Potret manajer MU, Ruben Amorim usai melawan Ipswich, Minggu (24/11/2024). (premierleague.com).
Ruben Amorim ditunjuk sebagai pelatih Manchester United pada pertengahan 2024, setelah klub memutuskan berpisah dengan Erik ten Hag. Penunjukan ini membawa antusiasme besar di kalangan fans karena Amorim memiliki reputasi sebagai salah satu pelatih muda paling menjanjikan di Eropa berkat kesuksesannya di Sporting CP. Gaya bermainnya yang modern, berbasis pressing agresif dan struktur taktis rapi, membuat banyak pihak yakin bahwa ia dapat membawa MU kembali ke era kejayaan. Ekspektasi semakin besar karena Amorim dianggap sosok yang mampu membangun proyek jangka panjang dan mengembangkan pemain muda, sesuatu yang sangat dibutuhkan Manchester United pasca-Ferguson.
Namun, sejak awal musim 2024–2025, tanda-tanda kesulitan mulai terlihat. Para pemain Manchester United tidak cukup kompatibel dengan filosofi taktis Amorim yang menuntut transisi cepat, pressing tinggi, dan rotasi posisi yang intens. Inkonsistensi performa menjadi masalah utama, di mana MU terkadang tampil dominan, namun pada pertandingan lain kehilangan arah permainan. Kesalahan individu di lini belakang, lini tengah yang sering kalah duel, serta kurangnya kreativitas dalam serangan membuat MU kesulitan mencetak gol dan mempertahankan keunggulan. Amorim juga beberapa kali dikritik karena terlalu terpaku pada sistem 3-4-3 atau 3-5-2 miliknya, meski skuad MU tampak tidak cocok dengan formasi tersebut.
Setelah memasuki musim 2025–2026, tekanan terhadap Amorim semakin besar. Performa MU tetap tidak konsisten, dan ruang ganti mulai menunjukkan tanda-tanda ketegangan akibat ketidakjelasan peran pemain serta rotasi yang dinilai tidak tepat. Kekalahan beruntun, hasil imbang yang tidak perlu, serta kegagalan bersaing di papan atas Premier League membuat posisi Amorim semakin goyah. Pada awal 2026, setelah hasil buruk yang memperburuk klasemen dan meningkatnya kritik dari fans maupun legenda klub, Ruben Amorim akhirnya dipecat oleh manajemen dalam upaya menghentikan tren negatif dan menyelamatkan musim MU.
Selama melatih Manchester United, Ruben Amorim mencatat total 63 pertandingan, dengan hasil 25 kemenangan, 15 hasil imbang dan 23 kekalahan. Win-rate tersebut tergolong rendah untuk standar Manchester United dan menunjukkan betapa tim kesulitan mencapai konsistensi selama masa kepemimpinannya. Ia tidak meraih satu pun trofi, dan MU tidak menunjukkan peningkatan signifikan baik dalam performa liga maupun kompetisi lain. Dengan latar belakang ekspektasi sangat tinggi tetapi hasil yang jauh di bawah standar, periode Amorim kemudian dianggap sebagai salah satu era paling mengecewakan dalam sejarah modern Manchester United, sejajar dengan era David Moyes dan Ralf Rangnick.
Siapa pelatih Manchester United yang paling cepat dipecat setelah era Ferguson? | Pelatih yang paling cepat dipecat adalah David Moyes, yang hanya bertahan sekitar 10 bulan pada musim 2013–2014. |
Siapa pelatih MU yang paling sukses dalam periode Moyes sampai Amorim? | Yang paling sukses adalah José Mourinho, dengan 3 trofi yaitu Community Shield 2016, EFL Cup 2017, dan Europa League 2017. |
Siapa pelatih MU yang dianggap paling buruk dalam periode ini? | Yang paling sering dianggap terburuk adalah Ralf Rangnick dan Ruben Amorim. Rangnick punya win-rate rendah dan gagal membentuk identitas tim, sedangkan Amorim gagal memenuhi ekspektasi besar dan mencatat rekor 25 menang, 15 imbang, 23 kalah sebelum dipecat. |
Apakah ada pelatih yang dipecat meskipun meraih trofi? | Ya. Louis van Gaal meraih FA Cup 2016, tetapi tetap dipecat dua hari setelahnya karena performa liga yang buruk dan gaya bermain yang dinilai terlalu membosankan. |
Siapa pelatih MU terakhir yang dipecat sebelum datangnya Carrick 2026? | Pelatih terakhir yang dipecat adalah Ruben Amorim. Ia dipecat pada awal 2026 setelah dua musim tanpa trofi dan performa yang tidak konsisten. |