Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rasmus Hojlund Blak-blakan Tinggalkan MU, Sentil Ruben Amorim
Penyerang Napoli asal Denmark, Rasmus Hojlund, merayakan gol pembuka timnya dalam laga Serie A Italia melawan Hellas Verona di Stadion Bentegodi, Verona, Italia utara, 28 Februari 2026. (Foto: Piero Cruciatti/AFP)
  • Rasmus Hojlund mengungkap alasan meninggalkan Manchester United setelah dicoret Ruben Amorim dari skuad pembuka Premier League, yang membuatnya merasa tersisih dan kehilangan kepercayaan diri.
  • Setelah bergabung dengan Napoli, performa Hojlund meningkat signifikan dengan mencetak 14 gol dari 37 laga, menunjukkan kebangkitan mental dan produktivitasnya di bawah asuhan Antonio Conte.
  • Hojlund merasa lebih dihargai di Napoli karena dukungan penuh pelatih dan manajemen, yang memberinya ruang berkembang serta peluang masa depan cerah bersama klub Italia tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Rasmus Hojlund akhirnya buka suara soal alasan di balik kepergiannya dari Manchester United. Ia menggambarkan, fase itu sebuah titik terendah dalam perjalanan kariernya di sepak bola profesional.

Hojlund secara terbuka menyebut Ruben Amorim sebagai salah satu faktor utama yang mengubah arah kariernya. Keputusan Amorim mencoret namanya dari skuad laga pembuka Premier League melawan Arsenal menjadi momen yang tak pernah dilupakan.

1. Terpinggirkan dari skuad MU gara-gara Amorim

Sejak saat itu, situasinya di Old Trafford berubah drastis. Ia merasa tak lagi menjadi bagian dari rencana tim, meski datang dengan ekspektasi besar sebagai striker muda bernilai tinggi.

“Saya merasa seperti dimasukkan ke dalam kotak di akhir masa saya di Manchester,” ujar Hojlund dalam wawancaranya bersama TV2.

Tak ingin terus terjebak dalam situasi tersebut, ia memilih hengkang. Tawaran dari Napoli datang di saat yang tepat, memberinya kesempatan memulai kembali.

Keputusan itu terbukti tepat. Bersama Napoli, Hojlund kembali menemukan sentuhan terbaiknya. Di bawah asuhan Antonio Conte, ia tampil lebih tajam dan percaya diri di kompetisi Serie A.

2. Produktivitas Hojlun mendingkat tajam

Musim ini, Hojlund mencatatkan 14 gol dari 37 pertandingan, jumlah yang signifikan dibanding hanya 10 gol dari 52 laga pada musim terakhirnya bersama Manchester United. Statistik tersebut menjadi bukti nyata kebangkitannya.

Namun, bagi Hojlund, perubahan terbesar bukan hanya soal angka. Faktor mental menjadi kunci utama. Minimnya kepercayaan di MU sempat membuatnya kehilangan arah.

“Saya tahu tidak akan ada banyak kesempatan bermain untuk saya jika terus seperti ini,” katanya.

3. Napoli memberikan lingkungan yang suportif

Beda dengan pengalaman di MU, Napoli memberinya lingkungan yang lebih suportif. Ia merasa kembali dihargai sebagai pemain yang dibutuhkan, bukan sekadar proyek jangka panjang.

“Saya mendapatkan apa yang saya inginkan melalui transfer ini,” ujar Hojlund.

Kepercayaan penuh dari pelatih dan manajemen menjadi fondasi kebangkitannya.

“Saya mendapatkan tim yang sangat percaya pada saya. Sebuah klub, direktur olahraga, presiden, dan pelatih yang menginginkan saya,” bebernya.

Kini, masa depan Hojlund terlihat jauh lebih cerah. Napoli membuka peluang untuk mempermanenkan statusnya, terutama jika mereka berhasil mengamankan tiket ke Liga Champions musim depan.

Kisah ini menjadi cerminan kerasnya sepak bola level elite. Bakat saja tidak cukup, kepercayaan dan ruang berkembang menjadi faktor penentu. Dalam kasus Rasmus Hojlund, meninggalkan Manchester United bukan akhir, melainkan awal dari kebangkitan.

Editorial Team