Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Pelatih Terburuk Manchester United Sepanjang Sejarah
Louis Van Gaal dan David Moyes (skysports.com)

Intinya sih...

  • David Moyes melatih MU selama kurang lebih 10 bulan, dengan performa yang menurun drastis dan kehilangan identitas klub.

  • Louis van Gaal membawa perombakan besar-besaran dalam skuad, tetapi dipecat setelah memenangkan FA Cup karena performa liga yang buruk.

  • Ole Gunnar Solskjær awalnya sukses sebagai pelatih interim, namun dipecat setelah kekalahan telak dari Watford dan gagal meraih trofi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Manchester United bisa dibilang sebagai salah satu klub terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris. Pasalnya, Setan Merah sudah meraih banyak sekali gelar juara di kompetisi domestik maupun Eropa. Sebagian besar kesuksesan Manchester United itu didapat ketika masih dilatih oleh Sir Alex Ferguson atau akrab disapa Fergie.

Namun, setelah Fergie pensiun, cukup banyak pelatih yang gagal menangani Manchester United. Beberapa di antaranya bahkan gagal meraih gelar juara. Berikut ini lima pelatih terburuk dalam sejarah Setan Merah.

1. David Moyes

David Moyes ketika melatih Manchester United (goal.com)

David Moyes resmi ditunjuk sebagai pelatih Manchester United pada 1 Juli 2013, menggantikan Sir Alex Ferguson yang pensiun setelah 26 tahun berkuasa. Penunjukan ini merupakan rekomendasi langsung dari Ferguson, yang melihat Moyes sebagai penerus ideal karena rekam jejaknya di Everton yang stabil dan konsisten. Namun, sejak awal musim, Moyes menghadapi beban ekspektasi yang sangat besar. Ia mewarisi skuad juara Premier League, tetapi justru kesulitan mempertahankan kualitas permainan yang sebelumnya menjadi standar tinggi Manchester United.

Moyes melatih MU selama kurang lebih 10 bulan, dari Juli 2013 hingga 22 April 2014. Dalam periode singkat tersebut, performa United mengalami penurunan drastis. Tim tampil tidak stabil, kehilangan identitas, dan sering kalah dari tim-tim yang biasanya bisa ditaklukkan dengan mudah. Di bawah Moyes, MU mencatat sejumlah rekor buruk seperti kekalahan terbanyak di kandang Old Trafford pada satu musim Premier League, serta performa terburuk melawan klub-klub “Big Six”. Kepercayaan diri pemain anjlok, dan strategi Moyes yang terlalu konservatif membuat MU kehilangan kecepatan dan daya serang.

David Moyes akhirnya dipecat pada 22 April 2014, setelah MU dipastikan gagal lolos ke Liga Champions dan berada di urutan ketujuh klasemen sementara. Selama melatih Manchester United, Moyes mencatat total 51 pertandingan, dengan hasil 27 kemenangan, 9 hasil imbang, dan 15 kekalahan. Satu-satunya trofi yang ia raih adalah Community Shield 2013, hasil kemenangan 2–0 atas Wigan Athletic. Meskipun ada gelar tersebut, win-rate Moyes dan penurunan drastis performa klub membuat periode kepemimpinannya dianggap sebagai salah satu fase tersuram dalam sejarah modern Manchester United.

2. Louis van Gaal

Louis Van Gaal ketika melatih Manchester United (skysports.com)

Louis van Gaal resmi menjadi pelatih Manchester United pada 19 Mei 2014, ditunjuk untuk menggantikan Ryan Giggs yang sebelumnya menjabat sebagai interim pasca pemecatan David Moyes. Van Gaal datang dengan reputasi besar sebagai pelatih top dunia, membawa pengalaman dari Ajax, Barcelona, Bayern Munich, dan timnas Belanda. Harapan terhadapnya sangat tinggi karena MU membutuhkan sosok yang mampu mengembalikan stabilitas taktik dan mental tim setelah musim yang buruk.

Van Gaal melatih Manchester United selama dua musim penuh, yaitu dari 2014 hingga 2016. Di musim pertamanya, ia melakukan perombakan besar-besaran dalam skuad, mendatangkan banyak pemain baru seperti Di María, Ander Herrera, Daley Blind, Luke Shaw, dan Radamel Falcao. Namun, gaya bermain yang ia terapkan sangat kaku, berorientasi pada penguasaan bola, dan minim kreativitas. Banyak pertandingan MU berjalan lambat, penuh umpan horizontal, dan hampir tanpa peluang berbahaya. Meski begitu, Van Gaal memberi kesempatan kepada pemain muda, termasuk munculnya Marcus Rashford pada 2016.

