Calvin Verdonk, bek kiri dengan disiplin taktis khas sepak bola Belanda, membangun kariernya lewat konsistensi di Eredivisie. Dalam lintasan kompetisi Eropa, dia pernah berbagi lapangan dengan berbagai bintang hingga akhirnya pindah ke LOSC Lille di Ligue 1 Prancis. Secara otomatis, Verdonk pun mesti bermain di samping Olivier Giroud, penyerang Prancis yang lama merumput di Premier League bersama Arsenal dan Chelsea, yang juga baru pindah ke Lille.
Giroud sebenarnya bukan penyerang cepat, tetapi ahli memanfaatkan ruang dan duel udara. Menghadapi Giroud dalam latihan bisa menjadi ujian penempatan posisi. Verdonk perlu belajar darinya tentang berhadapan dengan striker andal agar cermat memilih jarak, membaca pergerakan tanpa bola, dan mengantisipasi umpan silang.
Pengalaman satu lapangan dengan penyerang bertipe target man kelas dunia juga bisa memperkaya repertori bertahan Calvin Verdonk. Saat memperkuat Timnas Indonesia, wawasan itu bisa ditunjukkan dari kematangannya menjaga sisi lapangan. Apalagi, dia selalu dituntut menutup ruang berbahaya.
Pertemuan-pertemuan ini mungkin tidak selalu tercatat sebagai momen trending, tetapi dampaknya boleh jadi nyata. Sebab, sepak bola ibarat sekolah tanpa papan tulis. Pelajarannya hadir dalam duel, tekanan, dan keputusan sepersekian detik. Ketika pemain Timnas Indonesia berbagi lapangan di klub yang sama dengan eks bintang EPL, yang berpindah bukan hanya bola, melainkan juga standar profesionalisme. Dari sana, Garuda bisa sekaligus belajar terbang lebih tinggi.