Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seamus Coleman yang Kembali Gagal Bawa Irlandia ke Piala Dunia
trofi Piala Dunia (unsplash.com/My Profit Tutor)
  • Seamus Coleman menjadi figur penting Timnas Irlandia sejak debut 2011, tampil konsisten di berbagai edisi kualifikasi Piala Dunia meski belum berhasil membawa negaranya lolos.
  • Perjuangan Coleman di Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022 selalu berakhir dengan kegagalan akibat persaingan ketat serta cedera yang sempat menghambat kontribusinya di lapangan.
  • Upaya terakhirnya menuju Piala Dunia 2026 kandas di babak play-off melawan Ceko lewat adu penalti, menegaskan dedikasi Coleman sebagai simbol loyalitas dan semangat juang Irlandia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Seamus Coleman layak dianggap sebagai salah satu legenda besar dalam sejarah Tim Nasional Irlandia. Dari jumlah penampilan, ia memang berjarak cukup jauh dari nama-nama besar seperti Robbie Keane dan John O’Shea. Namun, pengaruhnya sebagai seorang bek sayap sekaligus pemimpin di dalam tim membuatnya tetap memiliki tempat istimewa dalam perjalanan sepak bola Irlandia.

Sayangnya, kontribusi Coleman belum mampu membawa Irlandia kembali merasakan atmosfer Piala Dunia dalam beberapa edisi terakhir. Perjuangan panjang yang ia lalui bersama tim nasional kerap berakhir dengan kekecewaan, termasuk dalam upaya terbaru yang kembali menemui jalan buntu pada 2026. Hal ini menjadi ironi tersendiri, mengingat peran besarnya di dalam skuad. Lantas, bagaimana perjalanan Coleman dalam upayanya mengantar Irlandia ke Piala Dunia?

1. Seamus Coleman menjadi andalan Irlandia ketika gagal ke Piala Dunia 2014

Seamus Coleman melakoni debut bersama Timnas Irlandia saat berusia 22 tahun pada 8 Februari 2011. Kualitas apik sebagai seorang penggawa muda membuatnya dipercaya sebagai andalan Irlandia dalam perjuangan lolos ke Piala Dunia 2014. Coleman dimainkan selama 90 menit dalam 9 laga berbeda selama fase kualifikasi. Ia menjawab kepercayaan pelatih dengan menyumbang sebuah assist dalam kemenangan telak 3-0 atas Kepulauan Faroe.

Namun, kehadiran Coleman tak cukup untuk membawa Irlandia meraih satu tempat di Piala Dunia 2014. Berada di grup C pada fase kualifikasi, mereka harus puas finis di peringkat 4 dengan torehan 14 poin dari 10 laga. Dari grup tersebut, hanya Jerman yang pada akhirnya tampil di putaran final Piala Dunia 2014 usai finis sebagai pemuncak klasemen. Sementara itu, Swedia yang sempat finis di bawah Jerman tersingkir pada fase lanjutan kualifikasi.

2. Seamus Coleman tak bisa berbuat banyak ketika Irlandia gagal lolos ke Piala Dunia 2018

Seamus Coleman kembali dipercaya sebagai salah satu pilar penting Irlandia dalam upaya meraih satu tempat di putaran final Piala Dunia 2018. Sayangnya, kali ini ia tak mampu memberikan kontribusi maksimal. Setelah melakoni 5 penampilan dengan 4 di antaranya sebagai kapten tim, ia harus rela melihat posisinya diisi pemain lain karena harus menepi akibat cedera. Sebelum cedera, Coleman memberikan kontribusi berupa 1 gol dan 1 assist. Gol itu menjadi penentu kemenangan atas Georgia.

Pada edisi kali ini, Bulgaria tak layak tampil di putaran final Piala Dunia karena finis di peringkat 4 grup A fase kualifikasi. Mereka hanya mampu mengumpulkan 13 poin, terpaut 10 poin dari Prancis yang lolos secara otomatis karena finis di puncak klasemen. Sementara itu, Swedia yang finis di bawah Prancis juga berangkat ke Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 setelah unggul atas Italia pada fase lanjutan kualifikasi.

3. Irlandia kalah bersaing dengan Serbia dan Portugal di Kualifikasi Piala Dunia 2022

Kesempatan Seamus Coleman untuk membawa Irlandia unjuk gigi di Piala Dunia kembali datang ketika negaranya menjalani serangkaian laga pada fase kualifikasi selama 2021. Kali ini, ia bermain dalam 6 dari total 8 laga yang dimainkan timnya, dengan memainkan peran penting sebagai kapten tim sekaligus sosok serbabisa yang dipercaya pelatih bermain di beberapa posisi berbeda. Ia sempat absen dalam dua laga beruntun, ketika imbang 1-1 dengan Serbia dan menang telak atas Azerbaijan.

Lagi-lagi, perjuangan Coleman dan rekan setimnya yang kali ini berada di grup A kembali tak berakhir dengan hasil memuaskan. Tiket lolos secara otomatis ke Piala Dunia 2022 didapat Serbia yang tampil mengejutkan dengan finis sebagai pemuncak klasemen. Sementara itu, Portugal juga lolos usai finis di bawah Serbia dan menyingkirkan Makedonia Utara dan Turki pada fase berikutnya.

4. Kesempatan terakhir Seamus Coleman untuk tampil bersama Irlandia di Piala Dunia gagal pada 2026

Piala Dunia 2026 mungkin bisa menjadi perpisahan indah bagi Seamus Coleman di Timnas Irlandia mengingat usianya telah mendekati 40 tahun. Sayangnya, usaha pemain berpostur 1,77 meter itu untuk membawa negaranya merebut satu tempat di putaran final kembali menemui jalan buntu. Padahal, peluang Coleman dan rekan setimnya kali ini cukup terbuka usai lolos ke fase play-off kualifikasi. Coleman sendiri mencatatkan 4 dari total 6 laga di fase grup dan bermain selama 96 menit ketika Irlandia kalah di fase play-off.

Berada di grup F dengan Portugal, Hungaria, dan Armenia, Irlandia finis di peringkat 2, di bawah Portugal, dan layak tampil di fase play-off. Ambisi mereka untuk mendapat satu tempat di Piala Dunia 2026 terbukti dengan perlawanan ketat terhadap Ceko di Fortuna Arena pada 26 Maret 2026. Sayangnya, Irlandia harus kalah lewat adu penalti usai skor imbang 2-2 bertahan hingga waktu normal berakhir. Dari 5 eksekutor Irlandia, 2 di antaranya gagal melakukan tugasnya. Sementara itu, hanya ada 1 eksekutor Ceko yang tak mampu menjebol gawang Irlandia.

Seamus Coleman telah memberikan segalanya demi mampu membawa Irlandia tampil di Piala Dunia. Ia terus menunjukkan dedikasi tinggi, baik sebagai pemain bertahan yang konsisten maupun sebagai pemimpin di dalam dan luar lapangan. Meski impian tampil di panggung sepak bola terbesar dunia belum pernah terwujud, kontribusinya tetap meninggalkan jejak yang mendalam bagi tim nasional. Pada akhirnya, kegagalan tersebut tidak menghapus statusnya sebagai salah satu sosok penting dalam perjalanan sepak bola Irlandia. Statusnya pun kini cukup layak untuk menyandang simbol loyalitas dan perjuangan tanpa henti bagi publik Irlandia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team