Karier Van Gaal di MU berakhir pada 23 Mei 2016, hanya dua hari setelah memenangkan FA Cup 2016. Trofi tersebut sebenarnya menjadi pencapaian penting karena merupakan gelar pertama MU setelah era Sir Alex Ferguson. Namun, manajemen tetap memutuskan memecatnya karena performa liga yang buruk, serangan yang kurang tajam, minimnya hiburan, dan gagal membawa MU ke Liga Champions. Selama melatih United, Van Gaal mencatat 103 pertandingan dengan hasil 54 kemenangan, 25 imbang, dan 24 kekalahan. Meskipun berhasil membawa klub meraih trofi, banyak fans menilai era Van Gaal sebagai periode yang membosankan dan tidak sesuai dengan DNA permainan menyerang Manchester United.

3. Frank O'Farrell

Frank O'Farrell ketika melatih Manchester United. (buzz.ie)

Frank O’Farrell resmi ditunjuk sebagai pelatih Manchester United pada 8 Juni 1971, menggantikan legenda klub Sir Matt Busby yang telah pensiun dari peran manajerial tetap. Penunjukan O’Farrell diharapkan mampu membawa stabilitas pada era transisi MU setelah kejayaan era 1960-an. Namun, ia langsung menghadapi tantangan besar: mengendalikan ruang ganti yang penuh ego besar, termasuk sosok George Best yang saat itu berada dalam kondisi sulit dari sisi profesional maupun pribadi. O’Farrell datang dengan filosofi permainan yang cukup disiplin, tetapi ia tidak memiliki pengalaman menangani klub sebesar Manchester United.

O’Farrell melatih Manchester United selama sekitar 18 bulan, dari Juni 1971 sampai Desember 1972. Di musim pertamanya, United sebenarnya memulai kompetisi dengan baik dan sempat memuncaki klasemen. Tetapi setelah pertengahan musim, performa MU turun drastis akibat inkonsistensi, masalah disiplin pemain, serta atmosfer ruang ganti yang sulit dikendalikan. O’Farrell tidak mampu mengembalikan fokus tim, sementara pemain-pemain kunci tidak lagi menunjukkan performa terbaiknya. Hubungannya dengan George Best juga semakin memburuk, memengaruhi dinamika skuad secara keseluruhan.

Akhirnya, Frank O’Farrell dipecat pada 19 Desember 1972, setelah rentetan hasil buruk yang membuat Manchester United berada dekat zona degradasi. Selama masa kepemimpinannya, ia mencatat total 81 pertandingan, dengan hasil 30 kemenangan, 21 hasil imbang, dan 30 kekalahan. Win-rate yang rendah dan performa tidak stabil membuat era O’Farrell dianggap sebagai salah satu periode paling mengecewakan dalam sejarah awal MU. Setelah pemecatannya, MU semakin terpuruk dan akhirnya terdegradasi empat bulan kemudian (di bawah Tommy Docherty), menandai betapa besarnya kegagalan era O’Farrell dalam mempertahankan stabilitas klub.

4. Jose Mourinho

Jose Mourinho ketika melatih Manchester United. (manutd.com)

José Mourinho resmi ditunjuk sebagai manajer Manchester United pada 27 Mei 2016, menggantikan Louis van Gaal yang dipecat dua hari setelah memenangkan FA Cup. Kehadiran Mourinho membawa harapan besar karena reputasinya sebagai pelatih bertabur trofi dan praktisi taktik defensif modern yang sangat efektif. MU saat itu membutuhkan pelatih yang mampu memberikan stabilitas dan kembali bersaing di level tertinggi setelah tiga musim penuh ketidakpastian pasca-Ferguson. Dengan rekam jejak sukses di Porto, Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid, Mourinho dianggap sebagai sosok yang paling tepat untuk mengembalikan mental juara MU.

Mourinho melatih Manchester United selama 2,5 tahun, mulai dari musim 2016–2017 hingga 18 Desember 2018. Pada musim pertamanya, ia memberikan dampak instan. MU menjuarai Community Shield 2016, EFL Cup 2017, dan Europa League 2017, menjadikannya pelatih MU pertama dalam sejarah yang meraih trofi Eropa selain Ferguson. Gelar Europa League juga membuat MU meraih “treble kecil” dalam satu musim. Musim keduanya cukup solid: MU finis runner-up Premier League 2017/2018 dengan poin yang tinggi, meski tertinggal jauh dari Manchester City yang mendominasi liga. Namun, kritik mulai muncul karena gaya bermain United yang sangat pragmatis dan dianggap kurang atraktif.

