Ketika mendengar salah satu korban kericuhan di antara suporter itu adalah bobotoh bernama Ricko, yang rupanya menjadi korban dari sesama bobotoh. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pun bergegas menjenguk kondisi Ricko yang saat itu dirawat dalam kondisi kritis di RS Santo Yusup, Bandung.
"Coba kamu-kamu, oknum bobotoh yang menyiksa Ricko, bobotoh Cicadas, yatim piatu pula saat Persib lawan Persija. Berani enggak gentle datang minta maaf? Dia saat ini kritis dengan luka-luka di sekujur tubuhnya di RS Santo Yusup" tulis Ridwan Kamil di Instagramnya, @ridwankamil, Senin (24/7).
"Jika hukum dunia tidak mendapatimu, semoga hukum Allah yang akan mengejarmu!" imbuhnya.
Kang Emil mengingatkan bahwa sepak bola itu tentang persatuan, tentang kejujuran, dan tentang fair play. Emosi negatif, provokasi anarki, bully, lempar botol, lempar flare, apapun alasan-alasannya tidak dibenarkan.
"Fanatisme sepak bola bukanlah ajang untuk pelampiasan emosi yang merusak, bukan ajang untuk permusuhan, bukan tempat untuk bunuh-bunuhan," kecam Emil.
"Mari fokus pada prestasi bukan pada anarki. Mari dewasa kayak El Clasico Spanyol: Aman, tertib. Bisa?" lanjutnya.
Emil lalu mengajak para followersnya untuk urung rembuk membantu biaya perawatan untuk Richo. "Sok lamun peduli geura #udunan (kalau peduli segera patungan)," kata Emil.
Akibat kejadian tersebut, Persib pun terancam denda. Padahal, sebelumnya Komisi Disiplin PSSI telah melayangkan denda Rp 150 juta kepada Persib akibat tindakan tidak terpuji dari oknum bobotoh saat Persib menjamu PSM Makassar. Sanski serupa terjadi saat laga tandang ke markas Madura United.