penguasaan bola, kombinasi operan pendek, dan pengembangan pemain muda. Pendekatan ini membuat Norwich menjadi salah satu tim dengan gaya bermain paling progresif di Championship pada masanya.

Kesuksesan terbesar Farke bersama Norwich terjadi pada musim 2018–2019, ketika ia membawa klub menjadi juara Championship dan promosi ke Premier League. Meskipun Norwich memiliki anggaran terbatas, Farke sukses menciptakan identitas permainan yang menarik, termasuk mengembangkan pemain seperti Emiliano Buendía, Todd Cantwell, Max Aarons, dan Teemu Pukki. Namun, saat tampil di Premier League musim 2019–2020, Norwich kesulitan bersaing dan akhirnya terdegradasi, meski sempat mencatat kemenangan fenomenal 3–2 atas Manchester City.

Farke kembali membawa Norwich promosi ke Premier League setelah menjadi juara Championship untuk kedua kalinya pada musim 2020–2021. Namun, di Premier League 2021–2022, performa klub kembali menurun. Setelah hanya meraih 1 kemenangan dari 11 pertandingan, Farke akhirnya dipecat pada November 2021. Secara keseluruhan, Farke memimpin Norwich dalam 200 lebih pertandingan dengan kontribusi besar dalam membentuk gaya bermain klub dan memberi fondasi kuat bagi masa depan tim, meski tantangannya di Premier League cukup berat.

5. Thomas Tuchel (Chelsea)

thesun.co.uk/Getty Images

Thomas Tuchel adalah salah satu pelatih asal Jerman paling sukses yang pernah bekerja di Premier League. Ia resmi ditunjuk sebagai pelatih Chelsea pada Januari 2021, menggantikan Frank Lampard yang dipecat di tengah musim. Tuchel datang dengan reputasi kuat setelah sukses bersama Borussia Dortmund dan membawa Paris Saint-Germain ke final Liga Champions. Chelsea memilih Tuchel untuk memperbaiki performa tim yang penuh pemain top namun kesulitan menemukan konsistensi.

Kedatangannya memberikan dampak instan. Dalam hitungan minggu, Tuchel langsung mengubah struktur permainan Chelsea menjadi lebih solid secara defensif, disiplin dalam pressing, dan efektif dalam transisi. Ia menggunakan formasi 3-4-3 yang membuat Chelsea sangat sulit ditembus dan memaksimalkan pemain seperti Antonio Rüdiger, César Azpilicueta, Reece James, hingga N’Golo Kanté. Puncak kesuksesannya datang pada Mei 2021, ketika Tuchel membawa Chelsea menjadi juara Liga Champions, mengalahkan Manchester City 1–0 di final. Prestasi ini menjadikannya salah satu pelatih Jerman tersukses sepanjang sejarah Premier League.

Selain menjuarai Liga Champions, Tuchel juga mempersembahkan UEFA Super Cup 2021 dan FIFA Club World Cup 2021 untuk Chelsea. Secara total, Tuchel memimpin 100 lebih pertandingan bersama The Blues dengan catatan kemenangan yang tinggi di semua kompetisi. Namun, pada September 2022, ia dipecat setelah awal musim yang kurang konsisten dan adanya perubahan kepemilikan klub. Meskipun masa jabatannya tidak terlalu panjang, Tuchel tetap dikenang sebagai pelatih yang menghidupkan kembali kejayaan Chelsea dalam waktu singkat dan menjadi figur besar pelatih Jerman yang sukses di Premier League.

6. Ralf Rangnick

Ralf Rangnick bersama Manchester United. (weallfollowunited.com)

Ralf Rangnick adalah pelatih asal Jerman yang pernah menangani Manchester United sebagai manajer interim pada musim 2021–2022. Penunjukannya menarik perhatian besar karena Rangnick dikenal sebagai “bapak gegenpressing”—figur penting yang memengaruhi generasi pelatih Jerman modern, termasuk Jürgen Klopp dan Thomas Tuchel. Manchester United menunjuknya pada November 2021 setelah memecat Ole Gunnar Solskjaer, dengan harapan Rangnick bisa memperbaiki struktur permainan United sambil mempersiapkan manajer permanen untuk musim berikutnya.

Ketika mengambil alih United, Rangnick menghadapi tim dengan masalah besar dalam pressing, intensitas, dan organisasi permainan. Ia berusaha menerapkan gaya sepak bola berbasis tekanan tinggi, transisi cepat, dan struktur lini yang lebih kompak. Namun implementasinya tidak mudah, karena skuad United tidak terbiasa dengan intensitas fisik dan pendekatan taktis yang ia bawa. Meski demikian, ada periode singkat ketika United terlihat lebih agresif dan stabil di awal masa kepemimpinannya, terutama selama Januari 2022.