Konflik internal, penurunan performa pemain, dan ketidaksepahaman dengan manajemen menjadi titik balik yang memperburuk era Mourinho. Hubungannya dengan sejumlah pemain kunci seperti Paul Pogba, Luke Shaw, dan Anthony Martial memburuk, yang berdampak pada suasana ruang ganti. Hasil pertandingan juga makin tidak konsisten pada musim 2018/2019, termasuk kekalahan memalukan dari klub-klub papan bawah. Akhirnya, Mourinho dipecat pada 18 Desember 2018, tepat setelah MU kalah 3–1 dari Liverpool di Anfield. Selama melatih MU, Mourinho mencatat total 144 pertandingan dengan hasil 84 kemenangan, 31 imbang, dan 29 kekalahan.

5. Ole Gunnar Solskjaer

Ole Gunnar Solskjaer ketika melatih Manchester United. (manutd.com)

Ole Gunnar Solskjær pertama kali ditunjuk sebagai pelatih Manchester United pada 19 Desember 2018, menggantikan José Mourinho yang dipecat setelah serangkaian hasil buruk. Penunjukan Solskjær awalnya bersifat interim selama enam bulan. Keputusan ini tidak hanya didasarkan pada pengalaman melatihnya, tetapi juga pada statusnya sebagai legenda klub yang pernah mencetak gol penentu dalam final Liga Champions 1999. Secara emosional, ia mendapat dukungan besar dari fans, dan kehadirannya membawa suasana ruang ganti yang lebih positif.

Solskjær menjalani masa interim yang sangat sukses. Dalam 19 pertandingan awal, ia membawa MU meraih 14 kemenangan, termasuk comeback bersejarah melawan Paris Saint-Germain di Liga Champions, yang membuat manajemen akhirnya memberikan kontrak permanen pada 28 Maret 2019. Selama masa jabatannya, Solskjær dikenal dengan pendekatan menyerang berbasis transisi cepat, memaksimalkan kecepatan pemain seperti Marcus Rashford, Anthony Martial, dan kemudian Bruno Fernandes. Ia juga sangat memberi kepercayaan kepada pemain muda dan berusaha membangun kembali DNA permainan MU yang hilang sejak era Ferguson.

Solskjær melatih Manchester United sampai 21 November 2021, ketika ia akhirnya dipecat setelah kekalahan telak 1–4 dari Watford. Pada musim terakhirnya, konsistensi menjadi masalah terbesar. MU sering kebobolan banyak gol, kalah dalam laga besar, dan kehilangan arah permainan. Meskipun sempat membawa United finis runner-up Premier League 2020/2021 dan mencapai final Europa League 2021, ia tetap gagal mempersembahkan trofi. Dalam total 168 pertandingan, Solskjær mencatat 91 kemenangan, 37 imbang dan 40 kekalahan.

6. Ralf Rangnick

Ralf Rangnick saat jadi bagian dari Manchester United. (twitter.com/manutd)

Ralf Rangnick secara resmi ditunjuk sebagai interim manager Manchester United pada 29 November 2021, menggantikan Michael Carrick yang memimpin sementara setelah pemecatan Ole Gunnar Solskjær. Penunjukan Rangnick awalnya sangat menarik perhatian karena ia dikenal sebagai “bapak gegenpressing” dan salah satu arsitek taktik modern di sepak bola Jerman. Banyak yang berharap ia mampu memperbaiki struktur permainan MU yang kacau pada saat itu. Selain sebagai pelatih interim, Rangnick diberi kontrak untuk menjadi konsultan klub selama dua tahun setelah masa kepelatihannya selesai, sebuah keputusan yang membuat ekspektasi kepada dirinya makin besar.

Namun sejak awal masa jabatannya, Rangnick menghadapi banyak masalah internal. Para pemain Manchester United kesulitan menjalankan gaya bermain gegenpressing karena kondisi fisik yang tidak ideal dan tidak terbiasa dengan intensitas tinggi. Struktur pressing yang ia coba bangun sering kali kehilangan koordinasi, membuat lini tengah mudah ditembus dan pertahanan MU tampak sangat rapuh. Selain itu, hubungan antar-pemain mulai bermasalah, dan ruang ganti dilaporkan penuh ketidakpuasan terhadap metode latihan dan pendekatan komunikasinya yang terlalu “akademis”. Pergolakan internal ini membuat performa MU tetap tidak stabil meskipun pergantian pelatih sudah dilakukan.

Rangnick memimpin MU hingga 29 Mei 2022, atau sekitar 6 bulan, menandai akhir masa interumnya setelah ia gagal membawa MU lolos ke Liga Champions. Di akhir musim, Manchester United mencapai rekor memalukan: jumlah kebobolan tertinggi dalam sejarah Premier League klub dan poin akhir musim terendah dalam lebih dari 30 tahun. Rangnick pun tidak pernah melanjutkan peran sebagai konsultan, karena program tersebut dibatalkan setelah Erik ten Hag meminta kontrol penuh terhadap tim. Selama melatih MU, Rangnick memimpin 29 pertandingan dengan catatan 11 kemenangan, 10 imbang dan 8 kekalahan. Win-rate-nya menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah klub di era Premier League.

