Potret Thomas Doll di pinggir lapangan. (dok. Persija)
Pelatih Persija Jakarta, Thomas Doll, jadi sosok yang paling vokal bersuara soal wasit dalam empat pekan awal Liga 1 2022/23. Suara sumbangnya soal wasit sudah terdengar saat Persija bersua Bali United di pekan pembuka kompetisi.
Saat itu, Doll protes lantaran anak-anak asuhnya tidak mendapatkan hadiah penalti. Padahal, dalam sebuah momen, tampak jelas umpan dari Firza Andika mengenai tangan I Made Andhika Wijaya. Alhasil, Doll pun menyentil wasit yang memimpin laga itu.
"Seharusnya kami mendapatkan hadiah penalti, hasil dari umpan Firza. Sangat disayangkan, kompetisi Liga 1 2022/23 tidak memiliki VAR (video assistant referee)," ujar Doll.
Selepas laga lawan PSM Makassar, Doll juga kekesalannya pada wasit. Kekesalan ini muncul setelah ada salah seorang wartawan yang bertanya, apakah dia merasa timnya diuntungkan oleh wasit di laga tersebut.
"Apakah kamu menonton pertandingan? Coba kamu tonton lagi pertandingan dan lihat apa yang terjadi, pikirkan itu! Apakah kami diuntungkan wasit? Kamu bisa jawab sendiri. Saya rasa kami tidak diuntungkan wasit," ujar Doll.
Lebih jauh, Doll mengaku sempat berbincang dengan pelatih PSM, Bernardo Tavares, dalam laga tersebut. Ternyata, baik dirinya maupun Tavares sama-sama tidak puas dengan kepemimpinan wasit.
"Ya, saya sempat bicara juga dengan pelatih PSM, dan kami sama-sama tidak puas dengan kinerja wasit di laga ini. Para pemain saya juga sangat marah, kesal dengan keputusan wasit, coba tonton lagi saja laganya," ujar Doll.
Hingga pekan keempat pula, sejumlah kontroversi juga menaungi wasit. Terbaru, ketika Persebaya Surabaya jadi korban dari keputusan aneh wasit. Saat melawan Madura United akhir pekan lalu, Persebaya tak diuntungkan dengan kesalahan wasit Mansyur yang menganulir gol tandukan dari Silvio Rodrigues di menit 53.
Kala itu, Silvio sempat protes ke wasit Mansyur dan mempertanyakan kenapa golnya dianulir. Mansyur berdalih kalau sempat ada pelanggaran yang terjadi sebelum gol tercipta.
Namun, dari tayangan ulang, tarik menarik yang terjadi antara pemain Persebaya dan Madura United bersifat wajar, 50-50. Tak seharusnya itu dijadikan pelanggaran.