Secara keseluruhan, Rangnick memimpin Manchester United dalam 29 pertandingan, dengan catatan 11 kemenangan, 10 hasil imbang, dan 8 kekalahan di semua kompetisi. Ia gagal membawa United finis di empat besar Premier League, dan tim tampil inkonsisten terutama di paruh akhir musim. Pada akhir musim 2021–2022, Rangnick secara resmi mengakhiri tugasnya sebagai manajer interim ketika United menunjuk Erik ten Hag sebagai pelatih permanen. Ia awalnya direncanakan untuk melanjutkan peran sebagai konsultan selama dua tahun, tetapi peran itu juga dihentikan tak lama kemudian. Meski tidak meraih trofi dan hasilnya kurang memuaskan, Rangnick tetap dikenang sebagai pelatih Jerman yang pernah menangani salah satu klub terbesar di Premier League.

7. David Wagner

potret David Wagner (livescore.com)

David Wagner adalah salah satu pelatih berdarah Jerman yang pernah melatih klub Premier League melalui kiprahnya bersama Huddersfield Town. Ia ditunjuk sebagai manajer pada November 2015 setelah sebelumnya melatih Borussia Dortmund II, klub yang juga menjadi tempat awal Jürgen Klopp berkembang sebagai pelatih. Wagner datang dengan gaya permainan modern ala Jerman, yaitu pressing agresif, kolektivitas, dan transisi cepat, yang kemudian menjadi ciri khas Huddersfield selama masa kepemimpinannya.

Prestasi terbesar Wagner terjadi pada musim 2016–2017, ketika ia membawa Huddersfield Town meraih promosi ke Premier League untuk pertama kalinya sejak 1972. Prestasi ini sangat fenomenal karena Huddersfield bukanlah klub kaya atau favorit promosi. Wagner memaksimalkan skuad yang relatif murah dan memadukannya dengan gaya bermain intens yang membuat mereka tampil mengejutkan. Pada musim berikutnya, 2017–2018, Wagner berhasil mempertahankan Huddersfield tetap di Premier League setelah finis di posisi ke-16, sebuah pencapaian besar mengingat keterbatasan kualitas dan finansial klub.

Wagner memimpin Huddersfield dalam 140 pertandingan lebih, dengan catatan 40 kemenangan, 33 imbang, dan 67 kekalahan di semua kompetisi. Namun, pada musim 2018–2019, performa tim menurun drastis. Setelah kesulitan mencetak gol dan meraih kemenangan, Huddersfield terbenam di dasar klasemen. Pada Januari 2019, Wagner dan klub sepakat berpisah secara baik-baik setelah serangkaian hasil buruk. Meski masa akhirnya tidak sebaik awalnya, David Wagner tetap dikenang sebagai pelatih yang membawa Huddersfield ke era kejayaan singkat dan menjadi salah satu pelatih Jerman yang meninggalkan jejak unik di Premier League.

FAQ seputar Pelatih Jerman yang Pernah Menangani Klub Premier League

Siapa pelatih Jerman tersukses di Premier League?

Jürgen Klopp adalah pelatih Jerman tersukses di Premier League, dengan prestasi besar seperti juara Premier League 2019–2020 dan Liga Champions 2019 bersama Liverpool.

Siapa pelatih Jerman pertama yang melatih klub Premier League?

Pelatih Jerman pertama di Premier League adalah Felix Magath, yang menangani Fulham pada 2014.

Berapa jumlah pelatih Jerman yang pernah menangani klub Premier League?

Ada tujuh pelatih asal Jerman yang pernah bekerja di Premier League: Felix Magath, Jürgen Klopp, Jan Siewert, Daniel Farke, Thomas Tuchel, Ralf Rangnick, dan David Wagner.

Apakah semua pelatih Jerman sukses di Premier League?

Tidak semuanya. Klopp dan Tuchel sangat sukses, sedangkan pelatih lain seperti Magath atau Siewert kesulitan karena melatih tim yang sedang krisis.

Klub apa saja di Premier League yang pernah dilatih pelatih Jerman?

Beberapa klub tersebut adalah Liverpool, Chelsea, Manchester United, Fulham, Norwich City, Huddersfield Town, dan itu mencakup semua klub yang pernah ditangani pelatih asal Jerman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team