7. Ruben Amorim

Potret manajer MU, Ruben Amorim usai melawan Ipswich, Minggu (24/11/2024). (premierleague.com).

Ruben Amorim ditunjuk sebagai pelatih Manchester United pada pertengahan 2024, setelah klub memutuskan berpisah dengan Erik ten Hag. Penunjukan ini membawa antusiasme besar di kalangan fans karena Amorim memiliki reputasi sebagai salah satu pelatih muda paling menjanjikan di Eropa berkat kesuksesannya di Sporting CP. Gaya bermainnya yang modern, berbasis pressing agresif dan struktur taktis rapi, membuat banyak pihak yakin bahwa ia dapat membawa MU kembali ke era kejayaan. Ekspektasi semakin besar karena Amorim dianggap sosok yang mampu membangun proyek jangka panjang dan mengembangkan pemain muda, sesuatu yang sangat dibutuhkan Manchester United pasca-Ferguson.

Namun, sejak awal musim 2024–2025, tanda-tanda kesulitan mulai terlihat. Para pemain Manchester United tidak cukup kompatibel dengan filosofi taktis Amorim yang menuntut transisi cepat, pressing tinggi, dan rotasi posisi yang intens. Inkonsistensi performa menjadi masalah utama, di mana MU terkadang tampil dominan, namun pada pertandingan lain kehilangan arah permainan. Kesalahan individu di lini belakang, lini tengah yang sering kalah duel, serta kurangnya kreativitas dalam serangan membuat MU kesulitan mencetak gol dan mempertahankan keunggulan. Amorim juga beberapa kali dikritik karena terlalu terpaku pada sistem 3-4-3 atau 3-5-2 miliknya, meski skuad MU tampak tidak cocok dengan formasi tersebut.

Setelah memasuki musim 2025–2026, tekanan terhadap Amorim semakin besar. Performa MU tetap tidak konsisten, dan ruang ganti mulai menunjukkan tanda-tanda ketegangan akibat ketidakjelasan peran pemain serta rotasi yang dinilai tidak tepat. Kekalahan beruntun, hasil imbang yang tidak perlu, serta kegagalan bersaing di papan atas Premier League membuat posisi Amorim semakin goyah. Pada awal 2026, setelah hasil buruk yang memperburuk klasemen dan meningkatnya kritik dari fans maupun legenda klub, Ruben Amorim akhirnya dipecat oleh manajemen dalam upaya menghentikan tren negatif dan menyelamatkan musim MU.

Selama melatih Manchester United, Ruben Amorim mencatat total 63 pertandingan, dengan hasil 25 kemenangan, 15 hasil imbang dan 23 kekalahan. Win-rate tersebut tergolong rendah untuk standar Manchester United dan menunjukkan betapa tim kesulitan mencapai konsistensi selama masa kepemimpinannya. Ia tidak meraih satu pun trofi, dan MU tidak menunjukkan peningkatan signifikan baik dalam performa liga maupun kompetisi lain. Dengan latar belakang ekspektasi sangat tinggi tetapi hasil yang jauh di bawah standar, periode Amorim kemudian dianggap sebagai salah satu era paling mengecewakan dalam sejarah modern Manchester United, sejajar dengan era David Moyes dan Ralf Rangnick.

FAQ seputar Pelatih Terburuk Manchester United Sepanjang Sejarah

Siapa pelatih Manchester United yang paling cepat dipecat setelah era Ferguson?

Pelatih yang paling cepat dipecat adalah David Moyes, yang hanya bertahan sekitar 10 bulan pada musim 2013–2014.

Siapa pelatih MU yang paling sukses dalam periode Moyes sampai Amorim?

Yang paling sukses adalah José Mourinho, dengan 3 trofi yaitu Community Shield 2016, EFL Cup 2017, dan Europa League 2017.

Siapa pelatih MU yang dianggap paling buruk dalam periode ini?

Yang paling sering dianggap terburuk adalah Ralf Rangnick dan Ruben Amorim. Rangnick punya win-rate rendah dan gagal membentuk identitas tim, sedangkan Amorim gagal memenuhi ekspektasi besar dan mencatat rekor 25 menang, 15 imbang, 23 kalah sebelum dipecat.

Apakah ada pelatih yang dipecat meskipun meraih trofi?

Ya. Louis van Gaal meraih FA Cup 2016, tetapi tetap dipecat dua hari setelahnya karena performa liga yang buruk dan gaya bermain yang dinilai terlalu membosankan.

Siapa pelatih MU terakhir yang dipecat sebelum datangnya Carrick 2026?

Pelatih terakhir yang dipecat adalah Ruben Amorim. Ia dipecat pada awal 2026 setelah dua musim tanpa trofi dan performa yang tidak konsisten.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team